Posts filed under 'Situasi Upaya Kesehatan'
Pelayanan Gakin (JAMKESMAS)
Di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sejumlah 47,67% penduduk Lampung Selatan masuk kriteria gakin (639.432 jiwa). Dengan angka kunjungan mencapai 95,62% (tabel 37), jumlah KK miskin yang telah menjadi peserta JAMKESMAS tahun 2007 adalah 611.043 KK.
Pelayanan JAMKESMAS diselenggarakan berdasarkan UUD 1945 Pasal 28 dan UU Nomor 23/ 1992 tentang Kesehatan bahwa setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya dan negara bertanggung jawab mengatur agar terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.
Penyelenggaraan JAMKESMAS secara bertujuan meningkatkan akses dan mutu yankes terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efesien.
Pelayanan JAMKESMAS yang diberikan antara lain pelayanan kesehatan rawat jalan dan rawat inap, serta rujukan rawat jalan maupun rawat inap tingkat lanjutan dan pelayanan kegawatdaruratan.
Add comment Juni 19, 2008
Pelayanan Pra Usila dan Usila
Di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, Dinas Kesehatan khususnya Program Gizi Kesehatan Masyarakat, memberikan data sebanyak 89.215 penduduk adalah termasuk prausila (45-59 tahun), dari jumlah tersebut 39,25% berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan dan mendapatkan pelayanan kesehatan. Untuk kriteria usila (+ 60 tahun) sebanyak 24.011 (27,22%) dari 88.214 orang usila yang ada.
Pelayanan kesehatan yang diberikan antara lain pelayanan pengobatan dan pemberian vitamin-vitamin dan senam lansia.
Add comment Juni 19, 2008
Pembinaan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar
a. Penyehatan Air
Secara umum Program Penyehatan Air bertujuan untuk meningkatkan kualitas air untuk berbagai kebutuhan dan kehidupan manusia untuk seluruh penduduk baik yang berada di pedesaan maupun di perkotaan dan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam memakai air. Secara khusus program penyehatan air bertujuan meningkatkan cakupan air bersih pada masyarakat dan meningkatkan kualitas air yang aman untuk konsumsi masyarakat.
Kegiatan upaya penyehatan air meliputi : Surveilans kualitas air; Inspeksi Sanitasi Sarana Air Bersih; Pemeriksaan kualitas air; Pembinaan kelompok pemakai air. Kegiatan dilaksanakan dengan strategi terpadu pengawasan, perbaikan dan pembinaan pemakai air.
Target Program Penyehatan Air yang ingin dicapai yaitu :
1. Cakupan air bersih perkotaan 100% dan pedesaan 85%.
2. Memenuhi syarat kimia dan bakteriologis 70%
Kegiatan surveylance kualitas air terdiri dari observasi SAB dan observasi pendduduk yang menggunakan SAB dan bukan SAB. Dari kegiatan tersebut di dapat cakupan SAB terendah ada di wilayah puskesmas Kota Dalam yaitu 25,4% dan tertinggi ada di wilayah puskesmas Bangun Rejo yaitu 92,3%, Rata- rata adalah 66%. Untuk data cakupan SAB seluruh puskesmas wilayah Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, disajikan dalam tabel di bawah ini.
GRAFIK 49
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP
Kegiatan pengawasan kualitas air secara umum bertujuan mengetahui gambaran keadaan sanitasi sarana dan kualitas air sebagai data dasar dan penyediaan informasi pengamanan kualitas air sehingga tersedia rekomendasi tindak lanjut dalam upaya perlindungan pencemaran dan perbaikan kualitas air.Pengawasan kualitas air dilakukan dengan upaya Inspeksi sanitasi sarana air bersih. Hasil dari Inspeksi SAB menunjukkan tingkat risiko pencemaran sebagai berikut :
Tabel 16
TINGKAT RISIKO PENCEMARAN SARANA AIR BERSIH
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2007
Sumber : Evaluasi Program P2PLP
Persentase hasil pemeriksaan kualitas air bersih tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan sebagai berikut : yang memenuhi syarat sebesar 88,5% dan tidak memenuhi syarat 11,5%. Kualitas bakteriologis air bersih yang memenuhi syarat hanya 18,4% masih dibawah target kualitas bakteriologis sebesar 70%.
Berdasarkan hasil pemeriksaan kualitas air direkomendasikan untuk melakukan upaya perbaikan kualitas yang meliputi perbaikan pada parameter kekeruhan, besi, mangan, dan koliform.
b. Penyehatan Lingkungan Pemukiman
Penyelenggaraan upaya penyehatan lingkungan permukiman, dilaksanakan dengan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup serasi dengan lingkungan dan dapat mewujudkan kualitas lingkungan permukiman yang bebas dari risiko yang membahayakan kesehatan pada berbagai substansi dan komponen lingkungan, yaitu meliputi jamban keluarga, saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan pengelolaan sampah.
Hasil Evaluasi Program Kesehatan Lingkungan tahun 2007 menyatakan persentase sehat untuk rumah mencapai 62,8% ; Jamban 58,2% ; SPAL 49,8%.
GRAFIK 51
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP
Pada tabel dan grafik diatas menunjukkan bahwa keluarga yang menempati rumah sehat rerata tingkat Kabupaten sebesar 62,8%, keluarga memiliki jamban sehat rerata 58,2%, dan rumah yang memiliki SPAL sehat rerata 49,8%.
Pada lampiran kegiatan pengawasan perumahan. Persentase rumah sehat tertinggi terdapat di Puskesmas Banjar Agung sebesar 99 % dan terendah di Puskesmas Tanjung Bintang sebesar 25 %. Persentase jamban sehat tertinggi terdapat di Puskesmas Padang Cermin dan terendah di Puskesmas Bakauheni, untuk rerata kabupaten 58,2%. Persentase rumah yang memiliki SPAL baru 15,5%, yang memenuhi syarat 49,5%. SPAL sehat tertinggi terdapat di Puskesmas Talang Jawa dan terendah di Puskesmas Trimulyo.
c. Penyehatan Tempat -Tempat Umum (TTU)
Program Penyehatan Tempat-Tempat Umum bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan tenpat-tempat umum dan sarana kemasyarakatan lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan, sehingga dapat melindungi masyarakat dari penularan penyakit, keracunan, kecelakaan, pencemaran lingkungan serta gangguan kesehatan lainnya.
Penyehatan Tempat-Tempat Umum meliputi hotel dan tempat penginapan lain, pasar, kolam renang dan pemandian umum lain, sarana ibadah, sarana angkutan umum, salon kecantikan, bar dan tempat hiburan lainnya. Selain itu juga dilakukan upaya pembinanan institusi yang meliputi : Rumah Sakit dan sarana kesehatan lain, sarana pendidikan, dan perkantoran.
Target Program Penyehatan Tempat-Tempat Umum yaitu: memenuhi syarat kesehatan 80% dan Institusi terbina 60%
Sarana kesehatan di Lampung Selatan sejumlah 301 buah, terdiri dari rumah sakit, puskesmas, peskesmas pembantu, dan sara kesehatan lainnya. Sarana penddikan meliputi sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menegah umum sejumlah 1.456 telah dilakukan pembinaan sebanyak 798 (50%). Target belum tercapai secara maksimal dikarenakan banyaknya sarana pendidikan, sedangkan petugas sanitasi tidak pernah bertambah yang berakibat pada terlalu berat tugas sanitarian di wilayah puskesmas. sarana institusi perkantoran sebanyak 328 telah dilakukan pembinaan kesehatan lingkungan sebanyak 274 (75%), sarana institusi lainnya yaitu pondok pesantren. Sarana ini sejumlah 29 telah dibina sejumlah 23 (87%). Secara akumulasi sarana institusi sejumlah 2.126 yang telah dibina sejumlah 1.347 sebesar 59% target belum terlampaui.
d. Penyehatan Tempat Pengelola Makanan (TPM)
Secara umum penyehatan TPM bertujuan untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan terhadap tempat penyehatan makanan & minuman, kesiapsiagaan dan penanggulangan KLB keracunan, kewaspadaan dini serta penyakit bawaan makanan.
Target program TPM memenuhi syarat sehat sebesar 75 % dengan upaya kegiatan antara lain melaksanakan pengawasan higiene dan sanitasi TPM pada restoran, rumah makan, jasa boga, industri rumah tangga, dan depot air minum isi ulang.
Rumah makan di Lampung Selatan Tahun 2007 sejumlah 277 diawasi atau dperiksa kesehatan lingkungan meliputi higien dan sanitasi sejumlah 160 unit, dengan hasil rumah makan yang memenuhi sayart sehat dengan indikator skor 70% sejumlah123 atau sekitar 71%. Keterkaitan dengan target sebesar 72,5%.
e. Klinik Sanitasi
Secara umum klinik sanitasi bertujuan untuk meningkatmya derajat kesehatan masyarakat melalui upaya preventif, kuratif dan promotif yang dilakukan secara terpadu, terarah dan terus menerus di puskesmas.
Pelayanan klinik sanitasi dimaksudkan untuk mencegah, memulihkan dan memperbaiki lingkungan guna menurunkan angka penyakit berbasis lingkungan meliputi malaria, DBD, campak, TB paru, ISPA, kecacingan, penyakit kulit/gatal-gatal, diare, keracunan makanan dan keluhan akibat lingkungan buruk/ akibat kerja. Klinik sanitasi perlu diwujudkan dan dikembangkan di puskesmas.
Target
1. Lingkungan sehat
a. KK penghuni rumah sehat 90%
b. Memiliki persadiaan air bersih 94%
c. Memiliki jamban sehat 86%
d. Angka bebas jentik nyamuk 90%
2. Perilaku sehat
a. Olah raga teratur 50%
b. Tidak merokok 90%
c. Perilaku hidup bersih dan sehat 50%
Terjadi peningkatan pelayanan klinik sanitasi di jumlah puskesmas. Kegiatan klinik sanitasi pada tahun 2006 dilaksanakan oleh 10 puskesmas meningkat pada tahun 2007 menjadi 11 puskesmas.
5 comments Juni 19, 2008
Upaya Pelayanan Keluarga Berencana
Berdasarkan data dari Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Keluarga Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, jumlah pasangan usia subur (PUS) sebanyak 240.891 yang tersebar di 20 kecamatan. Dari jumlah tersebut 17,29% adalah merupakan peserta KB baru dan 72,45% merupakan peserta KB aktif (peserta KB aktif adalah juga peserta KB baru)
GRAFIK 32
PERSENTASE PESERTA KB BARU & KB AKTIF MENURUT JENIS KONTRASEPSI
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
Sumber : BKB DPK Kab. Lampung Selatan Tahun 2007
Dari tampilan grafik tersebut di atas, diketahui jenis kontrasepsi yang paling banyak dipergunakan oleh Pasangan Usia Subur di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 adalah jenis kontrasepsi suntik, kemudian pil dan implant
Add comment Juni 18, 2008
Upaya Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Penunjang
1. Bumil Risti yang Di Rujuk ( Target SPM = 80 % )
Berdasarkan data Seksi Kesga Dinas Kesehatan Hasil cakupan bumil risiko tinggi yang dirujuk ke rumah sakit di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 adalah sebanyak 755 bumil dari 951 bumil risti yang ada (79,39%).
Angka ini menurun dari tahun sebelumnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut ini:
GRAFIK 30
PERSENTASE BUMIL RISTI DIRUJUK KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2005-2007
Sumber : Sie Kesga Tahun 2007
Data diatas memperlihatkan bahwa cakupan bumil risti yang dirujuk di Kabupaten Lampung Selatan dari tahun 2005 – 2007 berfluktuatif dan pada tahun 2007 cakupan hampir memenuhi target.
Penanganan pelayanan rujukan bagi bumil risti adalah pemberian pelayanan dan perawatan dengan fasilitas ANC sesuai standar dan sarana dengan kriteria PONED. Sarana yang melayani rujukan bisa puskesmas PONED juga rumah sakit PONED. Selain itu juga diberikan pelayanan ANC pada bumil gakin menggunakan dana JAMKESMAS.
- Neonatal Risti Yang di Rujuk
Sejumlah 5.999 neonatal yang ada di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 (tabel 27), 202 neonatus masuk kategori risti dan 68,81% mendapatkan pelayanan rujukan ke sarana kesehatan (139 neonatus).
GRAFIK 31
PERBANDINGAN JUMLAH NEONATAL DAN NEONATAL DIRUJUK
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007
Sumber : Sie Kesga Tahun 2007
Penanganan pelayanan rujukan bagi neonatal risti adalah pemberian pelayanan dan perawatan dengan fasilitas ANC sesuai standar dan sarana dengan kriteria PONED. Sarana yang melayani rujukan bisa puskesmas PONED juga rumah sakit PONED. Selain itu juga diberikan pelayanan ANC pada bumil dan neonatal gakin dengan menggunakan dana JAMKESMAS.
