Upaya Pemberantasan Penyakit Menular
Juni 18, 2008 at 3:47 am Tinggalkan Komentar
- Program Imunisasi
Pada tahun 2007 hasil kegiatan program imunisasi mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2006, sedangkan Desa Non UCI pada tahun 2007 berjumlah 68 desa menurun bila dibandingkan desa Non UCI 2006 yaitu 77 desa. Namun perlu menjadi perhatian kita adalah bahwa target desa UCI 100%.
Cakupan yang telah dicapai dari kegiatan imunisasi selama tahun 2007 berdasarkan laporan Puskesmas sampai dengan bulan Desember tahun 2007 adalah sebagai berikut :
Tabel 12
Data Cakupan Imunisasi Rutin Kabupaten Lampung Selatan
Tahun 2007
Sumber : Sie Imunisasi
Untuk jangkauan pelayanan imunisasi pada masyarakat digambarkan oleh cakupan DPT-1. Selama tahun 2007 hasil cakupan imunisasi cakupan imunisasi DPT-1 Kabupaten Lampung Selatan mencapai 94,8%. Sedangkan sebagai indikator dari jangkauan perlindungan bayi digambarkan dari hasil pencapaian cakupan imunisasi campak. Pada tahun 2007 hasil cakupan imunisasi campak untuk Kab. Lampung Selatan mencapai 90,1%.
Untuk kegiatan imunisasi Ibu hamil yang dijadikan indikator pencapaian hasil kegiatan adalah hasil cakupan imunisasi TT-2. Dari hasil cakupan imunisasi TT-2 Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 mencapai 81,4% .
Pada tahun 2007 cakupan imunisasi HB 0-7 Hari di Kabupaten Lampung Selatan masih di bawah target yaitu 40,4%.
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007
Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa cakupan imunisasi antigen BCG, DPTHB 1, DPTHB3, Polio4, HB 0-7 Hr dan Campak I pada tahun 2007 lebih tinggi jika dibandingkan cakupan pada tahun 2006.
Sebagai indikator Universal Child Immunization (UCI) adalah cakupan imunisasi Campak lebih dari 80%.
Tabel 13
Data Kecamatan dan Desa UCI Kabupaten Lampung Selatan
Tahun 2007
Sumber : Sie Imunisasi dan Surveylance
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa desa UCI di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 meningkat yaitu 82,5% (312 desa) meningkat jika dibandingkan pada tahun 2006 hanya 79,6% (301 desa).
Kegiatan pemberian imunisasi TT kepada Wanita Usia Subur (WUS) di Kabupaten Lampung Selatan sampai dengan Tahun 2007.
Tabel 14
Data Cakupan Kegiatan TT WUS Kabupaten Lampung Selatan
Tahun 2007
Sumber : Sie Imunisasi dan Surveylance
Dengan melihat tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pencatatan dan pelaporan untuk program TT WUS kurang baik, hal ini tercermin dendan TT 4 lebih kecil dari pada TT 5. untuk itu ke depan perlu ada kegiatan perbaikan pencatatan dan pelaporan.
- Program Surveylance
Program surveylance terdiri dari : Surveylance Epidemiologi Tetanus Neonatorum; Surveilans Epidemiologi Acute Flaccid Paralysis (AFP); Surveylance Epidemiologi Campak. Pengumpulan data program surveilans bersumber dari :
· Laporan Surveilans Terpadu Penyakit (STP) puskesmas
· Laporan Mingguan (W-2)
· Laporan Campak (C-1)
a. Surveylance Epidemologi TN
Salah satu Komitmen Global yaitu Eliminasi Tetanus Neonatorum (TN), dengan menyangkut lintas program yaitu :
1. Pertolongan Persalinan
2. Imunisasi TT
3. Surveilans TN
Kasus konfirm adalah bayi lahir hidup normal dapat menangis dan menetek selama 2 hari pertama kehidupan, timbul gejala sulit menetek disertai kejang pada rahang (mencucu) dan kaku leher, karena rangsangan dapat terjadi sejak umur 3-28 hari tanpa pemeriksaan.
Cara penularan, melalui infeksi tali pusat bayi yang disebabkan karena :
· Pemotongan tali pusat dengan alat yang terkontaminasi spora C. tetani
· Luka pusar bayi diobati / diberi ramuan yang terkonaminasi spora C. tetani
· Cara transmisi langsung atau tidak langsung melalui luka
upaya – upaya yang telah dilaksanakan antara lain : Melaksanakan sosialisasi Penyakti TN dan Imunisasi TT pada kader posyandu dan tokoh masyarakat ; Melakukan sweeping imunisasi TT pada Wanita Usia Subur; Melakukan evaluasi program setiap triwulan dan akhir tahun; Koordinasi dengan seksi Kesehatan Keluarga untuk mengetahui persalinan tenaga kesehatan dan otopsi verbal kematian neonatus.
b. Surveylance Epidemiologi AFP
Pada tahun 2007 penemuan AFP tidak mencapai target, yaitu seharusnya 8 (delapan) kasus sedangkan tercapainya 7 (tujuh) kasus. Bila dibandingkan dengan tahun 2006 ada penurunan karena penemuan kasus pada tahun 2006 sebanyak 10 (sepuluh) kasus.
Sumber : Sie Imunisasi & Surveylance
Sumber : Sie Imunisasi & Surveylance
Pada diagram Pie tersebut, kasus terbanyak adalah anak pra sekolah, hal ini sangat dimungkinkan karena anak pra sekolah memiliki jangkauan bermain dan kompok bermain yang lebih luas, sehingga faktor resiko penularannya pun menjadi lebih besar. Namun semua kasus telah mendapatkan imunisasi melalui PIN sebesar 100%.
c. Surveylance Epidemiologi Campak
Hasil Surveylance Epidemiologi Campak tahun 2007 yaitu kasus campak menurut bulan terbanyak bulan Februari dan Agustus 2007 tetapi dari seluruh kasus yang ada dengan status imunisasi terbanyak pada bulan Januari dan November 2007.
Hasil Evaluasi Subdin P2PLP Tahun 2007 menyatakan distribusi kasus campak terdistribusi hampir merata di semua puskesmas walaupun cakupan imunisasi campak berbeda, hal ini dapat terjadi karena beberapa hal sbb :
1. Proses perjalanan vaksin yang buruk (cold chain buruk) sehingga merusak kualitas vaksin campak tersebut, yang pada akhirnya efikasi yang diizinkan 85% tidak tercapai
2. Tata laksanakan pemberian imunisasi oleh tenaga kesehatan
3. Validitas data cakupan imunisasi campak dan kasus campak rendah.
- Surveylance Terpadu Penyakit (STP) dan W2
v Program P2 Diare
Dari grafik minimal dan maksimal diare di Kabupaten Lampung Selatan, untuk penyakit diare terjadi peningkatan kasus di atas ambang batas maksimal pada minggu ke-2 sd.ke-5, minggu ke-30, minggu ke-36 sd.29 dan minggu ke-42 tetapi terjadi penurunan yang cukup drastis setelah minggu ke-46.
Sumber : Sie Imunisasi
Beberapa kegiatan yang direkomendasikan dalam rangka antisipasi KLB diare adalah antara lain :
a) Kaporisasi sumber air masyarakat
b) Penyuluhan pola hidup bersih dan sehat terutama pada penggunaan air bersih pada rumah tangga
c) Surveilans ketat pada desa-desa yang mempunyai IR diare tinggi, melalui pembuatan pos-pos pelayanan kesehatan di tingkat dusun untuk respon terhadap tejadinya KLB diare.
d) Penggunaan teknologi tepat guna pada pengolahan air bersih di tingkat pedesaan.
Bersumber dari Program P2 Diare, jumlah kasus diare pada balita tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan sejumlah 24.480 kasus (table 10) dan 100% kasus mendapat penanganan (Target 100%). Angka kesakitan mencapai 1,90 / 1000 penduduk.
v Program P2 DBD
Penyakit DBD telah menjadi status KLB sepanjang tahun 2007, kecuali pada bulan Dersember, karena adanya data tahun 2007 selalu di atas data maksimal empat tahunan (Kasus maksimal periode tahun 2003-2007).
GRAFIK 38
Bahwa derajat kesehatan dengan indikator Insidens DBD, puskesmas yang harus waspada dan menggiatkan kegiatan program DBD pada Puskesmas tersebut dengan cara Intervensi lintas program yang dapat dilakukan :
1. Penyuluhan tentang penyakit DBD dengan gejala klinis segera merujuk ke RSUD terdekat, sehingga pengobatan sesuai dengan diagnosa yang ditegakkan.
2. Peningkatan program Kesehatan Lingkungan terutama lingkungan perindukan nyamuk
3. Pemantauan jentik berkala (PJB) pada 100 rumah, setiap desa endemis (bebas jentik 95%).
4. Abatisasi sebagai salah satu tindakan pencegahan.
v Program P2 Malaria
Berdasarkan grafik maksimal minimal kabupaten tahun 2007, tergambar situasi penyakit malaria yaitu belum menjadi masalah akan terjadi KLB.
GRAFIK 39
Sumber : Hasil Evaluasi Subdin P2PLP
Bersumber dari pemegang program P2 Malaria, tercatat sebanyak 2.197 orang positif mengidap malaria dari 11.418 orang yang klinis (19,24%). Dari penderita malaria positif, 100% dilakukan pengobatan yaitu diobati sesuai standar yang ada (target 100%).
Malaria klinis diartikan kasus dengan gejala klinis malaria yaitu demam tinggi disertai menggigil. Sementara malaria positif adalah kasus klinis dengan pemeriksaan sediaan darah di laboratorium.persentase SDR mencapai 43,17%.
Program P2 Malaria secara umum bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan malaria di daerah prioritas serta mencegah terjadinya KLB malaria sedini mungkin. Secara khusus bertujuan :
a. Mencegah dan menanggulangi KLB Malaria secara dini
b. Menurunkan angka kesakitan dan kematian > 50 % tahun 2010 dibandingkan tahun 2000.
c. Menigkatkan Kegiatan Program Pemberantasan melalui pola kemitraan dengan instansi dan lembaga terkait lainnya.
Adapun sasaran penanggulangan penyakit malaria adalah seluruh penduduk di wilayah Kabupaten Lampung Selatan dan perioritas daerah endemis malaria.Sedangkan target Program P2 Malaria adalah :
a Pengobatan dan penemuan 100 % tertangani.
b Melindungi Penduduk di desa endemis terutama Balita dan Ibu Hamil > 80 % dari gigitan nyamuk malaria
c Menurunnya Kasus malaria klinis di daerah endemis malaria
Sementara untuk fasilitas ketenagaan dari 32 Puskesmas yang ada hanya 13 Puskesmas saja (30 %) yang memiliki ketenagaan petugas P2 Malaria, sehingga dapat dipahami dampak dari kurangnya tenaga mikroskopis akan berdampak rendahnya cakupan pemeriksaan sediaan darah malaria. Diharapkan kedepan harus ada formasi untuk tenaga Mikroskopis, dalam jangka pendek harus melatih tenaga yang ada di puskesmas.
GRAFIK 40
Sumber : Evaluasi Program P2PLP
Sementara untuk angka Insident malaria Klinis (AMI) tahun 2007 untuk tingkat Kabupaten hanya 8,93 ‰ tetapi dilihat Per Puskesmas ada beberapa Puskesmas yang AMI sangat tinggi dengan urutan pertama Puskesmas Way Muli (136,72 ‰), kedua Puskesmas Hanura (78,87 ‰) dan ketiga Puskesmas Bakauheni(19,13 ‰), keempat Puskesmas Pedada (18,88 ‰) dan kelima Puskesmas Bandar Agung (12,66 ‰) .
GRAFIK 41
Untuk persentase sediaan darah yang diperiksa Per-Puskesmas Kab lampung Selatan Tahun 2006 dan 2007 untuk tingkat Kabupaten terjadi peningkatan yaitu 41,65 % atau diperiksa 5.338 dari (12.837 kasus tahun 2006 meningkat menjadi 43,3 % atau 4.959 Kasus klinis dari 11.454 kasus klinis diperiksa sediaan darah malaria di tahun 2007, sedangkan bila dilihat per-Puskesmas se-Kab lamp selatan bila dibandingkan antara tahun 2006 dan 2007 terjadi fluktuatif , tapi rata-rata terjadi peningkatan seperti :
1. Puskesmas Bakauheni (0%), tahun 2006 meningkat menjadi 4,8 % tahun 2007.
2. Puskesmas Way Muli (46%), tahun 2006 meningkat menjadi 78,6 % tahun 2007
3. Puskesmas Sidomulyo (4‰), tahun 2006 meningkat menjadi 51,4% tahun 2007
4. Puskesmas Kalianda (63%), tahun 2006 meningkat menjadi 65,2% tahun 2007
5. Puskesmas Karang Anyar (10%), tahun 2006 meningkat menjadi 16,3% tahun 2007
6. Puskesmas Natar (20‰), tahun 2006 meningkat menjadi 33% tahun 2007
7. Puskesmas Kedondong (19,83‰)
8. Puskesmas Pedada (10%), tahun 2006 meningkat menjadi 11,4% tahun 2007
Untuk Puskesmas yang persentase pemeriksaan sediaan darah terjadi penurunan adalah :
1. Puskesmas Padang Cermin (85 %), tahun 2006 menurun menjadi 75% pada tahun 2007
2. Puskesmas Hanura (88 %), tahun 2006 menurun menjadi 83% pada tahun 2007
3. Puskesmas Pedada (0,95 %), tahun 2006 menurun menjadi 75% pada tahun 2007.
v Typhus Klinis
Typhus klinis merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan yang angka kejadian kasusnya di Kabupaten Lampung Selatan cukup merata di 32 puskesmas tahun 2007.
GRAFIK 42
Sumber : Hasil Evaluasi Subdin P2PLP
Prevalen Rate Penyakit typhus klinis tertinggi di Puskesmas Trimulyo (1,93%) dan Kalianda (1,78%), dan paling sedikit di Puskesmas Sidoharjo (0,01%).
v Influenza
Situasi penyakit influenza di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, terlihat dari grafik di bawah ini.
GRAFIK 43
Sumber : Hasil Evaluasi Subdin P2PLP
Melihat grafik di atas bahwa pada tahun 2007 terjadi peningkatan Prevalen Rate influenza di Puskesmas Trimulyo sebanyak 5,03 per 100 penduduk.
v Hepatitis Klinis
Bersumber dari Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007, sebanyak 249 kasus hepatitis klinis terjadi di Kabupaten Lampung Selatan sepanjang tahun 2007 (tabel 14). Bahwa terjadi adanya perubahan lokasi penyakit hepatitis klinis pada tahun 2007, yaitu dari Puskesmas Pedada ke Puskesmas Way Urang, dengan distribusi wilayah lebih merata dibandingkan tahun 2006.
GRAFIK 44
1. Program P2 TB Paru
|
Pada tahun 2007 Program P2 TB Paru Kabupaten Lampung Selatan menghadapi permasalahan yaitu penemuan penderita TB Paru baru BTA Positif masih dibawah target 38% (Target Nasional 70%). Angka kesembuhan (Cure Rete) juga masih dibawah target yaitu 80,3% (target ≥ 85 %)
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007
Secara teknis hal ini dapat dipahami mengingat dari 64 Puskesmas Pembantu yang ada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan baru 10 Puskesmas Pembantu yang petugasnya sudah dilatih mengenai TBC. Selain itu kegiatan promosi dan sosialisasi belum dapat menjangkau semua wilayah yang ada di Kabupaten Lampung Selatan. Hal ini juga dimungkinkan dengan tingkat jangkauan pelayanan Program TB belum bisa menjangkau daerah-daerah sulit misalnya kepulauan. Dalam pelaksanaan peran PMO juga belum optimal dalam mengawasi penderita yang minun obat. Dari segi ketenagaan tenaga analis laboratorium masih kurang dan sebagian tenaga pengelola TB Paru di puskesmas belum terlatih. Juga dari sistem pencatatan dan pelaporan register TB Paru masih belum digunakan secara optimal. (Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007).
- Program P2 Kusta
Angka Prevalen rate (PR) Kabupaten Lampung Selatan selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan pada tahun 2004 sebesar 0,46 per 10.000 dan naik pada tahun 2005 menjadi 0,56 per 10.000 penduduk,dan pada tahun 2006 menjadi 0,58 per 10.000 penduduk, pada tahun 2007 PR mengalami penurunan yaitu sebesar 0,41 per 10.000 penduduk sedangkan PR per Puskesmas tahun 2007 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
GRAFIK 46
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007
Jika dilihat PR Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sebesar 0,41 per 10.000 penduduk maka untuk tingkat Kabupaten sudah mencapai target Eliminasi Kusta dengan target eliminasi sebesar <1 per 10.000 penduduk. Tetapi bila dilihat angka Prevalensi Rate (PR) per puskesmas masih ada 5 puskesmas yang belum mencapai target Eliminasi kusta yaitu : Puskesmas, Puskesmas, Puskesmas Sidoharjo (PR : 3,26), Bandar Agung (PR : 2,77)Puskesmas Bangunrejo (PR : 1,76), Puskesmas Way Muli (PR : 1,31), Puskesmas Banjar Agung (PR : 1,16).
Jumlah penderita yang sudah Relese From Treatment (RFT) untuk tipe MB pada tahun 2003 sebanyak 12 penderita sedangkan untuk tahun 2004 tipe MB sebanyak 10 penderita dan untuk tipe PB sebanyak 3 penderita dan di tahun 2005 tipe MB 19 dan tipe PB 9 dengan RFT Rate tahun 2005, untuk tahun 2006 yang seharusnya RFT tipe PB 19 penderita dan tipe MB 15 penderita tetapi yang berhasil RFT tahun 2006 tipe PB 18 penderita dan tipe MB 15 penderita, dan untuk tahun 2007 yang seharusnya RFT tipe PB 2 penderita, dan tipe MB 23 penderita, tetapi yang berhasil RFT tahun 2006 tipe PB 2 penderita dan tipe MB 22 penderita. Sementara target RFT Kusta tahun 2007 sebesar 90% belum tercapai (45,28%).
- Program P2 ISPA
Jumlah populasi balita untuk Program P2 ISPA Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sebanyak 128.218 jiwa. sasaran penemuan penderita Pneumonia balita Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sebanyak 12.822 kasus, sedangkan target penemuan kasus sebesar 66% ( 8.462 kasus ). Penderita pneumonia berat dan pneumonia di Kabupaten Lampung Selatan yang ditemukan tahun 2007 sebanyak 501 kasus dengan realisasi penemuan penderita pneumonia 5,9 % dari target.
Program P2 ISPA mengambil rata-rata 10% sebagai sasaran penemuan Pneumonia (Pneumonia berat dan Pneumonia) sedangkan target penemuan Pneumonia balita pada tahun 2007 adalah 66% dari sasaran yang ada, sedangkan kasus Pneumonia >5 tahun tidak menjadi indikator keberhasilan program tetapi tetap harus dicatat dan dilaporkan untuk keperluan program yang lain. Bila kita lihat penemuan kasus Pneumonia dari tahun 2003 – 2007 kecenderungannya menurun baik dari jumlah total penderita maupun penderita per golongan umur, untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada grafik di bawah ini.
GRAFIK 47
KASUS PNEUMONIA BALITA KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2007
Pada Tahun 2007 di wilayah Kabupaten Lampung Selatan penemuan kasus pneumonia masih rendah yaitu 5,9% dari target yang ditetapkan.
Dari perkiraan kasus yang ada belum satupun puskesmas yang mencapai target penemuan kasus Pneumonia. Hal ini disebabkan pelaporan data yang lengkap hanya 2 puskesmas, sehingga pengolahan data kurang maksimal, masih banyak puskesmas yang belum dapat menemukan kasus balita pneumonia, hal ini menjadi perhatian kita, apakah memang tidak ada kasus atau petugas yang tidak dapat mendiagnose Pneumonia ataukah ada hal lain.
Untuk kasus pneumonia yang ditemukan pada tahun 2007 hanya mencakup 4,6% dari semua kasus yang masuk pada program P2 ISPA, jadi sebagian besar yang ditemukan yaitu kasus Non Pneumonia sebesar 95,4 %.
- Program P2 Rabies
Banyaknya kasus gigitan hewan penular rabies yang terjadi hal ini dimungkinkan banyaknya populasi hewan penular rabies di masyarakat baik yang terpelihara maupun yang liar sehingga resiko terjadi gigitan semakin tinggi.
Sedangkan untuk kasus gigitan yang mengakibatkan korban meninggal dunia berdasarkan hasil penyelidikan dilapangan terjadi karena adanya luka gigitan yang serius (luka pada daerah syaraf/banyak luka) tetapi penderita tidak berobat/terlambat berobat setelah mengalami gigitan. Untuk pengobatan kasus GHPR hampir 95 % mendapat suntikan vaksin anti rabies (VAR).
Berdasarkan data yang ada terdapat beberapa wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Lampung Selatan yang sering terjadi kasus GHTR misalnyai penengahan, sidoharjo, gedong tataan dan titiwangi.
Kasus gigitan hewan hampir terjadi disetiap bulan hal ini dilihat pada data berikut :
Tabel 15
DISTRIBUSI KASUS GHTR PER BULAN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2006-2007
Sumber : P2 Rabies Dinkes Lamsel
Ppenanganan kasus yang terjadi selain pengobatan diunit puskesmas juga ada yang mendapat layanan di Rumah Sakit Umum (rujukan puskesmas)
Proporsi kasus gigitan menurun hewan penggigit pada tahun 2007 dapat digambarkan dengan grafik berikut ini :
GRAFIK 48
PROPORSI KASUS GIGITAN MENURUT JENIS HEWAN PENGGIGIT
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007
Adapun upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan khususnya Program P2 Rabies Tahun 2007 adalah dengan melaksanakan kegiatan Pengadaan VAR/SAR, Penyuluhan tentang Penyakit Rabies dan juga Pengobatan terhadap penderita rabies.
Beberapa permasalahan yang dihadapi yang sering terjadi yaitu masih adanya daerah rawan kasus GHTR (tingginya populasi hewan penyebab kasus gigitan misalnya anjing), Masih juga ada perilaku masyarakat yang tidak langsung berobat setelah terkena gigitan sehingga terlambat mendapatkan penanganan. Selain itu juga belum optimalnya penanganan kasus GHTR baik dalam penatalaksanaan kasus maupun ketersediaan stok VAR/SAR yang sering mengalami keterlambatan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilaksanakan sosialisasi penyakit Rabies, kerjasama lintas sektoral dan kesinambungan penatalaksanaan kasus serta ketersediaan vaksin
Like this:
Entry filed under: Situasi Upaya Kesehatan. Tags: Kesehatan, Lampung Selatan, menular, Penyakit.
Upaya Pelayanan Keluarga Berencana Pembinaan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar
































Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed