Posts filed under 'Status Gizi Masyarakat'
LAPORAN PROGRAM GIZI MASYARAKAT KASUS GIZI BURUK
Pembangunan sektor kesehatan bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, yang mana derajat kesehatan di pengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan kependudukan. Program perbaikan gizi mengacu pada 4 masalah gizi utama yang ada di Indonesia umumnya masalah di dominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP) / Gizi Buruk, Anemia, Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) dan Kekurangan Vitamin A (KVA). Pertumbuhan seorang anak bukan hanya sekedar gambaran perubahan Berat Badan (BB), Tinggi Badan (TB) atau ukuran tubuh lainnya, tetapi lebih dari itu memberikan gambaran tentang keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi seorang anak yang sedang dalam proses tumbuh. Gagal tumbuh (Growth Faltering) merupakan suatu kejadian yang ditemui pada hampir setiap anak di Indonesia. Anak Indonesia rata-rata lahir dengan berat dan panjang badan normal. Kegagalan pertumbuhan yang nyata biasanya mulai terlihat pada usia 4 bulan yang berlanjut sampai usia 2 tahun. Gizi buruk merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian serius. Pada Tahun 2000 diperkirakan 25% anak Indonesia mengalami gizi kurang, 7% diantaranya gizi buruk. Dari hasil pemantauan menggunakan KMS di Posyandu dan Pelacakan Puskesmas, di Kabupaten Lampung Selatan, pada tahun 2005 terdapat 39 kasus gizi buruk dan dua kejadian meninggal akibat gizi buruk. Tahun 2006 terdapat 51 kasus, tahun 2007 terdapat 27 kasus, dan tahun 2008 terdapat 12 kasus gizi buruk. Data kasus gizi buruk dan kejadian meninggal akibat gizi buruk di Kabupaten Lampung Selatan sejak tahun 2005 – 2008 disajikan dalam bentuk tabel dan diagram sebagai berikut : Tabel 1. Data kasus gizi buruk dan kejadian meninggal di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2005


Dari hasil pemantauan menggunakan KMS di Posyandu dan Pelacakan Puskesmas, pada tahun 2005 terdapat 39 kasus gizi buruk dan dua kejadian meninggal akibat gizi buruk di Kabupaten Lampung Selatan. Angka kejadian gizi buruk tertinggi terdapat di puskesmas Bangun Rejo sejumlah delapan kasus. Sedangkan angka kejadian meninggal akibat gizi buruk terdapat di puskesmas Hanura dan Penengahan sejumlah masing-masing satu kejadian. , tahun 2006 terdapat 51 kasus, tahun 2007 terdapat 27 kasus, dan tahun 2008 terdapat 12 kasus gizi buruk.
Tabel 2. Data kasus gizi buruk dan kejadian meninggal di Kabupaten
Lampung Selatan Tahun 2006

Dari hasil pemantauan menggunakan KMS di Posyandu dan Pelacakan Puskesmas, pada tahun 2006 terdapat 51 kasus gizi buruk dan satu kejadian meninggal akibat gizi buruk di Kabupaten Lampung Selatan. Angka kejadian gizi buruk tertinggi terdapat di puskesmas Bangun Rejo dan Kalirejo sejumlah masing-masing 12 kasus. Sedangkan angka kejadian meninggal akibat gizi buruk terdapat di puskesmas Padang Cermin sebanyak satu kasus.

Dari hasil pemantauan menggunakan KMS di Posyandu dan Pelacakan Puskesmas, pada tahun 2007 terdapat 27 kasus gizi buruk dan dua kejadian meninggal akibat gizi buruk di Kabupaten Lampung Selatan. Angka kejadian gizi buruk tertinggi terdapat di puskesmas Natar, Tanjung Agung dan Hajimena sebanyak masing-masing lima kasus. Sedangkan angka kejadian meninggal akibat gizi buruk terdapat di puskesmas Karang Anyar dan Hanura sejumlah masing-masing satu kasus.

Dari hasil pemantauan menggunakan KMS di Posyandu dan Pelacakan Puskesmas, pada tahun 2008 terdapat 12 kasus gizi buruk dan dua kejadian meninggal akibat gizi buruk di Kabupaten Lampung Selatan. Angka kejadian gizi buruk tertinggi terdapat di puskesmas Bangun Rejo sejumlah empat kasus. Sedangkan angka kejadian meninggal akibat gizi buruk terdapat di puskesmas Bangun Rejo dan Sidoharjo sejumlah masing-masing satu kasus.

Gambar Gizi Buruk Tahun 2009
UPAYA – UPAYA PENANGGULANGAN GIZI BURUK
DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
- Melaksanakan Validasi Kasus gizi buruk ke penderita gizi buruk
- Melaksanakan rujukan kasus dari Puskesmas ke Rumah Sakit dengan menggunakan dana Jamkesmas bagi keluarga miskin
- Pemberdayaan keluarga kasus gizi buruk.
- Pemberian makanan tambahan selama 3 bulan kepada penderita gizi buruk melalui dana APBD.
- Monitoring kasus gizi buruk secara rutin .
HAMBATAN DAN MASALAH
1.Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Keluaga Sadar Gizi {Kadarzi}
2.Kurangnya penyuluhan tentang pola asuh anak yang baik dan benar
3.Rendahnya prilaku masyarakat terhadap maakanan yang bergizi.
4.Kecendrungan penderita gizi buruk yang sembuh akan kambuh kembali.
5.Masih banyak masyarkat yang belum memanfaatkan posyandu.
1 comment April 28, 2009
Perbaikan Gizi Masyarakat
a. Persentase Cakupan Balita dapat Vit.A 2 kali / tahun
Di Kabupaten Lampung Selatan tercatat cakupan bayi, balita yang mendapat pelayanan kesehatan yaitu pemberian Vitamin A 2 kali telah mencapai 77,56% (tabel 16). Angka ini belum mencapai target kabupaten tahun 2007 yaitu 85%.
Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada bayi umur 6-11 bulan dan pada anak umur 12-59 bulan sebanyak 2 kali setahun yaitu di bulan februari dan agustus.
Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita merupakan program rutin Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan yang manfaatnya adalah untuk kesehatan mata dan sebagai suplemen gizi untuk daya tahan tubuh bayi dan balita.
Pada kasus kejadian luar biasa misalnya kejadian kasus gizi buruk (marasmus, kwashiorkor dan marasmic kwashiorkor), campak, pneumonia, diare dan infeksi lainnya, kepada seluruh balita di wilayah tersebut diberikan satu kapsul vitamin A dengan dosis sesuai umur.
b. Persentase Cakupan Bumil dapat 90 Tablet Fe dan Imunisasi TT1 dan TT2
Di Kabupaten Lampung Selatan tercatat cakupan bumil yang mendapat pelayanan kesehatan yaitu pemberian 90 butir tablet besi/ Fe telah mencapai 60,65% (tabel 25). Sementara untuk bumil yang telah mendapatkan imunisasi TT1 dan TT2 telah mencapai 81,38%, namun angka ini masing-masing belum memenuhi target kabupaten tahun 2007 yaitu 85% (table 25).
Pemberian 90 butir tablet besi pada bumil bermanfaat untuk menghindari anemia gizi besi yang sering terjadi di masa kehamilan. Dengan kandungan 2 senyawa yaitu 200 mg ferosus (setara dengan 60 mg besi elemental) dan 0,25 Asam folat yang sangat berfungsi memberikan suplai kebutuhan mineral Fe dan juga untuk membantu proses metabolisme tubuh selama masa kehamilan.
c. Persentase Cakupan Pemberian MP-ASI pada BGM dan Gakin
Di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, Dinas Kesehatan khususnya Program Gizi Kesehatan Masyarakat mencatat bahwa terdapat 2.261 bayi yang masuk kategori BGM gakin, dimana seluruhnya telah mendapatkan pelayanan kesehatan MP-ASI 100% (table 24). Angka ini telah mencapai target kabupaten tahun 2007 yaitu 100%.
Intervensi Pemberian Makan Pendamping ASI ini dilakukan selama 90 hari dengan porsi 100 gr/ hari. Program ini juga merupakan program rutin Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan.
d. Persentase Balita Gizi Buruk Dapat Perawatan
Untuk balita berstatus gizi buruk, Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 khususnya Program Gizi Kesehatan Masyarakat mencatat bahwa terdapat 27 bayi yang masuk kategori gizi buruk (table 24) tersebar di 9 kecamatan. Distribusi kasus gizi buruk tertinggi terdapat di kecamatan Natar sebanyak 10 orang, dan kecamatan Ketibung sebanyak 5 orang. Seluruh bayi gizi buruk ini telah 100% mendapatkan perawatan sesuai standar dan prosedur yang ada.
Gizi buruk adalah suatu keadaan kekurangan zat-zat gizi sampai dengan taraf akut yang menyebabkan seseorang menjadi rentan terhadap infeksi dan serangan penyakit. Keadaan yang berlarut- larut akan menyebabkan komplikasi dan dapat menyebabkan kematian.
1 comment Juni 19, 2008