Add comment Juni 13, 2008
Upaya Pelayanan Kesehatan Dasar
1. Kunjungan K.1 dan K. 4
Persentase kunjungan K1 dan K4 dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami fluktuasi, dapat dilihat pada tabel berikut ini :
GRAFIK 20
TREND PERSENTASE K1 DAN K4 KAB. LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2003 – 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
Sedangkan untuk target dan angka DO kunjungan K1 dan K4 selama 5 tahun terakhir adalah sebagai berikut.
Tabel 9
Cakupan K1 dan K4 Kabupaten Lampung Selatan
tahun 2003 s/d 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
Data memperlihatkan bahwa angka cakupan K4 Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2007 masih dibawah target. Terdapat 21 puskesmas yang cakupan K4 nya masih dibawah target. Hal ini disebabkan ada beberapa Puskesmas yang belum menyampaikan laporan secara lengkap. Cakupan K4 dibawah target menunjukkan kualitas layanan ANC belum memadai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini :
GRAFIK 21
PROSENTASE HASIL CAKUPAN K4 KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
Tahun 2007 cakupan K.4 yang terendah di Puskesmas Tanjung Agung 37,49%, Puskesmas Way Muli 51,76 %, Puskesmas Bernung 60,66%, Puskesmas Penengahan 61,97%, Puskesmas Hanura 66,33%, Bandar Agung 70,27 % dan Puskesmas Bangun rejo 73,19% (tabel 17).
- Kunjungan Neonatal ( KN.1 – KN.2 )
Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko paling tinggi mengalami gangguan kesehatan.Upaya kesehatan yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pemberian pelayanan kesehatan minimal 2 kali pada masa neonatus (0-28 hari), yaitu 1 kali pada umur 0-7 hari dan 1 kali pada umur 8-28 hari. Dalam memberikan pelayanan kesehatan seyogyanya petugas kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan bayi dan juga konseling perawatan bayi kepada ibu. Adapun persentase kunjungan neonatal di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 terlihat sebagai berikut.
GRAFIK 22
PERSENTASE KN1 DAN KN2 KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
Tabel 10
CAKUPAN PROGRAM KN.1 DAN KN.2
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2002 S/D 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
Data memperlihatkan bahwa angka cakupan Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 baik KN1 maupun KN2 belum memenuhi target. Beberapa puskesmas ada yang telah mencapai target KN1 yaitu 10 Puskesmas dan KN2 9 puskesmas.
GRAFIK 23
TREND PERSENTASE KN1 DAN KN2 KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2003-2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
Dari tabel diatas tampak bahwa kunjungan selama 5 tahun terakhir mengalami variasi. Pada tahun 2005 hasil cakupan KN sebesar 90%. sedangkan pada tahun 2006 mengalami peningkatan yaitu sebesar 93%. Akan tetapi pada tahun 2007 mengalami penurunan yaitu 82,01% (tabel 15).
Bila dilihat dari tingginya angka kematian pada masa neonatus akibat asfixia, dihubungkan dengan terjadinya penurunan pencapaian kunjungan neonatus di tahun 2007 dari tahun sebelumnya, maka upaya meningkatkan cakupan kunjungan neonatus harus lebih dimaksimalkan lagi misalnya pelayanan kesehatan dan konseling pada neonatus baik oleh petugas kesehatan maupun oleh kader kesehatan di posyandu, kunjungan rumah maupun dari program imunisasi.
GRAFIK 24
DISTRIBUSI PERSENTASE KN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
- Pertolongan Persalinan Oleh Nakes
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2001 s/d 2007 cenderung meningkat, tahun 2001 sebesar 49% (16.321) kemudian pada tahun 2002 sebesar 81,5% (16.440) ,tahun 2003 sebesar 81,59% (24.836), tahun 2004 sebesar 87,% (18.549) ,tahun 2005 sebesar 82% (22.426); tahun 2006 sebesar 82,07% (24.608) dan pada tahun 2007 sebesar 72,94% (23.517) dengan persentase menurut penolong persalinan sebagai berikut :
Tabel 11
Persentase Penolong Persalinan
Di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2001 s/d 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
Dari tabel diatas terlihat bahwa hasil cakupan linakes di Kabupaten Lampung Selatan dari tahun 2002 – 2007 ada kecenderungan menurun dan hasil cakupan Linakes tahun 2007 dibawah target.
GRAFIK 25
TREND PERSENTASE PERSALINAN NAKES
DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2003 – 2007
Sumber : Evaluasi Program Subdin Yankes 2007
Pada tahun 2007 terdapat 25 (78,13%) puskesmas yang cakupan Linakesnya masih dibawah target (<86%). dan sebanyak 17 puskesmas (53,13%) puskesmas yang cakupan persalinan dukunnya diatas 10%. Hal ini dapat disebabkan karena beberapa kemungkinan misalnya faktor distribusi tenaga kesehatan yang kurang merata, faktor ekonomi, kurangnya sosialisasi dan kemitraan bidan dan dukun. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terendah di Puskesmas Way Muli 62% dan Puskesmas Bandar Agung 64%. Untuk lebih jelasnya cakupan pertolongan persalinan oleh nakes dan dukun dapat dilihat pada tabel berikut ini :
GRAFIK 26
DISTRIBUSI PERSENTASE PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN
DAN PERSALINAN OLEH DUKUN
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
1. Cakupan Bumil Risiko Tinggi yang ditangani
Data Tahun 2007 mencatat, dari 33.779 sasaran ibu hamil yang ada, 951 orang tercatat mengalami/ komplikasi atau sekitar 0,03% (tabel 27) dan yang mendapat penanganan sejumlah 458 (0,48%).
Risiko/ komplikasi ibu hamil berarti keadaan penyimpangan dari keadaan yang normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Keadaan ini meliputi : Hb < 8 g%, tekanan darah tinggi (systole >140 mmHg, diastole > 90mmHg, oedema nyata, ekslampsia, perdarahan pervaginam, ketuban pecah dini, letak lintang pada usia kehamilan >32 minggu, letak sungsang, infeksi berat dan persalinan premature.
Bersumber data dari subdin pelayanan kesehatan bahwa angka cakupan bumil risiko tinggi yang di tangani di Kabupaten Lampung Selatan dari tahun 2004 – 2007 masih sangat jauh dari target, hal ini dapat disebabkan kurangnya pemahaman terhadap definisi operasional dari bumil resti ditangani atau kurangnya pengetahuan nakes dalam deteksi bumil resti sehingga bumil resti yang ada tidak ditangani. Beberapa Puskesmas yang hasil cakupannya telah mencapai target kabupaten (85%) antara lain : Puskesmas Bakauheni, Puskesmas Way Muli dan Puskesmas Talang Jawa (tabel 27).
Upaya penanganan meliputi penanganan standar oleh tenaga kesehatan yang terlatih di Puskesmas Perawatan maupun Rumah Sakit pemerintah maupun swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK (Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar / Komprehensif). Bersumber data daro PMI /Unit transfusi darah Cabang Lampung Selatan, dari jumlah bumil dan bayi yang membutuhkan darah, Persentase akses ketersediaan darah untuk bumil dan neonatus yang dirujuk telah mencapai 100% (table 26).
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut ini :
GRAFIK 27
PERSENTASE BUMIL RISTI DITANGANI
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2004-2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
1. Cakupan Kunjungan Neonatus (86%)
Tahun 2007 sebanyak 25.295 neonatus melakukan kunjungan dari 30.708 neonatus yang ada (82,37%). Jumlah ini meningkat dari tahun lalu (2006) yaitu 60,34% dan telah memenuhi target.
Masa neonatus (1-28 hari) adalah masa yang paling rawan terjadinya gangguan kesehatan sehingga diperlukan upaya penanganan khusus terhadap bayi juga konseling bagi para ibu untuk melakukan perawatan terhadap bayinya. Antara lain pemberian imunisasi TT1 dan TT2 bagi WUS dan ibu hamil, perawatan tali pusat, pemberian obat mata untuk menghindari infeksi pada neonatus, cara pemberian ASI bagi neonatus khususnya pada bayi premature dan lain-lain.
Penyediaan layanan informasi dan pelayanan dapat diberikan pada para bumil maupun busui dengan cara memotivasi ibu untuk berkunjung ke sarana kesehatan.
2. Neonatus Risiko Tinggi Ditangani (80%)
Tercatat sebanyak 202 neonatus risti (0,03%) dari 5.999 neonatus yang ada di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2007. Dari jumlah tersebut telah 100% mendapat penanganan. Angka ini telah memenuhi target kabupaten sebesar 80%.
Hasil cakupan neonatus ditangani dari tahun 2004 s/d Tahun 2007 sebagai berikut :
GRAFIK 28.1
PERSENTASE NEONATUS RISTI DITANGANI
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2004-2007
Sumber : Sie Kesga tahun 2007
Penanganan neonatus risiko tinggi yang dapat dilakukan antara lain pemantauan kesehatan dan cara memberikan ASI pada bayi premature, perawatan khusus dalam incubator dan pelayanan kesehatan sesuai standar PONED dan APN.
1. Cakupan Kunjungan Bayi
Tahun 2007, data kunjungan bayi di Kabupaten Lampung Selatan yaitu sebanyak 28.950 kunjungan dari 30.708 sasaran bayi (82,37%). Angka ini masih dibawah target kabupaten sebesar 84%.
Dalam rangka pemenuhan target tersebut, upaya yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan adalah meningkatkan pelayanan kesehatan sesuai standar di puskesmas maupun posyandu dan sarana kesehatan lainnya. Misalnya pelayanan dan informasi setelah habis masa imunisasi, sosialisasi kader terhadap kesadaran ibu yang memiliki bayi untuk tetap mengunjungi posyandu guna menjaga kesehatan bayi dan balitanya, penyuluhan kadarzi bagi keluarga, dan penimbangan berat badan bagi bayi dan balita dengan mengggunkan KMS.
2. Cakupan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di tangani
Hasil Cakupan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) yang ditangani di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 yaitu 98,04% (table 15). Angka ini telah memenuhi target kabupaten yaitu 80%.
Dari sejumlah 27.396 bayi lahir, sebanyak 204 bayi masuk kategori BBLR dan 200 bayi mendapat penanganan.
Penanganan terhadap BBLR meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, dan pemberian imunisasi), pemberian vitamin K, manajemen terpadu bayi muda, penanganan penyulit persalinan/ komplikasi pada BBLR dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah dengan menggunakan buku KIA.
Upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan khususnya subdin Pelayanan Kesehatan dalam rangka menekan angka BBLR ini antara lain pemberian makanan tambahan bumil, pengadaan penyelenggaraan kelas ibu dan penanganan persalinan bagi keluarga miskin.
- Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita ( Target SPM = 70 % )
Hasil cakupan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 adalah sebesar 18,8%.
Dari data diatas terlihat bahwa hasil cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita masih rendah sedangkan target yang harus dicapai sebesar 70% (tabel 18).
Hal ini disebabkan oleh faktor kurangnya /belum samanya persepsi pengertian terhadap definisi operasional DDTK. Deteksi Dini Tumbuh Kembang anak balita (pra sekolah) adalah cakupan anak umur 0-5 tahun yang dideteksi kesehatan dan tumbuh kembangnya sesuai standar oleh dokter, bidan maupun perawat sedikitnya 2 kali per tahun. Untuk Hasil Cakupan DDTK Anak Balita di seluruh Puskesmas masih dibawah target SPM.
GRAFIK 29
PERSENTASE DDTK KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2007
- Pemberian Vitamin A Bufas
Masa nifas adalah waktu antara ibu melahirkan sampai dengan 6 minggu (0-42 hari). Pemberian vitamin A pada bufas memiliki beberapa manfaat antara lain meningkatkan kandungan vitamin A dalam ASI, bayi lebih kebal dan jarang kena penyakit infeksi dan juga kesehatan bufas lebih cepat pulih. Pemberian 2 kapsul vitamin A 200.000 SI warna merah diharapkan dapat menambah kandungan vitamin A dalam ASI sampai bayi usia 6 bulan.
Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan tidak dapat dibuat sendiri oleh tubuh, sehingga harus terpenuhi dari luar (essensial). Fungsinya adalah untuk penglihatan, pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.
Dalam kebutuhan sehari-hari jika konsumsi makanan bersumber vitamin A rendah, maka diperlukan tambahan suplemen kapsul vitamin A. Kebutuhan vitamin A ini meningkat karena adanya infeksi, campak dan diare pada bufas.
Cakupan pemberian vitamin A di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 pada bufas telah mencapai ……%
Add comment Juni 12, 2008












































