Mengubah Wajah 10 Ribu Desa

September 4, 2008

jamban.jpgSejak 63 tahun Indonesia merdeka, ternyata negeri ini belum merdeka dari buang air besar (BAB) sembarangan dan sanitasi lingkungan yang buruk. Fakta menunjukkan, lebih dari 30 ribu desa di Indonesia kondisi sanitasinya sangat memprihatinkan. Tak mengherankan bila sering muncul penyakit terkait sanitasi seperti diare, kolera, dan typhoid.

Pembangunan selama Orde Baru dan dilanjutkan oleh Orde Reformasi ternyata belum menyentuh sektor sanitasi secara signifikan. Urusan-urusan kotor dan di belakang rumah seperti tinja, sampah, dan limbah, belum menjadi perhatian. Kalau toh ada, tidak menjadi prioritas pembangunan.

Selama Indonesia merdeka, baru tahun ini keluar undang-undang yang mengatur masalah pengelolaan sampah. Soal yang lain, jangan ditanya. Masih jadi impian. Padahal sanitasi merupakan pangkal yang menentukan sehat dan tidaknya manusia karena banyak penyakit tergantung kondisi sanitasi ini, khususnya penyakit berbasis lingkungan.

Program-program menuju sanitasi yang baik bukannya tidak ada. Dulu ada yang namanya program Inpres Samijaga (sarana air minum dan jamban keluarga) No 5 Tahun 1974. Sayangnya, program itu belum menjadi gerakan yang massif untuk mengubah kondisi lingkungan masyarakat serta perilaku mereka. Malah di beberapa tempat, banyak proyek pembangunan di bidang sanitasi hanya menjadi monumen.

Memang bukan pekerjaan mudah mengubah perilaku hidup masyarakat. Butuh kerja keras dan berkesinambungan. Soalnya ini terkait dengan perubahan paradigma berpikir masyarakat terhadap sesuatu, dalam hal ini kebiasaan sehari-hari dan padangan terhadap lingkungan di sekitarnya. Pembangunan fisik saja, tanpa ada perubahan perilaku mengakibatkan sarana yang dibangun tidak terpelihara. Ini banyak terjadi pada masa lalu.

Terobosan

Berbagai pendekatan tradisional pernah dilakukan oleh pemerintah dalam membangun sanitasi ini. Misalnya, membangun ribuan MCK, mendistribusikan jamban keluarga secara cuma-cuma atau dalam bentuk paket materi stimulant untuk konstruksi, mendistribusikn uang kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman bergulir. Semua terfokus pada bantuan fisik.

Bisa dibilang pendekatan tersebut kurang berhasil. Kini pemerintah mencoba terobosan baru yang diberi nama Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). STBM ini menggunakan pendekatan CLTS (Community Led Total Sanitation) yang cukup sukses diterapkan di India dan beberapa negara miskin lainnya. Rabu, 20 Agustus 2008, program ini diluncurkan oleh Menkes Siti Fadilah Supari di hadapan peserta Konferensi Nasional Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga di Jakarta.

Sebelum diluncurkan, program ini telah diujicobakan di enam kabupaten pada tahun 2005. Hasilnya terbilang sukses. Desa-desa yang menjadi pilot project bebas dari buang air sembarangan. Muncul kesadaran baru pada warga masyarakat akibat pemicuan yang mengguncang kesadaran mereka. Dengan sukarela mereka membangun jamban dan meninggalkan kebiasaan buruk BAB di kali, kebun, dan lainnya.

Untuk lebih meyakinkan, Depkes mereplikasi program tersebut pada tahun 2006 dfan 2007. ‘’Hasilnya cukup menggembirakan yaitu adanya perubahan perilaku stop buang air besar di sembarang tempat di sekitar 160 desa pada tahun 2006 dan 450 desa/komunitas pada tahun 2007,’’ kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan I Nyoman Kandun.

Tahun ini, pemerintah mencanangkan 10 ribu desa dari 214 kabupaten/kota di 27 provinsi menerapkan pendekatan ini. Ini baru menjangkau sepertiga dari jumlah desa yang terkategori memiliki sanitasi buruk. Sekitar 20 ribu desa lainnya masih menunggu, kecuali ada inisiatif lain dari pihak-pihak yang peduli untuk memacu pembangunan sanitasi tersebut.

Pendekatan STBM ini memang tergolong unik. Mengapa? Karena tidak ada subsidi atau hal lainnya terkait bantuan dari pihak luar untuk pembangunan jamban keluarga. Warga masyarakat dipicu untuk bergerak membangun sendiri kebutuhannya berdasarkan kesadaran baru yang dimilikinya. Pendekatan ini pun tidak ada instruksi, dalam hal ini mengajak masyarakat untuk membuat jamban, dan tidak menunjukkan tipe-tipe jamban tertentu. Yang terpenting adalah keberhasilan diukur dari perubahan perilaku oleh seluruh komunitas, bukan dengan menghitung jumlah jamban keluarga yang dibangun.

Perubahan amsyarakat tersebut terjadi karena adanya fasilitasi dan pemicuan. Semua keputusan diserahkan kepada masyarakat setelah mereka menganalisis kondisi mereka sendiri. Proses tersebut memunculkan pemimpin-pemimpin informal yang secara spontan mau untuk menginisiasi perubahan.

Program ini memberi harapan bagi perbaikan sanitasi ke depan. Jika ini sukses, tingkat kejadian penyakit akibat lingkungan bisa ditekan, banyak anggaran untuk penanganan penyakit bisa dihemat. Dan cita-cita Indonesia Sehat 2010 bisa menjadi kenyataan.

Entry Filed under: Pelayanan. Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

6 Comments Add your own

  • 1. bajulbuntung  |  September 4, 2008 at 11:22 am

    Indonesia sehat 2010
    Mari Kita sambut Indonesia Sehat 2010. Bersama kita Maju.

    Balas
  • 2. azmi  |  September 27, 2008 at 4:46 pm

    Kesuksesan / CLTS di 450 desa / komunitas umumnya hanya sebatas terjadinya peningkatan kepemilikan dan akses penggunaan jamban. Pada hal keberhasilan CLTS di India seperti yang anda sebutkan itu tidak sekedar peningkatan kepemilikan dan akses, tapi pencapaian ODF (open defecation free). Di Indonesia sejak tahun 2005 sampai dengan Juni 2008 baru 62 desa yang ODF dari 509 yang digarap. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara kita bisa optimis 10.000 desa berhasil hingga 2010. Atau, sekedar peningkatan saja seperti pendekatan jambanisasi seperti terdahulu? Bagaimana kalau di Lampung Selatan? Mohon jawabannya.

    Balas
  • 3. arbai  |  November 25, 2008 at 2:43 pm

    Betul kata Azmi. Untuk keberhasilan CLTS (baca ODF) perlu strategi dan taktik yang jitu. Tidak cukup gitu-gitu saja. Jangan sampai saat dipicu heboh tapi giliran buat jamban malah sepi. (Lumajang-Jatim)

    Balas
  • 4. Jessica  |  Januari 21, 2009 at 7:30 am

    CLTS emang unik, tapi masih bingung sama proses monitoringnya, gimana ya? apa cuma dimonitor dari jumlah jamban yang dibuat oleh masyarakat atau dengan mengukur perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat? itu juga kayanya perlu dibagi lagi, masyarakat yang diberi pemicuan sama yang ngga ikut pemicuan..apa yang ngga ikut pemicuan ‘ketularan’ juga sama yang ikut..btw lagi nyari2 kuesionernya untuk monitoring..ada ga ya?

    Balas
  • 5. Sandy Gunarso WIjoyo  |  November 3, 2009 at 11:42 am

    Salam Kenal,
    Saya Sandy dari DAAI TV Jakarta.

    Begini Pak/Ibu, setelah kami membaca artikel di atas, kami tertarik untuk memvisualkan / membuat dokumentasi filmnya untuk tayangan di DAAI TV Jakarta.

    Bersamaan kami mengadakan kunjungan ke Lampung, maka kami ingin mendokumentasikan kegiatan sanitasi yang baik seperti di tulis dalam artikel.
    Tujuannya tak lain untuk memberikan contoh positif bagi kesehatan di desa-desa lain yang berada di Indonesia.

    Untuk itu, bila Bapak/Ibu mengijinkan kami untuk meliput, maka tolong berikan kami alamat dimana sanitasi tersebut dilakukan.
    silahkan Bapak/Ibu kirimkan alamat tersbeut ke vitaminanas@gmail.com.

    Terima kasih

    Balas
    • 6. p4n5  |  November 4, 2009 at 7:50 am

      Terimakasih Atas Perhatian Saudara,
      Tawaran Saudara Akan kami diskusikan terlebih dahulu dengan bagian yang sanitasi dan akan kami informasikan kepada anda hasilnya

      Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT DATANG

Ass ..... Selamat Datang Web Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan ini merupakan Langkah awal dari Situs Web Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan yang masih dalam proses pembuatan ,terima kasih diucapkan buat Seluruh Pihak yang Telah mendukung sehingga Situs Web Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan dapat Online, Kami persilahkan untuk mempergunakan data yang tersedia, Kami juga mohon dukungan kritik dan saran yang membangun dari rekan - rekan untuk mencapai kesempurnaan dalam penyajian informasi Kesehatan yang bermanfaat bagi Kami, Kita semua dan Masyarakat. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan KAMI-MOHON-MAAF, Semoga dimaklumi Pengelola SIK Lampung Selatan

Kategori

TANGGALAN

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Image and video hosting by TinyPic

FORUM DISKUSI KESEHATAN

Image and video hosting by TinyPic

GOUP FACEBOOK DINKES LAMSEL

Image and video hosting by TinyPic

Arsip

Alamat Link Kesehatan

Blogroll

Download

PUSKESMAS

Komentar

p4n5 di Mengubah Wajah 10 Ribu De…
Sandy Gunarso WIjoyo di Mengubah Wajah 10 Ribu De…
p4n5 di SURVEILANS PENYAKIT DAN MASALA…
Yuki di FAKTA FLU BABI
accimun di Pengertian, Definisi dan Cara …

Status

Image and video hosting by TinyPic

Tulisan Teratas

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic