Posts filed under 'Situasi Derajat Kesehatan'
Status Gizi
1. Gizi Bayi
Status gizi bayi terlihat dari jumlah kasus BBLR yang terjadi. Berdasarkan data hasil program gizi pada tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan tercatat dari 27.396 persalinan, sebanyak 204 bayi lahir BBLR (tabel 15) atau sekitar 27,30%.
Dari 204 BBLR tersebut, yang mendapatkan penanganan sebanyak 200 bayi (98%), dari target 80%.
Tingginya persentase BBLR yang terjadi menunjukkan rendahnya status kesehatan para ibu hamil, jarak kelahiran yang terlalu rapat, pelayanan kehamilan yang kurang memadai dan kebutuhan pelayanan yang lebih baik bagi bayi yang baru lahir.
BBLR merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori BBLR karena prematur (usia kehamilan < 37 minggu) dan BBLR karena berat badan kurang walaupun lahir cukup bulan. Di banyak negara berkembang BBLR dengan kategori cukup bulan namun berat badan kurang, banyak dikarenakan ibu hamil berstatus gizi buruk, anemia, malaria dan mengalami infeksi PMS sebelum konsepsi maupun pada saat hamil.
2. Gizi Balita
Status gizi balita terlihat dari naiknya berat badan balita sesuai usia yang dicatat dalam KMS. Di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 dari 150.784 kunjungan balita ke posyandu, tercatat sebanyak 77.179 balita naik berat badannya dari 99.689 balita yang ditimbang atau sekitar 51,19%. Jumlah ini belum mencapai target 76%.
Sebanyak 5.650 balita masuk kategori BGM (bawah garis merah) atau sekitar 3,75% (target <15%). Sedangkan untuk status BGT/ gizi kurang mencapai 15,96%. Sejumlah 27 balita masuk kategori gizi buruk, yang kesemuanya telah mendapatkan perawatan (100%).
Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Dari 5.650 balita BGM, sebanyak 2.261 masuk kategori BGM gakin atau sekitar 40%.
3. WUS
Sejumlah 250.437 Wanita Usia Subur (WUS) umur 15 – 49 tahun yang ada di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, tercatat dari 82.845 WUS sebanyak 5.569 telah mendapatkan kapsul yodium atau sekitar 6,72%.(tabel 40).
Indikator lain yang dapat menggambarkan status gizi wanita usia subur adalah dengan melakukan pengukuran LILA (lingkar lengan atas). Hasil pengukuran bisa digunakan sebagai salah satu cara dalam melakukan identifikasi kemungkinan wanita tersebut berisiko melahirkan bayi BBLR. Indikator Kurang Energi Kronik (KEK) menggunakan standar LILA <23,5 cm.
Namun untuk data ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan khususnya program Gizi Kesehatan Masyarakat belum dapat menyediakan data yang dimaksud, sehingga indikator LILA tidak dapat dilakukan analisis.
4. Kecamatan Bebas Rawan Gizi
Pada tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan sebanyak 8 kecamatan telah masuk kategori kecamatan bebas rawan gizi (40%), sedangka target IIS 2010 adalah 80% kecamatan telah bebas rawan gizi. Secara lebih jelas terlihat pada lampiran tabel 16.
Kecamatan bebas rawan gizi didefinisikan sebagai kecamatan dengan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk pada balita <15%.
Add comment Juni 12, 2008
Penyakit Tidak Menular
Penyakit Gigi dan Mulut
Berdasarkan data SP2TP Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 tercatat kasus penyakit gigi dan mulut dengan perincian sebagai berikut.
Tabel 8
PERSENTASE KASUS GIGI & MULUT KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2007
Sumber : Data SP2TP Tahun 2007
Dari tabel di atas terlihat untuk penyakit gigi dan mulut, kasus terbanyak adalah sebanyak 30,22% yaitu penyakit pulpa & Jaringan Periapikal dan gingivitis sebanyak 22,01%.
