Posts filed under 'pencapaian pembangunan kesehatan kabupaten lampung selatan'

MORBIDITAS

1. POLA PENYAKIT

Tingkat kesakitan disuatu wilayah juga mencerminkan situasi derajat kesehatan masyarakat yang ada di dalamnya. Bahkan tingkat morbiditas penyakit menular tertentu yang terkait dengan komitmen internasional senantiasa menjadi sorotan dalam membandingkan kondisi kesehatan antar negara. Pada bab ini disajikan gambaran morbiditas penyakit-penyakit menular dan tidak menular yang dapat menjelaskan keadaan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Lampung Selatan.

Kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2008 dapat dicermati dari pola penyakit penderita yang berkunjung ke sarana kesehatan yaitu puskesmas maupun sarana kesehatan swasta. Berikut menyajikan pola 10 penyakit terbanyak yang berkunjung ke puskesmas dan sarana kesehatan yang ada.

TABEL 4.4

10 (SEPULUH) BESAR PENYAKIT

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2008

untitled

Sumber : Laporan SP2TP LB1 Tahun 2008

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa penyakit infeksi akut lain pernapasan atas (33,44%) masih merupakan penyakit terbanyak yang ditemukan pada pasien yang berkunjung ke puskesmas dan sarana kesehatan yang ada. Walaupun demikian penyakit tidak menular juga mulai masuk dalam 10 besar penyakit seperti gastritis (10,14%) di peringkat lima besar, dan hipertensi sebanyak 8,07%.

2. PENYAKIT MENULAR

a. Malaria

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan mempengaruhi angka kesakitan bayi, anak balita dan ibu melahirkan serta dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja.

Dari hasil analisa data yang dibuat di Kabupaten pada Tahun 2008 Situasi Penyakit Malaria di Kabupaten Lampung Selatan, berdasarkan data –data sebagai berikut :

GRAFIK 4.7

untitled

Sumber : Laporan P2 Malaria Kab.Lampung Selatan tahun 2003 s.d 2008

Dari Grafik Pola Min-Max selama lima tahun maka Data malaria Klinis di tahun 2008 tingkat Kabupaten Lampung Selatan berfluktuasi, tetapi tidak terjadi peningkatan kasus, masih dibawah grafik median, yang menjadi indikator terjadinya KLB . Bila kita hubungkan dengan kegiatan Penanggulangan yang telah dilakukan di Kab Lampung Selatan maka ini sangat dimungkinkan sekali karena Pada Bulan Maret 2008 mulai dilakukan kegiatan Intensifikasi dan Integrasi Pengendalian Malaria dengan bantuan Global Fund Round 6, berupa kegiatan surveilans malaria, MBS, pelatihan mikroskopis, pelatihan pengelola program dan dokter puskesmas meskipun belum semua dilatih.

Adapun trend Kasus bulanan tahun 2008 dapat dilihat pada Grafik MOMI dibawah ini :

GRAFIK 4.8

untitled

Sumber : Laporan P2 Malaria Kab.Lampung Selatan tahun 2007 s.d 2008

Dari Grafik MoMi Tahun 2008 cenderung menurun dibandingkan tahun 2007. MOMI tahun 2008 kasusnya cenderung sama perbulan, hal ini dapat terjadi karena ada kegiatan yang dibiayai Global Fund

GRAFIK 4.9

untitled

Sumber : Laporan P2 Malaria Kab.Lampung Selatan tahun 2007 s.d 2008

Untuk grafik MoPi tahun 2008 (Malaria Parasite Insiden atau yang positif malaria) di Kabupaten Lampung Selatan Polanya cenderung sama dengan Pola MoPi tahun 2007, tetapi ada peningkatan pada akhir tahun, karena pada bulan Juni-Agustus dilakukan pelatihan bagi tenaga mikroskopis malaria dengan dana GF.