Penyakit Akibat Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Bahan Berbahaya
Data SP2TP Tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan menunjukkan bahwa penyakit akibat penyalahgunaan NAPZA sebanyak 203 kasus.
Dari 1.459 kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan oleh puskesmas, sejumlah 120 kegiatan (8,22%) dilaksanakan penyuluhan tentang P3 Napza. Sedangkan di tingkat kabupaten sejumlah 4 penyuluhan dari 8 kali penyuluhan yang dilaksanakan materinya adalah tentang P3 Napza (50%). Secara lebih jelas terlampir di tabel 34
Penyakit Hipertensi
Bersumber Data SP2TP Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 tercatat 15.808 kasus hipertensi. Penyakit ini menempati urutan ketujuh dalam pola 10 besar penyakit tahun 2007.
Penyakit Gastritis
Bersumber data SP2TP sebanyak 26.913 kasus gastritis terjadi di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007.
Keracunan Makanan
Salah satu penyebab kesakitan juga adalah keracunan makanan, yang diartikan keracunan secara tidak sengaja mengkonsumsi makanan tercemar kuman penyakit. Pada tahun 2007 kasus keracunan makanan terjadi di Kabupaten Lampung Selatan sebanyak 62 kasus (SP2TP tahun 2007).
Kecelakaan Lalu Lintas
Untuk kecelakaan lalu lintas, sepanjang tahun 2007 di wilayah Kabupaten Lampung Selatan telah terjadi 1.536 kasus, dengan perincian tercatat di Badan Layanan RSUD Kalianda sebanyak 1.476 kasus dan tercatat di puskesmas 60 kasus.
Dari 92 Jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas yaitu 31 korban meninggal di RSUD Kalianda.(table 8).
Add comment Juni 12, 2008
Penyakit Menular
Malaria
Terjadi 11.418 kasus malaria klinis di wilayah kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007. Melalui pemeriksaan slide darah sebanyak 44,8%, didapat hasil 2.197 (19,2%) kasus positif malaria, yang kesemuanya 100% mendapatkan pengobatan. (Tabel 11).
Berdasarkan analisa data kabupaten pada tahun 2007 situasi penyakit Malaria di Kabupaten Lampung Selatan, terlihat dari pola min-max sebagai berikut.
GRAFIK 10
POLA MIN-MAX KLINIS MALARIA KAB. LAM-SEL TH 2007
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP
Dari Grafik Pola Min-Max selama lima tahun maka data malaria klinis di tahun 2007 tingkat Kabupaten Lampung Selatan adalah telah terjadi peningkatan kasus di bulan Januari dan Februari 2007 bahkan bila dilihat dari Pola Min-max diatas maka pada Bulan Januari – Februari 2007 telah dikategorikan adanya peningkatan kasus secara signifikan. Tetapi bila dilihat trend bulanan cenderung telah terjadi penurunan kasus ditahun 2007, yaitu mulai bulan maret sampai desember terjadi penurunan secara signifikan, bila kita hubungkan dengan kegiatan penanggulangan yang telah dilakukan di Kabupaten Lampung Selatan maka ini sangat dimungkinkan sekali karena pada bulan februari 2007 telah dilakukan kegiatan intervensi berupa pendistribusian kelambu ke 13 Puskesmas yang didistribusikan secara proporsional berdasarkan prioritas masalah. Adapun trend kasus bulanan tahun 2007 dapat dilihat pada Grafik MoMi dibawah ini :
GRAFIK 11
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP
Dari grafik MoMi tahun 2006 dibandingkan tahun 2007 seperti diatas Cenderung fluktuatif. MoMi tahun 2006 kasus cenderung sama perbulan, tetapi tahun 2007 kasus tertinggi pada bulan Januari dan Februari dan bulan selanjutnya terus menurun seperti tampak pada grafik diatas.
TB Paru
Situasi Penyakit TB Paru di Kabupaten Lampung Selatan sampai tahun 2007, penemuan kasus penderita TB Paru baru ( BTA +) sebesar 780 orang atau sekitar 38%. Angka ini masih dibawah target Nasional yaitu sebesar 70%, walaupun telah ada beberapa puskesmas yang sudah mencapai target bahkan ada yang melebihi (tabel 9).
Perkiraan penderita TB BTA (+) di Propinsi Lampung berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga angka insiden rate meningkat dari 130/100.000 penduduk menjadi 160/100.000 penduduk, sehingga perkiraan penderita TB Paru BTA (+) di Kabupaten Lampung Selatan juga menjadi lebih besar yaitu diperkirakan sebanyak 2.051 orang.
Penemuan kasus penderita BTA (+) di Kabupaten Lampung Selatan secara absolut dari tahun 2003 sampai 2006 terjadi peningkatan yang cukup bermakna, tetapi menurun sedikit pada tahun 2007 sebagai berikut.
GRAFIK 12
Penemuan Penderita TB BTA (+) Kabupaten Lampung Selatan
Tahun 2003 – 2007
Sumber : Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007
DBD
Di Kabupaten Lampung Selatan dalam kurun waktu lima tahun terakhir selalu terjadi kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Tabel 6
KASUS DBD KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2003 – 2007
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP
Tabel diatas menunjukkan terjadi peningkatan kasus DBD yang cukup tajam pada tahun 2007. Kasus DBD yang menyebabkan meninggal dunia dalam tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan sebanyak 3 kasus terjadi diwilayah Puskesmas Kedondong, Merbau Mataram dan Kalianda. Berdasarkan laporan puskesmas kasus meninggal di rumah sakit (RS Wismarini Pringsewu, RSAM dan RS Imanuel). Penderita kasus DBD Lampung Selatan dirawat tersebar di RSUD Kalianda, RSAM, RS Imanuel, RS Advent. Jumlah kasus DBD pada balita tahun 2007 berdasarkan tabel 10 pada lampiran tercatat sejumlah 427 kasus yang kesemuanya ditangani (100%) / atau telah mencapai target 100% penanganan.
Berikut ini grafik rata-rata kasus DBD di Kabupaten Lampung Selatan berdasarkan waktu kejadian tahun 2001-2007.
GRAFIK 13
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007
Berikut ini adalah grafik pola max min kasus DBD di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2001 2006 sbb :
GRAFIK 14
Sumber: Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007
Berdasarkan data yang ada adanya beberapa puskesmas yang termasuk daerah endemis penyakit DBD. Hal ini dikarenakan adanya desa yang muncul kasus DBD dalam tiga tahun terakhir seperti Puskesmas Natar, Hajimena, Tanjung Agung, Bandar Agung, Way Urang, Gedung Tataan, dan Bernung. Selain itu ada beberapa Puskemas masuk strata sporadis penyakit DBD seperti Puskesmas Palas, Bakauheni, Karang Anyar, Tanjung Bintang, Bangunrejo.
Sedangkan untuk mengetahui angka bebas jentik (ABJ) di Kabupaten Lampung Selatan tidak ada data yang pasti hal ini dikarenakan tidak semua puskesmas melakukan kegiatan pemeriksaan jentik berkala (PJB). Sebagai gambaran untuk Puskesmas Penengahan yang telah melakukan Pemeriksaan Jentik Berkala mendapatkan rata-rata ABJ pada 5 desa sebagai berikut :Triwulan I 86,2 %, Triwulan II 76,6 %, Triwulan III 90,2 % dan Triwulan IV 96,2 %.
Diare
Terjadi peningkatan tajam kasus diare di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 yaitu 24.480 kasus untuk semua golongan umur.
GRAFIK 15
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP
Untuk kasus Diare ditemukan tahun 2007 per Puskesmas dapat kita lihat pada grafik di bawah ini :
Grafik 16
Kasus Diare per – Puskesmas
Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2007
Sumber : Evaluasi Program P2PLP
Dari grafik di atas terlihat jumlah kasus diare per puskesmas dengan kasus diare tertinggi di Puskesmas Bandar Agung (1.881 kasus) disusul oleh Puskesmas Tanjung Bintang (1.505 kasus) dan Kedondong (1.285 kasus) sedangkan jumlah kasus diare kabupaten sebesar 22.838 kasus.
Berdasarkan golongan umur, kasus diare yang terjadi pada tahun 2007, yaitu : umur <1 tahun sebanyak 3.423 kasus (14 %), golongan umur 1–4 tahun 7.097 kasus (29 %) dan golongan umur >5 tahun 13.960 kasus (57%). Dari kasus diare seluruhnya sebanyak 24.480 kasus, 10.520 kasus (43%) terjadi pada Balita sebesar dari semua kasus yang ditemukan tahun 2007 (table 10).
Untuk penderita yang diberi oralit sebesar 24.104 penderita atau 98,5%, hal ini menunjukan semakin baik penanganan kasus secara benar. Prosentase penderita yang diberi oralit pada tahun 2007 meningkat dibanding tahun 2006 sebesar 54%.
Namun permasalahan yang dihadapi adalah penemuan kasus diare balita masih dibawah target yaitu sebesar 43% sedangkan targetnya 50% dari semua kasus yang ditemukan, penemuan kasus oleh kader masih rendah yaitu 0,45 % dari seluruh kasus yang ditemukan, selain itu permasalahan yang dihadapi antara lain kelengkapan pelaporan program P2 Diare dari Puskesmas ke Kabupaten belum dikirim tepat waktu dan masih terdapat Puskesmas yang tidak mengirim laporan selama setahun seperti Puskesmas Kota Dalam, ada juga yang tidak lengkap sehingga masih ada kasus yang tidak dilaporkan; Pada bulan Januari – Agustus 2007 terjadi peningkatan kasus Diare yang keluar dari pola maksimal minimal 5 tahun terakhir; Kewaspadaan dini untuk program P2 Diare belum dilaksanakan secara optimal; Belum tersedianya dana yang memadai untuk pelaksanaan Program P2 Diare.
Pneumonia Balita
Sasaran penemuan penderita pneumonia balita Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 adalah sebanyak 12.822 kasus, sedangkan target penemuan kasus sebesar 66% (8.462 kasus). Penderita pneumonia berat dan pneumonia di Kabupaten Lampung Selatan yang ditemukan tahun 2007 sebanyak 501 kasus dengan realisasi penemuan penderita pneumonia 5,9% ( tabel 9).
Bila dilihat dari penemuan kasus untuk Pneumonia dan ISPA non pneumonia terjadi penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2003 – 2007. Untuk kasus ISPA non pneumonia pada tahun 2006 – 2007 terjadi penurunan yang sangat tajam yaitu sebesar 15.727 kasus atau 41%, puncak kasus tertinggi terjadi pada tahun 2005, yaitu sebesar 28.025 kasus, sedikit meningkat dibandingkan tahun 2004. Hal seperti ini dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, apakah faktor pencatatan dan pelaporan atau adanya kesalahan diagnosa yang mustinya masuk pneumonia tetapi dimasukkan ke non pneumonia. Untuk kasus pneumonia yang ditemukan pada tahun 2007 hanya mencakup 4,6% dari semua kasus yang masuk pada program P2 ISPA, jadi sebagian besar yang ditemukan yaitu kasus non pneumonia sebesar 95,4%. Jumlah populasi balita untuk Program P2 ISPA Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sebanyak 128.218 jiwa.
Berdasarkan Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007 untuk angka penemuan kasus pneumonia masih rendah yaitu 5,9% dari target sebesar 66% (pedoman P2 ISPA tahun 2007). Dari 32 puskesmas yang ada, belum ada puskesmas yang mencapai target penemuan kasus pneumonia dari perkiraan kasus yang ada. Hal ini dapat terjadi mengingat kemampuan tenaga kesehatan menegakkan diagnosis kasus pneumonia masih kurang terutama tenaga yang menangani balita di puskesmas. Ditambah belum adanya kader atau tidak aktifnya kader Program P2 ISPA. Selain itu masih kurangnya penyebarluasan informasi dan penyuluhan kepada masyarakat serta tatalaksana pencatatan dan pelaporan puskesmas ke kabupaten belum optimal (hanya 2 puskesmas lengkap pelaporannya) sehingga masih banyak kasus-kasus yang tidak terlaporkan.
Untuk kerjasama lintas program juga masih sangat kurang khususnya dengan kesga yaitu mengenai Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), selain itu pembinaan kabupaten ke puskesmas mengenai ISPA perlu ditingkatkan lagi dan juga adanya dukungan dana yang memadai.
Rabies / GHTR
Selama lima tahun terakhir di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) hampir terjadi setiap tahun.
Tabel 7
JUMLAH KASUS GHTR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2003 – 2007
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2 Rabies
Evaluasi Program P2PLP menyatakan telah terjadi 187 kasus GHPR dengan kasus meninggal 2 orang pada tahun 2007.
Dalam penanganan kasus yang terjadi selain pengobatan diunit puskesmas juga ada yang mendapat layanan di Rumah Sakit Umum (rujukan puskesmas). Untuk pengobatan kasus GHPR hampir 95% mendapat suntikan vaksin anti rabies (VAR).
Kusta
Bila dilihat dari tren 5 tahun terakhir terjadi peningkatan penemuan kasus dari tahun 2003 (16 kasus) ke tahun 2004 (34 kasus) serta di tahun 2005 (41) dan kembali menurun pada tahun 2006 (34 kasus) serta tahun 2007 (32 kasus).
Persentase RFT (penderita kusta selesai berobat) di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 adalah 45,28%. Angka ini masih jauh dari target 90% (tabel 12).
GRAFIK 17
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007
Pada tahun 2007 ditemukan kasus baru kusta pada 14 Puskesmas sebanyak 32 kasus Tipe MB 22 kasus, dan Tipe PB 10 kasus, tersebar di 16 Puskesmas dengan kasus tertinggi ada di Puskesmas Sidoharjo, Bandar Agung masing-masing 9 kasus disusul Puskesmas Bangunrejo, Tanjung Agung masing-masing 7 kasus selanjutnya Puskesmas Tanjung Bintang 4 kasus.
Bila dilihat kasus secara Kabupaten memang kasus kusta masih rendah tetapi ada daerah-daerah yang yang menjadi kantong terjadinya kasus kusta, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini :
GRAFIK 18
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007
TN
Di Lampung Selatan Kasus TN sepanjang tahun dari tahun 2000 sd 2007 selalu ada setiap tahunnya. Tetanus Neonatorum (TN) adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Clostridium tetani dengan gejala yang sangat khas adalah kejang dengan keadaan mulut mencucu seperti mulut ikan.
Grafik 19
Selama empat tahun terakhir di wilayah Lampung Selatan, yaitu tahun 2007 terjadi penurunan kasus TN terendah yaitu hanya 1 (satu) kasus di puskesmas Hanura, Kecamatan Padang Cermin. Kasus meninggal ditemukan oleh perawat yaitu pada neonatus berumur 7 hari.
Kasus tersangka TN adalah kematian neonatus umur 3-28 hari yang tidak diketahui penyebabnya, atau kasus kematian TN yang dilaporkan oleh bukan dokter atau bukan petugas kesehatan terlatih.
Campak
Kasus Campak di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sejumlah 199 kasus) tersebar hampir di seluruh wilayah, dengan kasus tertinggi di wilayah kerja puskesmas Titiwangi (33 kasus) dan puskesmas Kalianda (30 kasus).
Polio
Tidak ditemukan kasus polio di wilayah Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 (Tabel 14).
Hepatitis Klinis
Di wilayah Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 ditemukan 249 kasus hepatitis klinis (tabel 14), yang tersebar di 14 wilayah puskesmas. Kasus tertinggi sebanyak 79 kasus terjadi di wilayah puskesmas Way Urang dan 29 kasus di puskesmas Bandar Agung.
HIV
Pada tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan untuk kasus HIV/ AIDS maupun IMS tidak ditemukan kasus. (Tabel 10)
Filaria
Tidak ditemukan kasus penyakit filaria di wilayah kerja Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 (tabel 13).
Add comment Juni 12, 2008
Pola Penyakit
Kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 dapat dicermati dari pola penyakit penderita yang berkunjung ke sarana kesehatan yaitu puskesmas maupun sarana kesehatan swasta.
Berdasarkan Data SP2TP yaitu Laporan Data Kesakitan (LB1), didapat data 10 (sepuluh) besar penyakit yang mendominasi di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007.
Tabel 5
10 (SEPULUH) BESAR PENYAKIT
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007
Sumber : Data SP2TP LB1 Tahun 2007
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa penyakit infeksi masih merupakan penyakit terbanyak yang ditemukan pada pasien yang berkunjung ke puskesmas dan sarana kesehatan yang ada. Walaupun demikian penyakit tidak menular juga mulai masuk dalam 10 besar penyakit seperti gastritis (11,62%) di peringkat lima besar, dan hipertensi sebanyak 7,20%.
ISPA menduduki peringkat pertama pada 10 besar penyakit tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan yaitu 27,75%. Angka ini mencakup kasus ISPA yang terjadi pada semua golongan umur yang bersumber dari data SP2TP kabupaten.
Add comment Juni 12, 2008
Kasus Kematian Bayi dan Balita
Kasus Kematian Bayi
Angka kematian bayi Kabupaten Lampung Selatan berdasarkan hasil Susenas Propinsi Lampung Tahun 2002, untuk laki-laki sebesar 46/1000 kelahiran hidup, dan untuk perempuan sebesar 45/ 1000 kelahiran hidup, total kematian bayi sebesar 40/1.000 kelahiran hidup. Untuk target Indikator IIS 2010 adalah 40 per 1.000 kematian bayi.
Kasus kematian bayi di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2003 meningkat dari 204 bayi per 28.526 kh dan kemudian meningkat menjadi 236 bayi pada tahun 2004. Kemudian pada tahun 2005 menjadi 238 kasus, tahun 2006 turun menjadi 227 kasus, kemudian kembali meningkat menjadi 248 kasus di tahun 2007.
GRAFIK 5
TREND KASUS KEMATIAN BAYI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2003 - 2007
Sumber: Subdin Yankes Tahun 2007
Dari tabel di atas terlihat kasus kematian bayi di Kabupaten Lampung Selatan selama 5 tahun sangat fluktuatif, namun rata- rata berkisar lebih dari 200 kasus per tahunnya.
Penyebab kematian pada bayi di tahun 2007 terbanyak disebabkan karena lahir mati (90 kasus) pada masa perinatal dan karena asfiksia (84 kasus) pada masa neonatal, dan sisanya sebanyak 74 kasus terjadi pada masa bayi
GRAFIK 6
PENYEBAB KEMATIAN BAYI
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
Grafik di atas menunjukkan penyebab kematian bayi berdasarkan semua golongan umur, dimana penyebab kematian tertinggi adalah lahir mati sebanyak 36% (90 kasus), asfixia 34% (84 kasus) dan BBLR 15% (37 kasus).
Dalam upaya menghindari terjadinya kasus lahir mati, asfixia dan kelainan maupun gangguan kesehatan pada bayi maka upaya peningkatan pelayanan ANC dari bidan maupun persalinan didampingi tenaga kesehatan perlu lebih mendapatkan perhatian. Juga peran serta kader kesehatan untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya ke petugas kesehatan maupun bidan, penyuluhan kepada masyarakat untuk lebih memperhatikan ibu hamil baik perlakuan, motivasi dan intake gizi yang ideal.
GRAFIK 7
PERSENTASE KASUS KEMATIAN BAYI PER GOLONGAN UMUR
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007:
Berdasarkan golongan umur, kasus kematian terbanyak adalah pada masa perinatal yaitu antara 0-7 hari. Untuk melihat distribusi penyebab kematian bayi per puskesmas terlampir pada tabel 7a.
GRAFIK 8
PENYEBAB KEMATIAN BAYI PER GOLONGAN UMUR
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
TABEL 4
PENYEBAB KEMATIAN BAYI (1-11 bulan)
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007 :
Tabel di atas menunjukkan kematian di luar masa neonatal dan perinatal. Untuk penyebab lain-lain kasus kematian bayi dapat dijelaskan banyak faktor misalnya plasenta previa, ikterus, dan faktor obstetri lainnya.
GRAFIK 9
PERSENTASE PENYEBAB KEMATIAN MASA BAYI
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007
Kasus Kematian Balita
Target IIS 2010 sebanyak 58/1.000 kelahiran hidup. Data kasus kematian balita di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 tidak terjadi kematian pada balita (0 kasus). Sementara 2 tahun sebelumnya masing-masing terjadi 1 kasus kematian balita.
Add comment Juni 11, 2008
Kasus Kematian Ibu
Status kesehatan masyarakat Lampung Selatan salah satunya dilihat dari kasus kematian ibu. Grafik dibawah ini memaparkan kasus kematian ibu yang terjadi di Kabupaten Lampung Selatan selama kurun waktu lima tahun.
GRAFIK 3
TREND KASUS KEMATIAN IBU DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
PADA TAHUN 2003 – 2007
Tabel 2
RASIO KASUS KEMATIAN IBU KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2003 – 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
Bila dibandingkan dengan Indikator Indonesia Sehat 2010 untuk AKI yaitu 150 / 100.000 kh, Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 untuk kasus kematian ibu masih di bawah target yaitu sebesar 102, 38 / 100.000 kh.
Jika dilihat dari golongan sebab sakit, kasus obstetri terbanyak pada tahun 2007 yang menyebabkan kematian adalah disebabkan oleh perdarahan.
TABEL 3
PENYEBAB KEMATIAN IBU KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
Hal ini nampak pada diagram berikut ini :
GRAFIK 4
PERSENTASE PENYEBAB KEMATIAN IBU
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007
Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007
Dari 28 kasus kematian ibu yang terjadi di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, kasus perdarahan terjadi di 8 wilayah puskesmas yaitu di puskesmas Bakauheni, Palas dan Kedondong masing-masing 2 kasus; di puskesmas Sidomulyo, Gedong Tataan, Bunut, Hanura dan Pidada masing-masing 1 kasus. Untuk kasus eklampsia terjadi di puskesmas Way Muli 2 kasus, dan di Puskesmas Hajimena 5 kasus. Sedangkan untuk kasus infeksi terjadi di Puskesmas Palas, Way Muli dan Bunut masing-masing 1 kasus. Satu kasus anemia di puskesmas Way Muli. Untuk Penyakit jantung 3 kasus yaitu di puskesmas Palas, Way Muli dan Karang Anyar. Untuk point lain-lain 1 kasus kematian saat kehamilan dan 2 kasus tidak diketahui (tabel 7a).
Namun untuk penyebab kematian berdasarkan golongan umur, tidak dapat ditampilkan karena data yang ada masih belum tersedia.
Add comment Mei 29, 2008






