GRAFIK 4.10

untitled

Sumber : Laporan P2 Malaria Kab.Lampung Selatan tahun 2008

Untuk grafik MoMi (Kasus Malaria Bulanan) di Kabupaten Lampung Selatan Polanya cenderung meningkat dibandingkan dengan Pola MoPi (Malaria Parasite Insiden atau yang positif malaria) ini berarti diagnosa Klinis lebih banyak ditemukan tetapi tidak dilakukan pemeriksaan sediaan darah, karena banyak kasus-kasus klinis yang berasal dari luar puskesmas induk yang tidak memiliki mikroskop dan jarak yang jauh dari pkm induk, dimana seharusnya bila MoMi tinggi maka dimungkinkan MoPi nya juga tinggi dengan diagnosa yang tepat.

GRAFIK 4.11

untitled

Sumber : Laporan P2 Malaria Kab.Lampung Selatan tahun 2007 s.d 2008

Dari Grafik Insident Malaria Klinis (AMI) tahun 2008 untuk tingkat Kabupaten hanya 4,8 ‰, turun bila dibandingkan AMI tahun 2007. tetapi dilihat Per Puskesmas ada beberapa Puskesmas yang AMI masih tinggi meskipun turun sekitar 50 % seperti puskesmas Way Muli, sementara untuk puskesmas yang lain berfluktuasi.

GRAFIK 4.12

untitled

Sumber : Laporan P2 Malaria Kab.Lampung Selatan tahun 2008

Dari Grafik API Per-Puskesmas seperti diatas maka angka API sebagai berikut Puskesmas Way Muli (23,5 ‰), menurun bila dibandingkan tahun 2007 yaitu (57,6 ‰), urutan kedua Puskesmas Bakauheni (9,4 ‰), meningkat bila dibandingkan tahun 2007 (0,5 ‰).

GRAFIK 4.13

untitled

Sumber : Laporan P2 Malaria Kab.Lampung Selatan tahun 2008

Dari data AMI dan API 2008, dapat dianalisa ada hubungan yang signifikan bila AMI tinggi maka kemungkinan API juga tinggi dengan catatan di Puskesmas tersebut melakukan pemeriksaan sediaan darah, tetapi hanya 2 puskesmas yang kasus positifnya tinggi yaitu Way Muli dan Bakauheni, karena daerah tersebut termasuk daerah endemis. Untuk AMI & API yang tidak sama, dikarenakan kasus klinis yang dilaporkan berasal dari pustu, bidan desa dan BP Swasta yang tidak melakukan pemeriksaan.

untitled

Sumber : Laporan P2 Malaria Kab.Lampung Selatan tahun 2008

Dari Grafik Persentase Sediaan darah yang diperiksa Per-Puskesmas Kab lampung Selatan Tahun 2008 untuk tingkat Kabupaten mengalami peningkatan hampir disemua puskesmas bila dibandingkan tahun 2007. sedangkan bila dilihat angka kabupaten mengalami penurunan, karena puskesmas Way Muli sebagai penyumbang kasus terbanyak hanya 58 % SD diperiksa, sehingga mempengaruhi angka kabupaten.

Grafik 4.15

Malaria Positif Menurut Gol Umur Tahun 2008

untitled

Sumber : Laporan P2 Malaria Kab.Lampung Selatan tahun 2008

Bila dilihat grafik berdasarkan golongan umur dan jenis kelamin, kasus terbanyak menyerang golongan umur > 15 tahun dan pada jenis kelamin laki-laki. Karena pada usia dan jenis kelamin tersebut memiliki kebiasaan keluar rumah pada malam hari. Tetapi bila kita lihat kasus pada golongan umur < 1 tahun, ini ada indikasi penularan didalam rumah.

Grafik 4.16

Proporsi Palsmodium Malaria Tahun 2008

untitled

Sumber : Laporan P2 Malaria Kab.Lampung Selatan tahun 2008

Dari grafik Proporsi Plasmodium dari sediaan darah yang positif Kabupaten Lampung Selatan tahun 2008, Plasmodium Vivak (Pv) lebih dominan yaitu sebesar 65 %, berturut-turut selanjutnya Plasmodium Falciparum 34 %, dan Mixed 1 %, hal ini berarti penata laksanaan kasus yang tidak selesai seperti obat tidak dihabiskan dan kasus tidak di follow up.

Grafik 4.17

Proporsi Pengobatan Radikal Tahun 2008


untitled

Sumber : Laporan P2 Malaria Dinkes Kab.Lamsel tahun 2008

Bila dilihat grafik proporsi pengobatan radikal masih ada kasus positif yang tidak diobati menggunakan ACT (Artemisinin Combination Therapy), baik bagi plasmodium Vivak maupun Falciparum. Ini dikarenakan bayi tidak boleh diberi ACT, efek samping obat ACT yang berat, termasuk RSU Kalianda karena tidak memiliki stock ACT.

TB PARU

Situasi Penyakit TBC di kabupaten Lampung Selatan sampai tahun 2008, penemuan kasus penderita TBC Paru baru ( BTA +) sebesar 525 orang atau sekitar 36,4 %. Perkiraan penderita TBC BTA (+) di Propinsi Lampung berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga angka insiden Rate 160/100.000 pddk, sehingga perkiraan penderita TBC Paru BTA (+) dikabupaten Lampung Selatan juga menjadi lebih besar diperkirakan sebanyak 1443 orang. Akan tetapi hasil Penemuan kasus Penderita BTA (+) di Kabupaten Lampung Selatan secara Absolut dari tahun 2004 sampai 2008 terjadi peningkatan yang cukup bermakna, tetapi menurun sedikit pada tahun 2007, dan menurun tajam di tahun 2008 hal ini salah satu sebabnya karena terjadi pemekaran wilayah Kabupaten Lampung Selatan menjadi dua Kabupaten yaitu Lampung Selatan dan Pesawaran untuk lebih jelasnya dapat dilihat sebagai berikut:

GRAFIK 4.18

Penemuan Penderita TBC BTA (+) tahun 2004 s/d tahun 2008
Kabupaten Lampung Selatan

Bila dilihat dari grafik CDR di atas tren CDR tidak menetap, pada tahun 2004 sebesar 48,7 menurun di tahun 2005, meningkat kembali di tahun 2006 dan menurun lpada tahun 2007 serta menurun lagi di tahun 2008.

Sedangkan Angka Penemuan kasus Kabupaten tahun 2008 sebesar 36,4 % juga masih dibawah target Nasional yaitu sebesar 70%, akan tetapi ada satu puskesmas sudah mencapai, bahkan ada yang melebihi yaitu :

1. Puskesmas Way Muli ( 74,4 %)

Akan tetapi sebebagian besar puskesmas penemuannya masih sangat rendah yaitu :

  1. Puskesmas Tanjung Sari ( 0 %)
  2. Puskesmas Way Sulan ( 8,8 %)
  3. Puskesmas Banjar Agung ( 11,8 %)
  4. Puskesmas Sukadamai (12,8 %)
  5. Puskesmas Hajimena (14,3%)
  6. Puskesmas Bumi Daya (19,6 %)
  7. Puskesmas Titiwangi ( 24,4 %)
  8. Puskesmas Sidoharjo ( 26,6%)
  9. Puskesmas Karang Anyar (27,1 %)

Secara keseluruhan penemuan penderita TBC paru BTA(+) tahun 2008 di 24 Puskesmas sbb :

GRAFIK 4.20

Sumber : Laporan program P2 TB Kab.Lamsel tahun 2008

Bila dilihat dari wilayah kerja dapat dilihat Puskesmas mana yang CDR pada tahun 2008 buruk, kurang baik, baik dan baik sekali selengkapnya seperti peta di bawah ini

Sumber : Laporan program P2 TB Kab.Lamsel tahun 2008

Sedangkan penyebaran kasus TB Paru BTA positif per Puskesmas juga dapat dilihat pada peta dibawah ini :

Penemuan penderita TBC secara keseluruhan tahun 2007 sebesar 1103 Orang dan tahun 2008 sebesar 922 seperti grafik dibawah :

GRAFIK 4.21

Sumber : Laporan program P2 TB Kab.Lamsel tahun 2008

Bila dilihat cakupan kegiatan TBC tahun 2008 penemuan kasus secara keseluruhan menurun dibanding penemuan kasus tahun 2007 terutama untuk yang TBC BTA positif menurun cukup tinggi sebesar 255 kasus, ini bisa terjadi karena adanya pemekaran wilayah Kabupaten Lampung Selatan sehingga sebagaian kasus TB Paru BTA positif yang pada tahun 2007 dicatat di Lampung Selatan pada tahun 2008 dicatat di Kabupaten Pesawaran tetapi untuk kasus TBC BTA negatif RO positif justru meningkat cukup tajam sebesar 79 kasus, hal bisa terjadi karena banyaknya kiriman dari Rumah Sakit maupun praktek swasta yang mengandalkan RO dan telah diberi obat terlebih dahulu baru dikirkan ke Puskesmas sehingga bila diperiksa BTA sudah sulit ditemukan.

Sumber : Laporan program P2 TB Kab.Lamsel tahun 2008

Grafik di atas menunjukkan Proporsi Penderita TBC Paru BTA Positif diantara semua penderita TBC Paru tercatat, secara Kabupaten Proporsi ini belum baik, bila dilihat per Puskesmas juga masih ada beberapa puskesmas yang masih kurang, karena angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65 %. Sedangkan Proporsi TB Paru BTA Positif diantara suspect yang paling baik adalah 10 %, pada tahun 2008 proporsi ini angka Kabupaten sebesar 13 % ini menunjukkan penjaringan suspect masih terlalu ketat untuk lebih jelasnya per Puskesmas dapat dilihat pada grafik di bawah ini :

GRAFIK 4.23

Sumber : Laporan program P2 TB Kab.Lamsel tahun 2008

GRAFIK 4.24


Penderita TB paru tahun 2008 sebagian besar menyerang kelompok usia produktif, di Kabupaten Lampung Selatan golongan umur yang terserang sebesar 77 % yaitu pada kelompok usia 15-54 th.

Angka kesembuhan per Puskesmas bervariasi untuk yang telah mencapai target ( 85 % ) ada 8 Puskesmas untuk selengkapnya dapat dilihat di grafik di bawah ini :

GRAFIK 4.25


Bila dilihat Cure Rete tahun 2007 yang dievaluasi pada tahun 2008 sudah cukup baik walaupun secara Kabupaten belum memenuhi target baru mencapai 80,1 % sedangakan targetnya > 85 %, tetapi untuk CDR tahun 2007 secara Kabupaten baru tercapai 38,0 % dari target 70% ini kesenjangannya masih cukup tinggi, bila dilihat per Puskesmas bervariasi ada yang CDR tinggi Cure Rate juga tinggi, CDR rendah Cure Rate tinggi, CDR rendah Cure Rate juga rendah lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel diatas.

Hasil pengobatan ulang penderita TBC BTA positif dengan angka kesembuhan dibawah target 50 % dan untuk angka Pengobatan lengkap sebesar 30 % hal ini menimbulkan kekhawatiran bila ternyata orang yang pengobatan lengkap tersebut BTA nya masih positif, tetapi disini masih menjadi pertanyaan karena tidak ada hasil pemeriksaan. Yang memprihatinkan ada yang gagal yaitu 1 orang (10%), ini dari Puskesmas Natar, setelah diadakan uji resistensi ternyata resisten terhadap semua komponen OAT, pasien tersebut sekarang dirujuk ke RS.

Angka konversi penderita TB paru yang diobati Pada tahun 2008, secara keseluruhan sudah mencapai target nasional yaiitu sebesar 82,3 % sedangkan target nasional sebesar minimal 80%. Untuk evaluasi konversi tahun 2008 diambil dari penderita-penderita TB Paru BTA Positif yang ditemukan pada Triwulan IV tahun 2008, Triwulan I tahun 2008. triwulan II tahun 2008 dan triwulan III tahun 2008. Meskipun target konversi secara Kabupaten sudah tercapai tetapi masih ada Puskesmas yang belum mencapai target. lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini :

Sumber : Laporan program P2 TB Kab.Lamsel tahun 2008

Untuk angka konversi per Puskesmas dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

GRAFIK 4.27


Sumber : Laporan program P2 TB Kab.Lamsel tahun 2008

Dari 24 Puskesmas sudah 17 Puskesmas yang angka koversi sudah mencapai target yaitu minimal 80 % sedangkan 7 Puskesmas belum mencapi target.

Hasil cross cek sepesiemen TB Paru tahu 2008 dari Puskesmas melalui Dinas Kesehatan Kab. Lampung Selatan ke Balai Laboratorium Kesehatan Bandar Lampung memperoleh hasil sebagai berikut :

TABEL 4.5

HASIL ANGKA KONVERSI TB PARU BTA POSITIF

MELALUI BALAI LABORATORIUM KESEHATAN BANDAR LAMPUNG TAHUN 2008



Keterangan :

X = tidak sesuai indikator

V = sesuai dengan indikator

Add comment November 4, 2009

Kasus Kematian Bayi dan Balita

Infant Mortality Rate atau Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat, baik pada tatanan kabupaten, provinsi maupun nasional. Selain itu, program-program kesehatan di Indonesia banyak yang menitikberatkan pada upaya penurunan AKB. Angka Kematian Bayi merujuk kepada jumlah bayi yang meninggal pada fase antara kelahiran hingga bayi belum mencapai umur 1 tahun per 1000 kelahiran hidup.

Angka kematian bayi Kabupaten Lampung Selatan berdasarkan hasil  Susenas Propinsi Lampung Tahun 2002, untuk laki-laki sebesar 46/1000 kelahiran hidup, dan untuk perempuan sebesar 45/ 1000 kelahiran hidup, total kematian bayi sebesar 40/1.000 kelahiran hidup. Untuk target Indikator IIS 2010 adalah 40 per 1.000 kematian bayi.

Kasus kematian bayi di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2004 sebesar 236 bayi . Kemudian pada tahun 2005  menjadi 238 kasus, tahun 2006 turun menjadi 227 kasus, kemudian kembali meningkat menjadi 248 kasus di tahun 2007, pada tahun 2008 menurun menjadi 113 kasus

GRAFIK 4.4

KASUS KEMATIAN BAYI  KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2004 – 2008

untitled

Sumber: Subdin Yankes Dinkes Kab.Lamsel Tahun 2004 s.d 2008

Dari tabel di atas terlihat kasus kematian bayi di Kabupaten Lampung Selatan selama 5 tahun sangat fluktuatif, namun rata- rata berkisar 200 kasus per tahunnya. Angka Kematian Bayi (AKB) pada tahun 2008 merupakan jumlah kasus terendah selama 5 tahun terakhir. Namun  kasus kematian bayi ini masih perlu mendapat perhatian karena masih tingginya kasus lahir mati (24 kasus).

Kecenderungan penurunan AKB dapat dipengaruhi oleh pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya. Pendapatan masyarakat meningkat juga dapat berperan melalui perbaikan gizi yang pada gilirannya mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.

Penyebab kematian pada bayi di tahun 2008 dapat dilihat pada grafik di bawah ini

GRAFIK 4.5

PERSENTASE PENYEBAB KEMATIAN BAYI

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2008

untitled

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2008

Grafik di atas menunjukkan penyebab kematian bayi berdasarkan semua golongan  umur, dimana penyebab kematian tertinggi adalah Asfixia sebanyak 38,05% (43 kasus), Lain-lain 30,97% (35  kasus) dan BBLR 25,66% (29 kasus).

Dalam upaya menghindari terjadinya kasus lahir mati, asfixia dan kelainan maupun gangguan kesehatan pada bayi maka upaya peningkatan pelayanan ANC dari bidan maupun persalinan didampingi tenaga kesehatan  perlu lebih mendapatkan perhatian. Juga peran serta kader kesehatan untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil khususnya bagi ibu hamil kategori keluarga miskin untuk memeriksakan kehamilannya ke petugas kesehatan maupun bidan, penyuluhan kepada masyarakat untuk lebih memperhatikan ibu hamil baik perlakuan, motivasi dan intake gizi yang ideal.

Berdasarkan golongan umur, kasus kematian terbanyak adalah pada masa perinatal yaitu antara 0-7 hari. Untuk melihat distribusi penyebab kematian bayi per puskesmas terlampir pada lampiran tabel 7b.

GRAFIK 4.6

PENYEBAB KEMATIAN BAYI PER GOLONGAN UMUR

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2008

untitled

Tabel di atas menunjukkan kematian di luar masa neonatal dan perinatal. Untuk penyebab lain-lain kasus kematian bayi dapat dijelaskan banyak faktor misalnya plasenta previa, ikterus, dan faktor obstetri lainnya.

Kasus Kematian Balita

Angka Kematian Balita atau AKABA menggambarkan peluang untuk meninggal pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. Badan Pusat Statistis menyebutkan bahwa AKABA pada tahun 2007 sebesar 44 per 1000 kelahiran hidup. Target IIS 2010 sebanyak 58/1.000 kelahiran hidup. Data kasus kematian balita di Kabupaten Lampung Selatan  periode tahun 2007 dan tahun 2008 tidak terjadi kematian pada balita (0 kasus). Sementara 2 tahun sebelumnya terjadi 1 kasus kematian balita

Add comment November 3, 2009

KASUS KEMATIAN IBU KAB. LAMPUNG SELATAN

Kematian Ibu Maternal senantiasa menjadi indikator keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan. Kematian Ibu mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan, persalinan dan nifas. Status kesehatan masyarakat Lampung Selatan salah satunya dilihat dari kasus kematian ibu. Grafik dibawah ini memaparkan kasus kematian ibu yang terjadi di Kabupaten Lampung Selatan selama kurun waktu lima tahun

GRAFIK 4.2

TREND KASUS KEMATIAN IBU DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

PADA TAHUN 2004 – 2008

untitled

Bila dibandingkan dengan Indikator Indonesia Sehat 2010 untuk AKI yaitu 150 / 100.000 kh, Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2008 untuk kasus kematian ibu masih di bawah target yaitu sebesar 70,34 / 100.000 kh.

 

Jika dilihat dari golongan sebab sakit, kasus obstetri terbanyak pada tahun 2008 yang menyebabkan kematian adalah disebabkan oleh perdarahan.

Hal ini nampak pada diagram  berikut ini :

GRAFIK 4.3

PERSENTASE PENYEBAB KEMATIAN IBU

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2008

untitled

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2008

 

Dari 14 kasus kematian ibu yang terjadi di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2008, kasus perdarahan terjadi di 7 wilayah puskesmas yaitu di puskesmas Tanjung Agung dan Sukadamai masing-masing 2 kasus; di puskesmas Palas, Tanjung Bintang, Natar masing-masing 1 kasus. Untuk kasus eklampsia terjadi di puskesmas Kalianda 2 kasus, dan di Puskesmas Tanjung Agung dan Natar masing-masing 1 kasus. Sedangkan untuk kasus Aborsi terjadi di Puskesmas Way Muli 1 kasus. Untuk point lain-lain 2 kasus kematian saat persalinan tidak diketahui (tabel 7a).

Penyebab kematian berdasarkan kelompok ibu maternal, semua kematian terjadi pada saat ibu bersalin.

Add comment November 2, 2009

SITUASI DERAJAT KESEHATAN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

 

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Derajat kesehatan yang merupakan pencerminan kesehatan perorangan, kelompok maupun masyarakat  digambarkan dengan umur harapan hidup, mortalitas, morbiditas dan status gizi masyarakat. Sehat dalam pengertian secara luas, yakni bukan saja bebas dari penyakit dan kecacatan tetapi juga tercapainya keadaan kesejahteraan baik fisik, sosial dan mental.

Analisa Derajat kesehatan yang optimal dapat dilihat dari unsur kualitas hidup serta unsur mortalitas, morbiditas dan status gizi.

 

Angka Harapan Hidup (Life Expentancy Rate)

Umur harapan hidup (UHH) digunakan untuk menilai derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat baik kabupaten/kota, provinsi maupun Negara. UHH juga menjadi salah satu indikator dalam mengukur Indeks Prestasi Manusia. Adanya perbaikan pada pelayanan kesehatan melalui keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan dapat diindikasikan dengan adanya peningkatan umur harapan hidup saat lahir. Badan Pusat statistik mengestimasikan UHH di Indonesia tahun 2007 sebesar 69,09.Provinsi dengan estimasi UHH tertinggi pada tahun 2007 adalah DIY sebesar 74,56 yang diikuti oleh DKI Jakarta sebesar 74,42 dan Bali sebesar 73,29. Sedangkan Nusa Tenggara Barat menjadi provinsi dengan UHH terendah sebesar 63,25

Di Kabupaten Lampung Selatan umur harapan hidup berdasarkan sumber BPS Provinsi lampung Tahun  2003 65,2 tahun 2004 66,2, tahun pada tahun 2005 67,4, tahun 2006 67,5 dan tahun 2007 68,0.(data tahun 2008 belum tersedia)

Angka harapan hidup waktu lahir tahun 2003-2007 Kabupaten Lampung Selatan dapat dilihat pada diagram berikut :

untitled

Sumber : BPS Provinsi Lampung

Salah satu indkator derajat kesehatan masyarakat adalah angka umur harapan hidup, sehingga tingginya umur harapan hidup menunjukkan tingkat taraf hidup suatu negara. Berdasarkan Kepmenkes Nomor 1202/MENKES/SK/VIII/2003 tentang IIS 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat, target 2010 untuk Angka Harapan Hidup Waktu Lahir adalah 67,9 tahun.

Berdasarkan hasil susenas 2002 umur harapan hidup di Kabupaten Lampung Selatan adalah 65 tahun untuk laki-laki dan rata-rata 67 tahun untuk wanita. Berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 2005, tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004 – 2009, telah ditetapkan bahwa target umur harapan hidup diharapkan meningkat dari 62,2 tahun menjadi 70,6 tahun.

Add comment November 2, 2009


SELAMAT DATANG

Ass ..... Selamat Datang Web Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan ini merupakan Langkah awal dari Situs Web Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan yang masih dalam proses pembuatan ,terima kasih diucapkan buat Seluruh Pihak yang Telah mendukung sehingga Situs Web Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan dapat Online, Kami persilahkan untuk mempergunakan data yang tersedia, Kami juga mohon dukungan kritik dan saran yang membangun dari rekan - rekan untuk mencapai kesempurnaan dalam penyajian informasi Kesehatan yang bermanfaat bagi Kami, Kita semua dan Masyarakat. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan KAMI-MOHON-MAAF, Semoga dimaklumi Pengelola SIK Lampung Selatan

Kategori

TANGGALAN

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Image and video hosting by TinyPic

FORUM DISKUSI KESEHATAN

Image and video hosting by TinyPic

GOUP FACEBOOK DINKES LAMSEL

Image and video hosting by TinyPic

Arsip

Alamat Link Kesehatan

Blogroll

Download

PUSKESMAS

Komentar

p4n5 di Mengubah Wajah 10 Ribu De…
Sandy Gunarso WIjoyo di Mengubah Wajah 10 Ribu De…
p4n5 di SURVEILANS PENYAKIT DAN MASALA…
Yuki di FAKTA FLU BABI
accimun di Pengertian, Definisi dan Cara …

Status

Image and video hosting by TinyPic

Tulisan Teratas

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic