Archive for Juni, 2008

PEMBIAYAAN

Pembiayaan bidang kesehatan merupakan sumbangan yang sangat penting untuk dapat berjalannya semua kegiatan. Oleh karena itu hal yang terpenting dalam hal pembiayaan adalah bagaimana memanfaatkan anggaran yang tersedia seoptimal mungkin dan seefesien mungkin.

Pembiayaan bidang kesehatan berasal dari beberapa sumber misalnya APBD (APBD kabupaten dan propinsi), APBN serta Pinjaman atau hibah. Alokasi anggaran dapat melalui sektor kesehatan maupun non kesehatan yang tujuannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayahnya.

DIAGRAM 57

Dengan total APBD tahun 2007 sejumlah Rp 923.784.350.066,- ; bidang kesehatan mendapat porsi 3,96% saja, yaitu sebesar Rp. 51.186.928.650,- yang tersebar di berbagai instansi.

Dari diagram di atas terlihat bahwa pembiayaan kesehatan terbesar bersumber dari APBD Kabupaten yaitu sebesar 47,78 %. Sedangkan prosentase anggaran kesehatan terhadap total APBD Kabupaten Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2007 adalah 3,96%.

Jika dilihat berdasarkan anggaran kesehatan per kapita, maka untuk Kabupaten Lampung Selatan, anggaran kesehatan per kapita sebesar 736, 53.

Proporsi APBD kesehatan terhadap total APBD Kabupaten mengalami fluktuasi persentase sepanjang kurun waktu enam tahun terakhir. Dua tahun terakhir persentase APBD kesehatan sangat menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Data memperlihatkan Tahun 2007 adalah persentase terkecil (3,96%) setelah pernah mencapai 6,75 % di tahun 2005, walaupun secara nominal terjadi kenaikan anggaran.

Diagram 58

Komitmen pemerintah daerah terhadap sektor kesehatan dapat dilihat dari proporsi alokasi anggaran APBD.

Juni 23, 2008 at 2:53 am Tinggalkan Komentar

SARANA DAN PRASARANA

Selanjutnya bagian yang juga tidak bisa dipisahkan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat adalah sarana dan prasarana. Secara rinci di bawah ini diuraikan tentang keberadaan sarana dan prasarana yang ada pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007. Tabel berikut memperlihatkan jumlah sarana kesehatan yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan sebagai berikut.

Tabel 16

KONDISI SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2007

Dengan sarana sedemikian yang dimiliki, Kabupaten Lampung Selatan khususnya Dinas Kesehatan telah melaksanakan penyelenggaraan tugas bidang kesehatan.

TABEL 17

SARANA DAN PRASARANA TAHUN 2006

Dilihat dari tabel diatas, terlihat ada beberapa sarana dan prasarana yang mencukupi dan ada juga tidak mencukupi. Keadaan tersebut secara bertahap akan diusahakan dapat terpenuhi

Dalam penenggulangan strategi DOTS komponen pemeriksaan specimen dahak dengan mokroskopis adalah merupakan kunci utama penengakan diagnosis, akan tetapi di Kabupaten Lampung selatan untuk puskesmas PRM dan PPM semua telah memiliki mikroskop akan tetapi beberapa puskesmas belum memiliki mikroskop yang standar sesuai dengan rekomendasi WHO

Juni 19, 2008 at 6:26 am Tinggalkan Komentar

SUMBER DAYA TENAGA

Sumber daya ketenagaan merupakan bagian penting dalam menjalankan kegiatan atau program pada semua unit pelayanan baik langsung maupun tidak langsung. Peningkatan derajat kesehatan, yang di tandai dengan menurunnya angka kematian ibu dan bayi, menurunnya angka kesakitan pada masyarakat dan tidak ditemukannya masalah gizi buruk dimasyarakat, tentunya sangat dipengaruhi oleh sumber daya ketenagaan, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Keadaan ketenagaan khususnya tenaga kesehatan di Kabupaten Lampung Selatan perlu diperhatikan baik secara pengadaan maupun pendistribusian. Seperti diketahui Kabupaten ini secara geografi dan topografi merupakan wilayah yang kurang menguntungkan bagi tenaga – tenaga yang notabene memilih daerah perkotaan saja. Hal ini yang menyebabkan terjadinya penumpukan tenaga di beberapa unit pelayanan tertentu dan pada sisi lain masih ada unit-unit pelayanan yang mengalami kekurangan tenaga.

Sumber : Sie Diklat

Selain keberadaan tenaga kesehatan, namun yang tidak kalah penting untuk membantu melaksanakan pelayanan, diperlukan juga tenaga non kesehatan. Perbandingan jumlah tenaga kesehatan dan non kesehatan dapat di lihat pada grafik di bawah ini :

DIAGRAM 55

Berdasarkan rasio atau perbandingan jumlah tenaga kesehatan dengan jumlah penduduk sebanyak 100.000 penduduk , dapat terlihat pada grafik dibawah ini:

DIAGRAM 56

Juni 19, 2008 at 6:11 am Tinggalkan Komentar

Pelayanan Gakin (JAMKESMAS)

Di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sejumlah 47,67% penduduk Lampung Selatan masuk kriteria gakin (639.432 jiwa). Dengan angka kunjungan mencapai 95,62% (tabel 37), jumlah KK miskin yang telah menjadi peserta JAMKESMAS tahun 2007 adalah 611.043 KK.

Pelayanan JAMKESMAS diselenggarakan berdasarkan UUD 1945 Pasal 28 dan UU Nomor 23/ 1992 tentang Kesehatan bahwa setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya dan negara bertanggung jawab mengatur agar terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.

Penyelenggaraan JAMKESMAS secara bertujuan meningkatkan akses dan mutu yankes terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efesien.

Pelayanan JAMKESMAS yang diberikan antara lain pelayanan kesehatan rawat jalan dan rawat inap, serta rujukan rawat jalan maupun rawat inap tingkat lanjutan dan pelayanan kegawatdaruratan.

Juni 19, 2008 at 5:57 am Tinggalkan Komentar

Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Khusus (Matra)

Kesehatan Matra merupakan salah satu program kesehatan pada Subdin P2PLP Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan, dan ruang lingkup kegiataannya meliputi :

a. Program Kesehatan Haji

Program Kesehatan Haji secara umum bertujuan meningkatkan kondisi kesehatan calon/jemaah haji Indonesia serta terbebasnya masyarakat Indonesia/Internasional dari transmisi penyakit menular yang mungkin terbawa keluar/masuk oleh calon/jemaah haji Indonesia.

Sasaran program kesehatan haji Kabupaten Lampung Selatan adalah calon/jemaah Lampung Selatan sejak terdaftar sampai kembali dari Arab Saudi dan petugas/tenaga kesehatan.

Target program kesehatan Haji yaitu : Puskesmas yang melaksanakan pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji dapat melaksanakan pemeriksaan, rujukan dan pembinaan kesehatan sesuai dengan standar dan prosedur; cakupan pemeriksaan calon jemaah haji 100%; cakupan tes kehamilan calon jemaah haji wanita PUS 100%; cakupan imunisasi meningitis meningokokus tetravalent dengan IP 9 100 %; cakupan pelacakan K3JH 100%.

Hasil cakupan pemeriksaan kesehatan haji Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 mencapai angka 83,7%. Cakupan tes kehamilan terhadap calon jemaah haji wanita (WUS) sebanyak calon jemaah (100%); cakupan imunisasi meningitis meningokokus kepada 516 calon jemaah; cakupan pelacakan K3JH 100%.

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP

Pemeriksaan kesehatan haji I di wilayah Kabupaten Lampung Selatan sepanjang tahun 2007 dilaksanakan di tiga (3) puskesmas yaitu puskesmas Kalianda sebanyak 382 calon jemaah, Gedong tataan sebanyak 15 calon jemaah dan Puskesmas Natar sebanyak 35 calon jemaah.

Pemeriksaan kesehatan haji ke II dilaksanakan di Kabupaten terhadap 432 calon jemaah haji pada saat manasik haji dan 2 calon jemaah meninggal dunia sebelum melakukan manasik haji.

Jumlah calon jemaah haji pria 224 orang dan jumlah wanita sebanyak 292 orang. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap calon jemaah haji diperoleh hasil diagnosis yaitu sebagai berikut, sehat sejumlah 327 orang, Lanjut usia ada 115 orang, yang menderita hypertensi ada 67 orang, gastritis ada 83 orang, Hipotensi ada 8 orang, epilepsi ada 1 orang, yang mengidap rematik ada 59 orang, yang mengidap alergi ada 27 orang, yang asma bronkhitis ada 24 orang, serta Penderita Diabetes Mellitus ada 24 orang. Perlu diketahui bahwa ada beberapa calon jemaah haji yang mengidap lebih dari satu jenis penyakit.

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP

a. Program Kegiatan dalam Situasi Khusus

Program kesehatan dalam situasi khusus pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan dilaksanakan pada even-even sebagai berikut :

1. Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.

2. Festival Krakatau.

3. Musabaqoh Tilawatil Qur’an.

4. Pameran Pembangunan.

5. Hari Besar Nasional.

6. Pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji.

Dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut diatas sangat mungkin mengakibatkan timbulnya masalah kesehatan seperti gangguan fisik, mental dan konflik social bahkan terjadinya gangguan penyakit menular berupa kejadian luar biasa, yang disebabkan perubahan kondisi lingkungan fisik, biologis dan social. Untuk itu diperlukan suatu upaya/program yang dimaksudkan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang mungkin timbul tersebut.

Secara khusus program kegiatan di situasi khusus bertujuan terselenggaranya upaya pelayanan kesehatan dengan baik pada pos P3K yang telah ditentukan; terlayaninya kesehatan masyarakat yang terpajan kondisi kesehatannya; terbinanya kerjasama lintas program dan lintas sector dengan instansi terkait seperti Kepolisian, Dinas Perhubungan, Kantor Kesehatan Pelabuhan, PMI dan lain-lainnya.

Adapun hasil kegiatan tahun 2007 terdapat 9 (sembilan) posko kesehatan yaitu, Posko Pelabuhan Bakauheni, Posko Simpang Ketapang, Posko Merak Belantung, Posko THR Pasir Putih, Posko Pasar Natar, Posko Bundaran Hajimena, Posko Tanjung Bintang, Posko Gedung Tataan, dan Posko Hanura. Dari data yang dihimpun selama penyelenggaraan pelayanan kesehatan P3K hari raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru 2007 diketahui terdapat 9 orang korban kecelakaan lalu lintas dimana 5 korban meninggal dunia, 4 korban dirujuk ke puskesmas/rumah sakit.

b. Program Penanggulangan Bencana

Hasil Pelaksanaan Program Penanggulangan Bencana di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2007 telah terbentuk Tim Sar Kabupaten dalam penanggulangan bencana. Jumlah kejadian bencana alam selama tahun 2007 yaitu 17 kejadian (Kebakaran, Angin Puting Beliung/Angin Topan, Banjir, Hujan Debu, Gelombang Pasang dll) yang menimbulkan 703 rumah rusak dan 12 sarana umum, sedangkan jumlah kejadian bencana yang terjadi selama tahun 2006 yaitu sebanyak 7 kejadian (bencana banjir, angin puting beliung, dan gempa bumi) walaupun dari beberapa kejadian bencana alam tersebut tidak ada korban jiwa tapi menimbulkan kerusakan pada rumah penduduk yaitu sebanyak 495 rumah.

Secara umum penanganan bencana alam tidak mengalami hambatan karena baik sarana, prasarana, dan sumber daya manusia yang ada cukup memadai hanya saja perlu peningkatan keterampilan petugas dalam menghadapi kejadian bencana.

Dari kejadian diatas telah diberikan pelayanan kesehatan melalui puskesmas terdekat terutama untuk diwilayah kecamatan rajabasa telah dilakukan pelayanan kesehatan dan pemberian 2000 masker kepada masyarakat/penduduk yang terkena bencana hujan abu sebagai dampak dari aktifnya anak gunung krakatau.

c. Program Upaya Kesehatan Kerja

Hasil kegiatan Program Upaya Kesehatan Kerja masih terbatas yaitu terbentuknya 1 (satu) pos UKK di Puskesmas Sidoharjo, dilatihnya 5 (lima) orang kader pos UKK; tersedianya data dasar kesehatan kerja yang didapat dari hasil pengumpulan data dasar kesehatan kerja diwilayah puskesmas Sidoharjo.

Sedangkan untuk tabel 38 mengenai persentase pelayanan kesehatan kerja pada pekerja formal untuk wilayah kabupaten, di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, data yang dimaksud tidak tersedia (target 50%).

Juni 19, 2008 at 5:55 am Tinggalkan Komentar

Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Secara ideal angka ketersediaan obat adalah 120% dengan perincian 100% dipergunakan untuk keperluan dan sisanya sebanyak 20% adalah untuk cadangan misalnya di situasi khusus oleh karena adanya bencana atau wabah. Jumlah cadangan biasanya bervariasi berkisar antara 20% – 50%. Jumlah ini tergantung pada situasi tertentu misalnya saat terjadi wabah ataupun bencana alam.

Tabel 44 dan 45 menunjukkan persentase ketersediaan obat baik generic maupun essensial yaitu 298,56% (> 100%). Jumlah yang melebihi ini pada umumnya adalah karena adanya dropping obat bersumber dari pusat yang tidak sesuai permintaan dan kebutuhan. Namun secara umum jika persentase rata- rata ketersediaan obat mendekati ataupun melebihi 100%, maka diartikan keadaan stok obat cukup aman.

Rata- rata persentase penulisan resep obat di sarana kesehatan baik pemerintah ataupun swasta telah mencapai 93,33% (tabel 46). Dengan perincian di sarana kesehatan pemerintah 98,69% dan di sarana kesehatan swasta 54,07%.

Di sarana kesehatan pemerintah memang dianjurkan untuk menggunakan obat generik, sehingga penulisan resep obat generik di sarana kesehatan pemerintah sudah mencapai target 80%, sedangkan untuk sarana kesehatan swasta persentase masih rendah

Juni 19, 2008 at 5:50 am Tinggalkan Komentar

Pelayanan Pra Usila dan Usila

Di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, Dinas Kesehatan khususnya Program Gizi Kesehatan Masyarakat, memberikan data sebanyak 89.215 penduduk adalah termasuk prausila (45-59 tahun), dari jumlah tersebut 39,25% berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan dan mendapatkan pelayanan kesehatan. Untuk kriteria usila (+ 60 tahun) sebanyak 24.011 (27,22%) dari 88.214 orang usila yang ada.

Pelayanan kesehatan yang diberikan antara lain pelayanan pengobatan dan pemberian vitamin-vitamin dan senam lansia.

Juni 19, 2008 at 5:49 am Tinggalkan Komentar

Perbaikan Gizi Masyarakat

a. Persentase Cakupan Balita dapat Vit.A 2 kali / tahun

Di Kabupaten Lampung Selatan tercatat cakupan bayi, balita yang mendapat pelayanan kesehatan yaitu pemberian Vitamin A 2 kali telah mencapai 77,56% (tabel 16). Angka ini belum mencapai target kabupaten tahun 2007 yaitu 85%.

Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada bayi umur 6-11 bulan dan pada anak umur 12-59 bulan sebanyak 2 kali setahun yaitu di bulan februari dan agustus.

Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita merupakan program rutin Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan yang manfaatnya adalah untuk kesehatan mata dan sebagai suplemen gizi untuk daya tahan tubuh bayi dan balita.

Pada kasus kejadian luar biasa misalnya kejadian kasus gizi buruk (marasmus, kwashiorkor dan marasmic kwashiorkor), campak, pneumonia, diare dan infeksi lainnya, kepada seluruh balita di wilayah tersebut diberikan satu kapsul vitamin A dengan dosis sesuai umur.

b. Persentase Cakupan Bumil dapat 90 Tablet Fe dan Imunisasi TT1 dan TT2

Di Kabupaten Lampung Selatan tercatat cakupan bumil yang mendapat pelayanan kesehatan yaitu pemberian 90 butir tablet besi/ Fe telah mencapai 60,65% (tabel 25). Sementara untuk bumil yang telah mendapatkan imunisasi TT1 dan TT2 telah mencapai 81,38%, namun angka ini masing-masing belum memenuhi target kabupaten tahun 2007 yaitu 85% (table 25).

Pemberian 90 butir tablet besi pada bumil bermanfaat untuk menghindari anemia gizi besi yang sering terjadi di masa kehamilan. Dengan kandungan 2 senyawa yaitu 200 mg ferosus (setara dengan 60 mg besi elemental) dan 0,25 Asam folat yang sangat berfungsi memberikan suplai kebutuhan mineral Fe dan juga untuk membantu proses metabolisme tubuh selama masa kehamilan.

c. Persentase Cakupan Pemberian MP-ASI pada BGM dan Gakin

Di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, Dinas Kesehatan khususnya Program Gizi Kesehatan Masyarakat mencatat bahwa terdapat 2.261 bayi yang masuk kategori BGM gakin, dimana seluruhnya telah mendapatkan pelayanan kesehatan MP-ASI 100% (table 24). Angka ini telah mencapai target kabupaten tahun 2007 yaitu 100%.

Intervensi Pemberian Makan Pendamping ASI ini dilakukan selama 90 hari dengan porsi 100 gr/ hari. Program ini juga merupakan program rutin Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan.

d. Persentase Balita Gizi Buruk Dapat Perawatan

Untuk balita berstatus gizi buruk, Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 khususnya Program Gizi Kesehatan Masyarakat mencatat bahwa terdapat 27 bayi yang masuk kategori gizi buruk (table 24) tersebar di 9 kecamatan. Distribusi kasus gizi buruk tertinggi terdapat di kecamatan Natar sebanyak 10 orang, dan kecamatan Ketibung sebanyak 5 orang. Seluruh bayi gizi buruk ini telah 100% mendapatkan perawatan sesuai standar dan prosedur yang ada.

Gizi buruk adalah suatu keadaan kekurangan zat-zat gizi sampai dengan taraf akut yang menyebabkan seseorang menjadi rentan terhadap infeksi dan serangan penyakit. Keadaan yang berlarut- larut akan menyebabkan komplikasi dan dapat menyebabkan kematian.

Juni 19, 2008 at 5:45 am 1 komentar

Pembinaan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar

a. Penyehatan Air

Secara umum Program Penyehatan Air bertujuan untuk meningkatkan kualitas air untuk berbagai kebutuhan dan kehidupan manusia untuk seluruh penduduk baik yang berada di pedesaan maupun di perkotaan dan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam memakai air. Secara khusus program penyehatan air bertujuan meningkatkan cakupan air bersih pada masyarakat dan meningkatkan kualitas air yang aman untuk konsumsi masyarakat.

Kegiatan upaya penyehatan air meliputi : Surveilans kualitas air; Inspeksi Sanitasi Sarana Air Bersih; Pemeriksaan kualitas air; Pembinaan kelompok pemakai air. Kegiatan dilaksanakan dengan strategi terpadu pengawasan, perbaikan dan pembinaan pemakai air.

Target Program Penyehatan Air yang ingin dicapai yaitu :

1. Cakupan air bersih perkotaan 100% dan pedesaan 85%.

2. Memenuhi syarat kimia dan bakteriologis 70%

Kegiatan surveylance kualitas air terdiri dari observasi SAB dan observasi pendduduk yang menggunakan SAB dan bukan SAB. Dari kegiatan tersebut di dapat cakupan SAB terendah ada di wilayah puskesmas Kota Dalam yaitu 25,4% dan tertinggi ada di wilayah puskesmas Bangun Rejo yaitu 92,3%, Rata- rata adalah 66%. Untuk data cakupan SAB seluruh puskesmas wilayah Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, disajikan dalam tabel di bawah ini.

GRAFIK 49

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP

Kegiatan pengawasan kualitas air secara umum bertujuan mengetahui gambaran keadaan sanitasi sarana dan kualitas air sebagai data dasar dan penyediaan informasi pengamanan kualitas air sehingga tersedia rekomendasi tindak lanjut dalam upaya perlindungan pencemaran dan perbaikan kualitas air.Pengawasan kualitas air dilakukan dengan upaya Inspeksi sanitasi sarana air bersih. Hasil dari Inspeksi SAB menunjukkan tingkat risiko pencemaran sebagai berikut :

Tabel 16

TINGKAT RISIKO PENCEMARAN SARANA AIR BERSIH

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2007

Sumber : Evaluasi Program P2PLP

Persentase hasil pemeriksaan kualitas air bersih tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan sebagai berikut : yang memenuhi syarat sebesar 88,5% dan tidak memenuhi syarat 11,5%. Kualitas bakteriologis air bersih yang memenuhi syarat hanya 18,4% masih dibawah target kualitas bakteriologis sebesar 70%.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kualitas air direkomendasikan untuk melakukan upaya perbaikan kualitas yang meliputi perbaikan pada parameter kekeruhan, besi, mangan, dan koliform.

b. Penyehatan Lingkungan Pemukiman

Penyelenggaraan upaya penyehatan lingkungan permukiman, dilaksanakan dengan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup serasi dengan lingkungan dan dapat mewujudkan kualitas lingkungan permukiman yang bebas dari risiko yang membahayakan kesehatan pada berbagai substansi dan komponen lingkungan, yaitu meliputi jamban keluarga, saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan pengelolaan sampah.

Hasil Evaluasi Program Kesehatan Lingkungan tahun 2007 menyatakan persentase sehat untuk rumah mencapai 62,8% ; Jamban 58,2% ; SPAL 49,8%.

GRAFIK 51

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP

Pada tabel dan grafik diatas menunjukkan bahwa keluarga yang menempati rumah sehat rerata tingkat Kabupaten sebesar 62,8%, keluarga memiliki jamban sehat rerata 58,2%, dan rumah yang memiliki SPAL sehat rerata 49,8%.

Pada lampiran kegiatan pengawasan perumahan. Persentase rumah sehat tertinggi terdapat di Puskesmas Banjar Agung sebesar 99 % dan terendah di Puskesmas Tanjung Bintang sebesar 25 %. Persentase jamban sehat tertinggi terdapat di Puskesmas Padang Cermin dan terendah di Puskesmas Bakauheni, untuk rerata kabupaten 58,2%. Persentase rumah yang memiliki SPAL baru 15,5%, yang memenuhi syarat 49,5%. SPAL sehat tertinggi terdapat di Puskesmas Talang Jawa dan terendah di Puskesmas Trimulyo.

c. Penyehatan Tempat -Tempat Umum (TTU)

Program Penyehatan Tempat-Tempat Umum bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan tenpat-tempat umum dan sarana kemasyarakatan lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan, sehingga dapat melindungi masyarakat dari penularan penyakit, keracunan, kecelakaan, pencemaran lingkungan serta gangguan kesehatan lainnya.

Penyehatan Tempat-Tempat Umum meliputi hotel dan tempat penginapan lain, pasar, kolam renang dan pemandian umum lain, sarana ibadah, sarana angkutan umum, salon kecantikan, bar dan tempat hiburan lainnya. Selain itu juga dilakukan upaya pembinanan institusi yang meliputi : Rumah Sakit dan sarana kesehatan lain, sarana pendidikan, dan perkantoran.

Target Program Penyehatan Tempat-Tempat Umum yaitu: memenuhi syarat kesehatan 80% dan Institusi terbina 60%

Sarana kesehatan di Lampung Selatan sejumlah 301 buah, terdiri dari rumah sakit, puskesmas, peskesmas pembantu, dan sara kesehatan lainnya. Sarana penddikan meliputi sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menegah umum sejumlah 1.456 telah dilakukan pembinaan sebanyak 798 (50%). Target belum tercapai secara maksimal dikarenakan banyaknya sarana pendidikan, sedangkan petugas sanitasi tidak pernah bertambah yang berakibat pada terlalu berat tugas sanitarian di wilayah puskesmas. sarana institusi perkantoran sebanyak 328 telah dilakukan pembinaan kesehatan lingkungan sebanyak 274 (75%), sarana institusi lainnya yaitu pondok pesantren. Sarana ini sejumlah 29 telah dibina sejumlah 23 (87%). Secara akumulasi sarana institusi sejumlah 2.126 yang telah dibina sejumlah 1.347 sebesar 59% target belum terlampaui.

d. Penyehatan Tempat Pengelola Makanan (TPM)

Secara umum penyehatan TPM bertujuan untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan terhadap tempat penyehatan makanan & minuman, kesiapsiagaan dan penanggulangan KLB keracunan, kewaspadaan dini serta penyakit bawaan makanan.

Target program TPM memenuhi syarat sehat sebesar 75 % dengan upaya kegiatan antara lain melaksanakan pengawasan higiene dan sanitasi TPM pada restoran, rumah makan, jasa boga, industri rumah tangga, dan depot air minum isi ulang.

Rumah makan di Lampung Selatan Tahun 2007 sejumlah 277 diawasi atau dperiksa kesehatan lingkungan meliputi higien dan sanitasi sejumlah 160 unit, dengan hasil rumah makan yang memenuhi sayart sehat dengan indikator skor 70% sejumlah123 atau sekitar 71%. Keterkaitan dengan target sebesar 72,5%.

e. Klinik Sanitasi

Secara umum klinik sanitasi bertujuan untuk meningkatmya derajat kesehatan masyarakat melalui upaya preventif, kuratif dan promotif yang dilakukan secara terpadu, terarah dan terus menerus di puskesmas.

Pelayanan klinik sanitasi dimaksudkan untuk mencegah, memulihkan dan memperbaiki lingkungan guna menurunkan angka penyakit berbasis lingkungan meliputi malaria, DBD, campak, TB paru, ISPA, kecacingan, penyakit kulit/gatal-gatal, diare, keracunan makanan dan keluhan akibat lingkungan buruk/ akibat kerja. Klinik sanitasi perlu diwujudkan dan dikembangkan di puskesmas.

Target

1. Lingkungan sehat

a. KK penghuni rumah sehat 90%

b. Memiliki persadiaan air bersih 94%

c. Memiliki jamban sehat 86%

d. Angka bebas jentik nyamuk 90%

2. Perilaku sehat

a. Olah raga teratur 50%

b. Tidak merokok 90%

c. Perilaku hidup bersih dan sehat 50%

Terjadi peningkatan pelayanan klinik sanitasi di jumlah puskesmas. Kegiatan klinik sanitasi pada tahun 2006 dilaksanakan oleh 10 puskesmas meningkat pada tahun 2007 menjadi 11 puskesmas.

Juni 19, 2008 at 3:31 am 8 komentar

Upaya Pemberantasan Penyakit Menular

  1. Program Imunisasi

Pada tahun 2007 hasil kegiatan program imunisasi mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2006, sedangkan Desa Non UCI pada tahun 2007 berjumlah 68 desa menurun bila dibandingkan desa Non UCI 2006 yaitu 77 desa. Namun perlu menjadi perhatian kita adalah bahwa target desa UCI 100%.

Cakupan yang telah dicapai dari kegiatan imunisasi selama tahun 2007 berdasarkan laporan Puskesmas sampai dengan bulan Desember tahun 2007 adalah sebagai berikut :

Tabel 12

Data Cakupan Imunisasi Rutin Kabupaten Lampung Selatan

Tahun 2007

Sumber : Sie Imunisasi

Untuk jangkauan pelayanan imunisasi pada masyarakat digambarkan oleh cakupan DPT-1. Selama tahun 2007 hasil cakupan imunisasi cakupan imunisasi DPT-1 Kabupaten Lampung Selatan mencapai 94,8%. Sedangkan sebagai indikator dari jangkauan perlindungan bayi digambarkan dari hasil pencapaian cakupan imunisasi campak. Pada tahun 2007 hasil cakupan imunisasi campak untuk Kab. Lampung Selatan mencapai 90,1%.

Untuk kegiatan imunisasi Ibu hamil yang dijadikan indikator pencapaian hasil kegiatan adalah hasil cakupan imunisasi TT-2. Dari hasil cakupan imunisasi TT-2 Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 mencapai 81,4% .

Pada tahun 2007 cakupan imunisasi HB 0-7 Hari di Kabupaten Lampung Selatan masih di bawah target yaitu 40,4%.

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa cakupan imunisasi antigen BCG, DPTHB 1, DPTHB3, Polio4, HB 0-7 Hr dan Campak I pada tahun 2007 lebih tinggi jika dibandingkan cakupan pada tahun 2006.

Sebagai indikator Universal Child Immunization (UCI) adalah cakupan imunisasi Campak lebih dari 80%.

Tabel 13

Data Kecamatan dan Desa UCI Kabupaten Lampung Selatan

Tahun 2007

Sumber : Sie Imunisasi dan Surveylance

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa desa UCI di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 meningkat yaitu 82,5% (312 desa) meningkat jika dibandingkan pada tahun 2006 hanya 79,6% (301 desa).

Kegiatan pemberian imunisasi TT kepada Wanita Usia Subur (WUS) di Kabupaten Lampung Selatan sampai dengan Tahun 2007.

Tabel 14

Data Cakupan Kegiatan TT WUS Kabupaten Lampung Selatan

Tahun 2007

Sumber : Sie Imunisasi dan Surveylance

Dengan melihat tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pencatatan dan pelaporan untuk program TT WUS kurang baik, hal ini tercermin dendan TT 4 lebih kecil dari pada TT 5. untuk itu ke depan perlu ada kegiatan perbaikan pencatatan dan pelaporan.

  1. Program Surveylance

Program surveylance terdiri dari : Surveylance Epidemiologi Tetanus Neonatorum; Surveilans Epidemiologi Acute Flaccid Paralysis (AFP); Surveylance Epidemiologi Campak. Pengumpulan data program surveilans bersumber dari :

· Laporan Surveilans Terpadu Penyakit (STP) puskesmas

· Laporan Mingguan (W-2)

· Laporan Campak (C-1)

a. Surveylance Epidemologi TN

Salah satu Komitmen Global yaitu Eliminasi Tetanus Neonatorum (TN), dengan menyangkut lintas program yaitu :

1. Pertolongan Persalinan

2. Imunisasi TT

3. Surveilans TN

Kasus konfirm adalah bayi lahir hidup normal dapat menangis dan menetek selama 2 hari pertama kehidupan, timbul gejala sulit menetek disertai kejang pada rahang (mencucu) dan kaku leher, karena rangsangan dapat terjadi sejak umur 3-28 hari tanpa pemeriksaan.

Cara penularan, melalui infeksi tali pusat bayi yang disebabkan karena :

· Pemotongan tali pusat dengan alat yang terkontaminasi spora C. tetani

· Luka pusar bayi diobati / diberi ramuan yang terkonaminasi spora C. tetani

· Cara transmisi langsung atau tidak langsung melalui luka

upaya – upaya yang telah dilaksanakan antara lain : Melaksanakan sosialisasi Penyakti TN dan Imunisasi TT pada kader posyandu dan tokoh masyarakat ; Melakukan sweeping imunisasi TT pada Wanita Usia Subur; Melakukan evaluasi program setiap triwulan dan akhir tahun; Koordinasi dengan seksi Kesehatan Keluarga untuk mengetahui persalinan tenaga kesehatan dan otopsi verbal kematian neonatus.

b. Surveylance Epidemiologi AFP

Pada tahun 2007 penemuan AFP tidak mencapai target, yaitu seharusnya 8 (delapan) kasus sedangkan tercapainya 7 (tujuh) kasus. Bila dibandingkan dengan tahun 2006 ada penurunan karena penemuan kasus pada tahun 2006 sebanyak 10 (sepuluh) kasus.

Sumber : Sie Imunisasi & Surveylance

Sumber : Sie Imunisasi & Surveylance

Pada diagram Pie tersebut, kasus terbanyak adalah anak pra sekolah, hal ini sangat dimungkinkan karena anak pra sekolah memiliki jangkauan bermain dan kompok bermain yang lebih luas, sehingga faktor resiko penularannya pun menjadi lebih besar. Namun semua kasus telah mendapatkan imunisasi melalui PIN sebesar 100%.

c. Surveylance Epidemiologi Campak

Hasil Surveylance Epidemiologi Campak tahun 2007 yaitu kasus campak menurut bulan terbanyak bulan Februari dan Agustus 2007 tetapi dari seluruh kasus yang ada dengan status imunisasi terbanyak pada bulan Januari dan November 2007.

Hasil Evaluasi Subdin P2PLP Tahun 2007 menyatakan distribusi kasus campak terdistribusi hampir merata di semua puskesmas walaupun cakupan imunisasi campak berbeda, hal ini dapat terjadi karena beberapa hal sbb :

1. Proses perjalanan vaksin yang buruk (cold chain buruk) sehingga merusak kualitas vaksin campak tersebut, yang pada akhirnya efikasi yang diizinkan 85% tidak tercapai

2. Tata laksanakan pemberian imunisasi oleh tenaga kesehatan

3. Validitas data cakupan imunisasi campak dan kasus campak rendah.

  1. Surveylance Terpadu Penyakit (STP) dan W2

v Program P2 Diare

Dari grafik minimal dan maksimal diare di Kabupaten Lampung Selatan, untuk penyakit diare terjadi peningkatan kasus di atas ambang batas maksimal pada minggu ke-2 sd.ke-5, minggu ke-30, minggu ke-36 sd.29 dan minggu ke-42 tetapi terjadi penurunan yang cukup drastis setelah minggu ke-46.

Sumber : Sie Imunisasi

Beberapa kegiatan yang direkomendasikan dalam rangka antisipasi KLB diare adalah antara lain :

a) Kaporisasi sumber air masyarakat

b) Penyuluhan pola hidup bersih dan sehat terutama pada penggunaan air bersih pada rumah tangga

c) Surveilans ketat pada desa-desa yang mempunyai IR diare tinggi, melalui pembuatan pos-pos pelayanan kesehatan di tingkat dusun untuk respon terhadap tejadinya KLB diare.

d) Penggunaan teknologi tepat guna pada pengolahan air bersih di tingkat pedesaan.

Bersumber dari Program P2 Diare, jumlah kasus diare pada balita tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan sejumlah 24.480 kasus (table 10) dan 100% kasus mendapat penanganan (Target 100%). Angka kesakitan mencapai 1,90 / 1000 penduduk.

v Program P2 DBD

Penyakit DBD telah menjadi status KLB sepanjang tahun 2007, kecuali pada bulan Dersember, karena adanya data tahun 2007 selalu di atas data maksimal empat tahunan (Kasus maksimal periode tahun 2003-2007).

GRAFIK 38

Bahwa derajat kesehatan dengan indikator Insidens DBD, puskesmas yang harus waspada dan menggiatkan kegiatan program DBD pada Puskesmas tersebut dengan cara Intervensi lintas program yang dapat dilakukan :

1. Penyuluhan tentang penyakit DBD dengan gejala klinis segera merujuk ke RSUD terdekat, sehingga pengobatan sesuai dengan diagnosa yang ditegakkan.

2. Peningkatan program Kesehatan Lingkungan terutama lingkungan perindukan nyamuk

3. Pemantauan jentik berkala (PJB) pada 100 rumah, setiap desa endemis (bebas jentik 95%).

4. Abatisasi sebagai salah satu tindakan pencegahan.

v Program P2 Malaria

Berdasarkan grafik maksimal minimal kabupaten tahun 2007, tergambar situasi penyakit malaria yaitu belum menjadi masalah akan terjadi KLB.

GRAFIK 39

Sumber : Hasil Evaluasi Subdin P2PLP

Bersumber dari pemegang program P2 Malaria, tercatat sebanyak 2.197 orang positif mengidap malaria dari 11.418 orang yang klinis (19,24%). Dari penderita malaria positif, 100% dilakukan pengobatan yaitu diobati sesuai standar yang ada (target 100%).

Malaria klinis diartikan kasus dengan gejala klinis malaria yaitu demam tinggi disertai menggigil. Sementara malaria positif adalah kasus klinis dengan pemeriksaan sediaan darah di laboratorium.persentase SDR mencapai 43,17%.

Program P2 Malaria secara umum bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan malaria di daerah prioritas serta mencegah terjadinya KLB malaria sedini mungkin. Secara khusus bertujuan :

a. Mencegah dan menanggulangi KLB Malaria secara dini

b. Menurunkan angka kesakitan dan kematian > 50 % tahun 2010 dibandingkan tahun 2000.

c. Menigkatkan Kegiatan Program Pemberantasan melalui pola kemitraan dengan instansi dan lembaga terkait lainnya.

Adapun sasaran penanggulangan penyakit malaria adalah seluruh penduduk di wilayah Kabupaten Lampung Selatan dan perioritas daerah endemis malaria.Sedangkan target Program P2 Malaria adalah :

a Pengobatan dan penemuan 100 % tertangani.

b Melindungi Penduduk di desa endemis terutama Balita dan Ibu Hamil > 80 % dari gigitan nyamuk malaria

c Menurunnya Kasus malaria klinis di daerah endemis malaria

Sementara untuk fasilitas ketenagaan dari 32 Puskesmas yang ada hanya 13 Puskesmas saja (30 %) yang memiliki ketenagaan petugas P2 Malaria, sehingga dapat dipahami dampak dari kurangnya tenaga mikroskopis akan berdampak rendahnya cakupan pemeriksaan sediaan darah malaria. Diharapkan kedepan harus ada formasi untuk tenaga Mikroskopis, dalam jangka pendek harus melatih tenaga yang ada di puskesmas.

GRAFIK 40

Sumber : Evaluasi Program P2PLP

Sementara untuk angka Insident malaria Klinis (AMI) tahun 2007 untuk tingkat Kabupaten hanya 8,93 ‰ tetapi dilihat Per Puskesmas ada beberapa Puskesmas yang AMI sangat tinggi dengan urutan pertama Puskesmas Way Muli (136,72 ‰), kedua Puskesmas Hanura (78,87 ‰) dan ketiga Puskesmas Bakauheni(19,13 ‰), keempat Puskesmas Pedada (18,88 ‰) dan kelima Puskesmas Bandar Agung (12,66 ‰) .

GRAFIK 41

Untuk persentase sediaan darah yang diperiksa Per-Puskesmas Kab lampung Selatan Tahun 2006 dan 2007 untuk tingkat Kabupaten terjadi peningkatan yaitu 41,65 % atau diperiksa 5.338 dari (12.837 kasus tahun 2006 meningkat menjadi 43,3 % atau 4.959 Kasus klinis dari 11.454 kasus klinis diperiksa sediaan darah malaria di tahun 2007, sedangkan bila dilihat per-Puskesmas se-Kab lamp selatan bila dibandingkan antara tahun 2006 dan 2007 terjadi fluktuatif , tapi rata-rata terjadi peningkatan seperti :

1. Puskesmas Bakauheni (0%), tahun 2006 meningkat menjadi 4,8 % tahun 2007.

2. Puskesmas Way Muli (46%), tahun 2006 meningkat menjadi 78,6 % tahun 2007

3. Puskesmas Sidomulyo (4‰), tahun 2006 meningkat menjadi 51,4% tahun 2007

4. Puskesmas Kalianda (63%), tahun 2006 meningkat menjadi 65,2% tahun 2007

5. Puskesmas Karang Anyar (10%), tahun 2006 meningkat menjadi 16,3% tahun 2007

6. Puskesmas Natar (20‰), tahun 2006 meningkat menjadi 33% tahun 2007

7. Puskesmas Kedondong (19,83‰)

8. Puskesmas Pedada (10%), tahun 2006 meningkat menjadi 11,4% tahun 2007

Untuk Puskesmas yang persentase pemeriksaan sediaan darah terjadi penurunan adalah :

1. Puskesmas Padang Cermin (85 %), tahun 2006 menurun menjadi 75% pada tahun 2007

2. Puskesmas Hanura (88 %), tahun 2006 menurun menjadi 83% pada tahun 2007

3. Puskesmas Pedada (0,95 %), tahun 2006 menurun menjadi 75% pada tahun 2007.

v Typhus Klinis

Typhus klinis merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan yang angka kejadian kasusnya di Kabupaten Lampung Selatan cukup merata di 32 puskesmas tahun 2007.

GRAFIK 42

Sumber : Hasil Evaluasi Subdin P2PLP

Prevalen Rate Penyakit typhus klinis tertinggi di Puskesmas Trimulyo (1,93%) dan Kalianda (1,78%), dan paling sedikit di Puskesmas Sidoharjo (0,01%).

v Influenza

Situasi penyakit influenza di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, terlihat dari grafik di bawah ini.

GRAFIK 43

Sumber : Hasil Evaluasi Subdin P2PLP

Melihat grafik di atas bahwa pada tahun 2007 terjadi peningkatan Prevalen Rate influenza di Puskesmas Trimulyo sebanyak 5,03 per 100 penduduk.

v Hepatitis Klinis

Bersumber dari Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007, sebanyak 249 kasus hepatitis klinis terjadi di Kabupaten Lampung Selatan sepanjang tahun 2007 (tabel 14). Bahwa terjadi adanya perubahan lokasi penyakit hepatitis klinis pada tahun 2007, yaitu dari Puskesmas Pedada ke Puskesmas Way Urang, dengan distribusi wilayah lebih merata dibandingkan tahun 2006.

GRAFIK 44

1. Program P2 TB Paru

Pada tahun 2007 Program P2 TB Paru Kabupaten Lampung Selatan menghadapi permasalahan yaitu penemuan penderita TB Paru baru BTA Positif masih dibawah target 38% (Target Nasional 70%). Angka kesembuhan (Cure Rete) juga masih dibawah target yaitu 80,3% (target ≥ 85 %)

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007

Secara teknis hal ini dapat dipahami mengingat dari 64 Puskesmas Pembantu yang ada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan baru 10 Puskesmas Pembantu yang petugasnya sudah dilatih mengenai TBC. Selain itu kegiatan promosi dan sosialisasi belum dapat menjangkau semua wilayah yang ada di Kabupaten Lampung Selatan. Hal ini juga dimungkinkan dengan tingkat jangkauan pelayanan Program TB belum bisa menjangkau daerah-daerah sulit misalnya kepulauan. Dalam pelaksanaan peran PMO juga belum optimal dalam mengawasi penderita yang minun obat. Dari segi ketenagaan tenaga analis laboratorium masih kurang dan sebagian tenaga pengelola TB Paru di puskesmas belum terlatih. Juga dari sistem pencatatan dan pelaporan register TB Paru masih belum digunakan secara optimal. (Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007).

  1. Program P2 Kusta

Angka Prevalen rate (PR) Kabupaten Lampung Selatan selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan pada tahun 2004 sebesar 0,46 per 10.000 dan naik pada tahun 2005 menjadi 0,56 per 10.000 penduduk,dan pada tahun 2006 menjadi 0,58 per 10.000 penduduk, pada tahun 2007 PR mengalami penurunan yaitu sebesar 0,41 per 10.000 penduduk sedangkan PR per Puskesmas tahun 2007 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

GRAFIK 46

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007

Jika dilihat PR Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sebesar 0,41 per 10.000 penduduk maka untuk tingkat Kabupaten sudah mencapai target Eliminasi Kusta dengan target eliminasi sebesar <1 per 10.000 penduduk. Tetapi bila dilihat angka Prevalensi Rate (PR) per puskesmas masih ada 5 puskesmas yang belum mencapai target Eliminasi kusta yaitu : Puskesmas, Puskesmas, Puskesmas Sidoharjo (PR : 3,26), Bandar Agung (PR : 2,77)Puskesmas Bangunrejo (PR : 1,76), Puskesmas Way Muli (PR : 1,31), Puskesmas Banjar Agung (PR : 1,16).

Jumlah penderita yang sudah Relese From Treatment (RFT) untuk tipe MB pada tahun 2003 sebanyak 12 penderita sedangkan untuk tahun 2004 tipe MB sebanyak 10 penderita dan untuk tipe PB sebanyak 3 penderita dan di tahun 2005 tipe MB 19 dan tipe PB 9 dengan RFT Rate tahun 2005, untuk tahun 2006 yang seharusnya RFT tipe PB 19 penderita dan tipe MB 15 penderita tetapi yang berhasil RFT tahun 2006 tipe PB 18 penderita dan tipe MB 15 penderita, dan untuk tahun 2007 yang seharusnya RFT tipe PB 2 penderita, dan tipe MB 23 penderita, tetapi yang berhasil RFT tahun 2006 tipe PB 2 penderita dan tipe MB 22 penderita. Sementara target RFT Kusta tahun 2007 sebesar 90% belum tercapai (45,28%).

  1. Program P2 ISPA

Jumlah populasi balita untuk Program P2 ISPA Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sebanyak 128.218 jiwa. sasaran penemuan penderita Pneumonia balita Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sebanyak 12.822 kasus, sedangkan target penemuan kasus sebesar 66% ( 8.462 kasus ). Penderita pneumonia berat dan pneumonia di Kabupaten Lampung Selatan yang ditemukan tahun 2007 sebanyak 501 kasus dengan realisasi penemuan penderita pneumonia 5,9 % dari target.

Program P2 ISPA mengambil rata-rata 10% sebagai sasaran penemuan Pneumonia (Pneumonia berat dan Pneumonia) sedangkan target penemuan Pneumonia balita pada tahun 2007 adalah 66% dari sasaran yang ada, sedangkan kasus Pneumonia >5 tahun tidak menjadi indikator keberhasilan program tetapi tetap harus dicatat dan dilaporkan untuk keperluan program yang lain. Bila kita lihat penemuan kasus Pneumonia dari tahun 2003 – 2007 kecenderungannya menurun baik dari jumlah total penderita maupun penderita per golongan umur, untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada grafik di bawah ini.

GRAFIK 47

KASUS PNEUMONIA BALITA KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2007

Pada Tahun 2007 di wilayah Kabupaten Lampung Selatan penemuan kasus pneumonia masih rendah yaitu 5,9% dari target yang ditetapkan.

Dari perkiraan kasus yang ada belum satupun puskesmas yang mencapai target penemuan kasus Pneumonia. Hal ini disebabkan pelaporan data yang lengkap hanya 2 puskesmas, sehingga pengolahan data kurang maksimal, masih banyak puskesmas yang belum dapat menemukan kasus balita pneumonia, hal ini menjadi perhatian kita, apakah memang tidak ada kasus atau petugas yang tidak dapat mendiagnose Pneumonia ataukah ada hal lain.

Untuk kasus pneumonia yang ditemukan pada tahun 2007 hanya mencakup 4,6% dari semua kasus yang masuk pada program P2 ISPA, jadi sebagian besar yang ditemukan yaitu kasus Non Pneumonia sebesar 95,4 %.

  1. Program P2 Rabies

Banyaknya kasus gigitan hewan penular rabies yang terjadi hal ini dimungkinkan banyaknya populasi hewan penular rabies di masyarakat baik yang terpelihara maupun yang liar sehingga resiko terjadi gigitan semakin tinggi.

Sedangkan untuk kasus gigitan yang mengakibatkan korban meninggal dunia berdasarkan hasil penyelidikan dilapangan terjadi karena adanya luka gigitan yang serius (luka pada daerah syaraf/banyak luka) tetapi penderita tidak berobat/terlambat berobat setelah mengalami gigitan. Untuk pengobatan kasus GHPR hampir 95 % mendapat suntikan vaksin anti rabies (VAR).

Berdasarkan data yang ada terdapat beberapa wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Lampung Selatan yang sering terjadi kasus GHTR misalnyai penengahan, sidoharjo, gedong tataan dan titiwangi.

Kasus gigitan hewan hampir terjadi disetiap bulan hal ini dilihat pada data berikut :

Tabel 15

DISTRIBUSI KASUS GHTR PER BULAN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2006-2007

Sumber : P2 Rabies Dinkes Lamsel

Ppenanganan kasus yang terjadi selain pengobatan diunit puskesmas juga ada yang mendapat layanan di Rumah Sakit Umum (rujukan puskesmas)

Proporsi kasus gigitan menurun hewan penggigit pada tahun 2007 dapat digambarkan dengan grafik berikut ini :

GRAFIK 48

PROPORSI KASUS GIGITAN MENURUT JENIS HEWAN PENGGIGIT

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007

Adapun upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan khususnya Program P2 Rabies Tahun 2007 adalah dengan melaksanakan kegiatan Pengadaan VAR/SAR, Penyuluhan tentang Penyakit Rabies dan juga Pengobatan terhadap penderita rabies.

Beberapa permasalahan yang dihadapi yang sering terjadi yaitu masih adanya daerah rawan kasus GHTR (tingginya populasi hewan penyebab kasus gigitan misalnya anjing), Masih juga ada perilaku masyarakat yang tidak langsung berobat setelah terkena gigitan sehingga terlambat mendapatkan penanganan. Selain itu juga belum optimalnya penanganan kasus GHTR baik dalam penatalaksanaan kasus maupun ketersediaan stok VAR/SAR yang sering mengalami keterlambatan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilaksanakan sosialisasi penyakit Rabies, kerjasama lintas sektoral dan kesinambungan penatalaksanaan kasus serta ketersediaan vaksin

Juni 18, 2008 at 3:47 am Tinggalkan Komentar

Upaya Pelayanan Keluarga Berencana

Berdasarkan data dari Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Keluarga Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, jumlah pasangan usia subur (PUS) sebanyak 240.891 yang tersebar di 20 kecamatan. Dari jumlah tersebut 17,29% adalah merupakan peserta KB baru dan 72,45% merupakan peserta KB aktif (peserta KB aktif adalah juga peserta KB baru)

GRAFIK 32

PERSENTASE PESERTA KB BARU & KB AKTIF MENURUT JENIS KONTRASEPSI

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Sumber : BKB DPK Kab. Lampung Selatan Tahun 2007

Dari tampilan grafik tersebut di atas, diketahui jenis kontrasepsi yang paling banyak dipergunakan oleh Pasangan Usia Subur di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 adalah jenis kontrasepsi suntik, kemudian pil dan implant

Juni 18, 2008 at 3:27 am Tinggalkan Komentar

Upaya Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Penunjang

1. Bumil Risti yang Di Rujuk ( Target SPM = 80 % )

Berdasarkan data Seksi Kesga Dinas Kesehatan Hasil cakupan bumil risiko tinggi yang dirujuk ke rumah sakit di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 adalah sebanyak 755 bumil dari 951 bumil risti yang ada (79,39%).

Angka ini menurun dari tahun sebelumnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut ini:

GRAFIK 30

PERSENTASE BUMIL RISTI DIRUJUK KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2005-2007

Sumber : Sie Kesga Tahun 2007

Data diatas memperlihatkan bahwa cakupan bumil risti yang dirujuk di Kabupaten Lampung Selatan dari tahun 2005 – 2007 berfluktuatif dan pada tahun 2007 cakupan hampir memenuhi target.

Penanganan pelayanan rujukan bagi bumil risti adalah pemberian pelayanan dan perawatan dengan fasilitas ANC sesuai standar dan sarana dengan kriteria PONED. Sarana yang melayani rujukan bisa puskesmas PONED juga rumah sakit PONED. Selain itu juga diberikan pelayanan ANC pada bumil gakin menggunakan dana JAMKESMAS.

  1. Neonatal Risti Yang di Rujuk

Sejumlah 5.999 neonatal yang ada di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 (tabel 27), 202 neonatus masuk kategori risti dan 68,81% mendapatkan pelayanan rujukan ke sarana kesehatan (139 neonatus).

GRAFIK 31

PERBANDINGAN JUMLAH NEONATAL DAN NEONATAL DIRUJUK

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007

Sumber : Sie Kesga Tahun 2007

Penanganan pelayanan rujukan bagi neonatal risti adalah pemberian pelayanan dan perawatan dengan fasilitas ANC sesuai standar dan sarana dengan kriteria PONED. Sarana yang melayani rujukan bisa puskesmas PONED juga rumah sakit PONED. Selain itu juga diberikan pelayanan ANC pada bumil dan neonatal gakin dengan menggunakan dana JAMKESMAS.

Juni 13, 2008 at 3:20 am Tinggalkan Komentar

Upaya Pelayanan Kesehatan Dasar

1. Kunjungan K.1 dan K. 4

Persentase kunjungan K1 dan K4 dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami fluktuasi, dapat dilihat pada tabel berikut ini :

GRAFIK 20

TREND PERSENTASE K1 DAN K4 KAB. LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2003 – 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007

Sedangkan untuk target dan angka DO kunjungan K1 dan K4 selama 5 tahun terakhir adalah sebagai berikut.

Tabel 9

Cakupan K1 dan K4 Kabupaten Lampung Selatan

tahun 2003 s/d 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007

Data memperlihatkan bahwa angka cakupan K4 Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2007 masih dibawah target. Terdapat 21 puskesmas yang cakupan K4 nya masih dibawah target. Hal ini disebabkan ada beberapa Puskesmas yang belum menyampaikan laporan secara lengkap. Cakupan K4 dibawah target menunjukkan kualitas layanan ANC belum memadai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini :

GRAFIK 21

PROSENTASE HASIL CAKUPAN K4 KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007

Tahun 2007 cakupan K.4 yang terendah di Puskesmas Tanjung Agung 37,49%, Puskesmas Way Muli 51,76 %, Puskesmas Bernung 60,66%, Puskesmas Penengahan 61,97%, Puskesmas Hanura 66,33%, Bandar Agung 70,27 % dan Puskesmas Bangun rejo 73,19% (tabel 17).

  1. Kunjungan Neonatal ( KN.1 – KN.2 )

Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko paling tinggi mengalami gangguan kesehatan.Upaya kesehatan yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pemberian pelayanan kesehatan minimal 2 kali pada masa neonatus (0-28 hari), yaitu 1 kali pada umur 0-7 hari dan 1 kali pada umur 8-28 hari. Dalam memberikan pelayanan kesehatan seyogyanya petugas kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan bayi dan juga konseling perawatan bayi kepada ibu. Adapun persentase kunjungan neonatal di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 terlihat sebagai berikut.

GRAFIK 22

PERSENTASE KN1 DAN KN2 KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007

Tabel 10

CAKUPAN PROGRAM KN.1 DAN KN.2

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2002 S/D 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007

Data memperlihatkan bahwa angka cakupan Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 baik KN1 maupun KN2 belum memenuhi target. Beberapa puskesmas ada yang telah mencapai target KN1 yaitu 10 Puskesmas dan KN2 9 puskesmas.

GRAFIK 23

TREND PERSENTASE KN1 DAN KN2 KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2003-2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007

Dari tabel diatas tampak bahwa kunjungan selama 5 tahun terakhir mengalami variasi. Pada tahun 2005 hasil cakupan KN sebesar 90%. sedangkan pada tahun 2006 mengalami peningkatan yaitu sebesar 93%. Akan tetapi pada tahun 2007 mengalami penurunan yaitu 82,01% (tabel 15).

Bila dilihat dari tingginya angka kematian pada masa neonatus akibat asfixia, dihubungkan dengan terjadinya penurunan pencapaian kunjungan neonatus di tahun 2007 dari tahun sebelumnya, maka upaya meningkatkan cakupan kunjungan neonatus harus lebih dimaksimalkan lagi misalnya pelayanan kesehatan dan konseling pada neonatus baik oleh petugas kesehatan maupun oleh kader kesehatan di posyandu, kunjungan rumah maupun dari program imunisasi.

GRAFIK 24

DISTRIBUSI PERSENTASE KN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007

  1. Pertolongan Persalinan Oleh Nakes

Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2001 s/d 2007 cenderung meningkat, tahun 2001 sebesar 49% (16.321) kemudian pada tahun 2002 sebesar 81,5% (16.440) ,tahun 2003 sebesar 81,59% (24.836), tahun 2004 sebesar 87,% (18.549) ,tahun 2005 sebesar 82% (22.426); tahun 2006 sebesar 82,07% (24.608) dan pada tahun 2007 sebesar 72,94% (23.517) dengan persentase menurut penolong persalinan sebagai berikut :

Tabel 11

Persentase Penolong Persalinan

Di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2001 s/d 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007

Dari tabel diatas terlihat bahwa hasil cakupan linakes di Kabupaten Lampung Selatan dari tahun 2002 – 2007 ada kecenderungan menurun dan hasil cakupan Linakes tahun 2007 dibawah target.

GRAFIK 25

TREND PERSENTASE PERSALINAN NAKES

DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2003 – 2007

Sumber : Evaluasi Program Subdin Yankes 2007

Pada tahun 2007 terdapat 25 (78,13%) puskesmas yang cakupan Linakesnya masih dibawah target (<86%). dan sebanyak 17 puskesmas (53,13%) puskesmas yang cakupan persalinan dukunnya diatas 10%. Hal ini dapat disebabkan karena beberapa kemungkinan misalnya faktor distribusi tenaga kesehatan yang kurang merata, faktor ekonomi, kurangnya sosialisasi dan kemitraan bidan dan dukun. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terendah di Puskesmas Way Muli 62% dan Puskesmas Bandar Agung 64%. Untuk lebih jelasnya cakupan pertolongan persalinan oleh nakes dan dukun dapat dilihat pada tabel berikut ini :

GRAFIK 26

DISTRIBUSI PERSENTASE PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN

DAN PERSALINAN OLEH DUKUN

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007

1. Cakupan Bumil Risiko Tinggi yang ditangani

Data Tahun 2007 mencatat, dari 33.779 sasaran ibu hamil yang ada, 951 orang tercatat mengalami/ komplikasi atau sekitar 0,03% (tabel 27) dan yang mendapat penanganan sejumlah 458 (0,48%).

Risiko/ komplikasi ibu hamil berarti keadaan penyimpangan dari keadaan yang normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Keadaan ini meliputi : Hb < 8 g%, tekanan darah tinggi (systole >140 mmHg, diastole > 90mmHg, oedema nyata, ekslampsia, perdarahan pervaginam, ketuban pecah dini, letak lintang pada usia kehamilan >32 minggu, letak sungsang, infeksi berat dan persalinan premature.

Bersumber data dari subdin pelayanan kesehatan bahwa angka cakupan bumil risiko tinggi yang di tangani di Kabupaten Lampung Selatan dari tahun 2004 – 2007 masih sangat jauh dari target, hal ini dapat disebabkan kurangnya pemahaman terhadap definisi operasional dari bumil resti ditangani atau kurangnya pengetahuan nakes dalam deteksi bumil resti sehingga bumil resti yang ada tidak ditangani. Beberapa Puskesmas yang hasil cakupannya telah mencapai target kabupaten (85%) antara lain : Puskesmas Bakauheni, Puskesmas Way Muli dan Puskesmas Talang Jawa (tabel 27).

Upaya penanganan meliputi penanganan standar oleh tenaga kesehatan yang terlatih di Puskesmas Perawatan maupun Rumah Sakit pemerintah maupun swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK (Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar / Komprehensif). Bersumber data daro PMI /Unit transfusi darah Cabang Lampung Selatan, dari jumlah bumil dan bayi yang membutuhkan darah, Persentase akses ketersediaan darah untuk bumil dan neonatus yang dirujuk telah mencapai 100% (table 26).

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut ini :

GRAFIK 27

PERSENTASE BUMIL RISTI DITANGANI

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2004-2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007

1. Cakupan Kunjungan Neonatus (86%)

Tahun 2007 sebanyak 25.295 neonatus melakukan kunjungan dari 30.708 neonatus yang ada (82,37%). Jumlah ini meningkat dari tahun lalu (2006) yaitu 60,34% dan telah memenuhi target.

Masa neonatus (1-28 hari) adalah masa yang paling rawan terjadinya gangguan kesehatan sehingga diperlukan upaya penanganan khusus terhadap bayi juga konseling bagi para ibu untuk melakukan perawatan terhadap bayinya. Antara lain pemberian imunisasi TT1 dan TT2 bagi WUS dan ibu hamil, perawatan tali pusat, pemberian obat mata untuk menghindari infeksi pada neonatus, cara pemberian ASI bagi neonatus khususnya pada bayi premature dan lain-lain.

Penyediaan layanan informasi dan pelayanan dapat diberikan pada para bumil maupun busui dengan cara memotivasi ibu untuk berkunjung ke sarana kesehatan.

2. Neonatus Risiko Tinggi Ditangani (80%)

Tercatat sebanyak 202 neonatus risti (0,03%) dari 5.999 neonatus yang ada di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2007. Dari jumlah tersebut telah 100% mendapat penanganan. Angka ini telah memenuhi target kabupaten sebesar 80%.

Hasil cakupan neonatus ditangani dari tahun 2004 s/d Tahun 2007 sebagai berikut :

GRAFIK 28.1

PERSENTASE NEONATUS RISTI DITANGANI

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2004-2007

Sumber : Sie Kesga tahun 2007

Penanganan neonatus risiko tinggi yang dapat dilakukan antara lain pemantauan kesehatan dan cara memberikan ASI pada bayi premature, perawatan khusus dalam incubator dan pelayanan kesehatan sesuai standar PONED dan APN.

1. Cakupan Kunjungan Bayi

Tahun 2007, data kunjungan bayi di Kabupaten Lampung Selatan yaitu sebanyak 28.950 kunjungan dari 30.708 sasaran bayi (82,37%). Angka ini masih dibawah target kabupaten sebesar 84%.

Dalam rangka pemenuhan target tersebut, upaya yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan adalah meningkatkan pelayanan kesehatan sesuai standar di puskesmas maupun posyandu dan sarana kesehatan lainnya. Misalnya pelayanan dan informasi setelah habis masa imunisasi, sosialisasi kader terhadap kesadaran ibu yang memiliki bayi untuk tetap mengunjungi posyandu guna menjaga kesehatan bayi dan balitanya, penyuluhan kadarzi bagi keluarga, dan penimbangan berat badan bagi bayi dan balita dengan mengggunkan KMS.

2. Cakupan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di tangani

Hasil Cakupan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) yang ditangani di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 yaitu 98,04% (table 15). Angka ini telah memenuhi target kabupaten yaitu 80%.

Dari sejumlah 27.396 bayi lahir, sebanyak 204 bayi masuk kategori BBLR dan 200 bayi mendapat penanganan.

Penanganan terhadap BBLR meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, dan pemberian imunisasi), pemberian vitamin K, manajemen terpadu bayi muda, penanganan penyulit persalinan/ komplikasi pada BBLR dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah dengan menggunakan buku KIA.

Upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan khususnya subdin Pelayanan Kesehatan dalam rangka menekan angka BBLR ini antara lain pemberian makanan tambahan bumil, pengadaan penyelenggaraan kelas ibu dan penanganan persalinan bagi keluarga miskin.

  1. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita ( Target SPM = 70 % )

Hasil cakupan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 adalah sebesar 18,8%.

Dari data diatas terlihat bahwa hasil cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita masih rendah sedangkan target yang harus dicapai sebesar 70% (tabel 18).

Hal ini disebabkan oleh faktor kurangnya /belum samanya persepsi pengertian terhadap definisi operasional DDTK. Deteksi Dini Tumbuh Kembang anak balita (pra sekolah) adalah cakupan anak umur 0-5 tahun yang dideteksi kesehatan dan tumbuh kembangnya sesuai standar oleh dokter, bidan maupun perawat sedikitnya 2 kali per tahun. Untuk Hasil Cakupan DDTK Anak Balita di seluruh Puskesmas masih dibawah target SPM.

GRAFIK 29

PERSENTASE DDTK KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2007

  1. Pemberian Vitamin A Bufas

Masa nifas adalah waktu antara ibu melahirkan sampai dengan 6 minggu (0-42 hari). Pemberian vitamin A pada bufas memiliki beberapa manfaat antara lain meningkatkan kandungan vitamin A dalam ASI, bayi lebih kebal dan jarang kena penyakit infeksi dan juga kesehatan bufas lebih cepat pulih. Pemberian 2 kapsul vitamin A 200.000 SI warna merah diharapkan dapat menambah kandungan vitamin A dalam ASI sampai bayi usia 6 bulan.

Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan tidak dapat dibuat sendiri oleh tubuh, sehingga harus terpenuhi dari luar (essensial). Fungsinya adalah untuk penglihatan, pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.

Dalam kebutuhan sehari-hari jika konsumsi makanan bersumber vitamin A rendah, maka diperlukan tambahan suplemen kapsul vitamin A. Kebutuhan vitamin A ini meningkat karena adanya infeksi, campak dan diare pada bufas.

Cakupan pemberian vitamin A di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 pada bufas telah mencapai ……%

Juni 12, 2008 at 6:17 am Tinggalkan Komentar

Status Gizi

1. Gizi Bayi

Status gizi bayi terlihat dari jumlah kasus BBLR yang terjadi. Berdasarkan data hasil program gizi pada tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan tercatat dari 27.396 persalinan, sebanyak 204 bayi lahir BBLR (tabel 15) atau sekitar 27,30%.

Dari 204 BBLR tersebut, yang mendapatkan penanganan sebanyak 200 bayi (98%), dari target 80%.

Tingginya persentase BBLR yang terjadi menunjukkan rendahnya status kesehatan para ibu hamil, jarak kelahiran yang terlalu rapat, pelayanan kehamilan yang kurang memadai dan kebutuhan pelayanan yang lebih baik bagi bayi yang baru lahir.

BBLR merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori BBLR karena prematur (usia kehamilan < 37 minggu) dan BBLR karena berat badan kurang walaupun lahir cukup bulan. Di banyak negara berkembang BBLR dengan kategori cukup bulan namun berat badan kurang, banyak dikarenakan ibu hamil berstatus gizi buruk, anemia, malaria dan mengalami infeksi PMS sebelum konsepsi maupun pada saat hamil.

2. Gizi Balita

Status gizi balita terlihat dari naiknya berat badan balita sesuai usia yang dicatat dalam KMS. Di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 dari 150.784 kunjungan balita ke posyandu, tercatat sebanyak 77.179 balita naik berat badannya dari 99.689 balita yang ditimbang atau sekitar 51,19%. Jumlah ini belum mencapai target 76%.

Sebanyak 5.650 balita masuk kategori BGM (bawah garis merah) atau sekitar 3,75% (target <15%). Sedangkan untuk status BGT/ gizi kurang mencapai 15,96%. Sejumlah 27 balita masuk kategori gizi buruk, yang kesemuanya telah mendapatkan perawatan (100%).

Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Dari 5.650 balita BGM, sebanyak 2.261 masuk kategori BGM gakin atau sekitar 40%.

3. WUS

Sejumlah 250.437 Wanita Usia Subur (WUS) umur 15 – 49 tahun yang ada di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, tercatat dari 82.845 WUS sebanyak 5.569 telah mendapatkan kapsul yodium atau sekitar 6,72%.(tabel 40).

Indikator lain yang dapat menggambarkan status gizi wanita usia subur adalah dengan melakukan pengukuran LILA (lingkar lengan atas). Hasil pengukuran bisa digunakan sebagai salah satu cara dalam melakukan identifikasi kemungkinan wanita tersebut berisiko melahirkan bayi BBLR. Indikator Kurang Energi Kronik (KEK) menggunakan standar LILA <23,5 cm.

Namun untuk data ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan khususnya program Gizi Kesehatan Masyarakat belum dapat menyediakan data yang dimaksud, sehingga indikator LILA tidak dapat dilakukan analisis.

4. Kecamatan Bebas Rawan Gizi

Pada tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan sebanyak 8 kecamatan telah masuk kategori kecamatan bebas rawan gizi (40%), sedangka target IIS 2010 adalah 80% kecamatan telah bebas rawan gizi. Secara lebih jelas terlihat pada lampiran tabel 16.

Kecamatan bebas rawan gizi didefinisikan sebagai kecamatan dengan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk pada balita <15%.

Juni 12, 2008 at 4:11 am Tinggalkan Komentar

Penyakit Tidak Menular

Penyakit Gigi dan Mulut

Berdasarkan data SP2TP Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 tercatat kasus penyakit gigi dan mulut dengan perincian sebagai berikut.

Tabel 8

PERSENTASE KASUS GIGI & MULUT KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2007

Sumber : Data SP2TP Tahun 2007

Dari tabel di atas terlihat untuk penyakit gigi dan mulut, kasus terbanyak adalah sebanyak 30,22% yaitu penyakit pulpa & Jaringan Periapikal dan gingivitis sebanyak 22,01%.


Penyakit Akibat Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Bahan Berbahaya

Data SP2TP Tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan menunjukkan bahwa penyakit akibat penyalahgunaan NAPZA sebanyak 203 kasus.

Dari 1.459 kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan oleh puskesmas, sejumlah 120 kegiatan (8,22%) dilaksanakan penyuluhan tentang P3 Napza. Sedangkan di tingkat kabupaten sejumlah 4 penyuluhan dari 8 kali penyuluhan yang dilaksanakan materinya adalah tentang P3 Napza (50%). Secara lebih jelas terlampir di tabel 34

Penyakit Hipertensi

Bersumber Data SP2TP Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 tercatat 15.808 kasus hipertensi. Penyakit ini menempati urutan ketujuh dalam pola 10 besar penyakit tahun 2007.

Penyakit Gastritis

Bersumber data SP2TP sebanyak 26.913 kasus gastritis terjadi di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007.

Keracunan Makanan

Salah satu penyebab kesakitan juga adalah keracunan makanan, yang diartikan keracunan secara tidak sengaja mengkonsumsi makanan tercemar kuman penyakit. Pada tahun 2007 kasus keracunan makanan terjadi di Kabupaten Lampung Selatan sebanyak 62 kasus (SP2TP tahun 2007).

Kecelakaan Lalu Lintas

Untuk kecelakaan lalu lintas, sepanjang tahun 2007 di wilayah Kabupaten Lampung Selatan telah terjadi 1.536 kasus, dengan perincian tercatat di Badan Layanan RSUD Kalianda sebanyak 1.476 kasus dan tercatat di puskesmas 60 kasus.

Dari 92 Jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas yaitu 31 korban meninggal di RSUD Kalianda.(table 8).

Juni 12, 2008 at 4:06 am Tinggalkan Komentar

Penyakit Menular

Malaria

Terjadi 11.418 kasus malaria klinis di wilayah kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007. Melalui pemeriksaan slide darah sebanyak 44,8%, didapat hasil 2.197 (19,2%) kasus positif malaria, yang kesemuanya 100% mendapatkan pengobatan. (Tabel 11).

Berdasarkan analisa data kabupaten pada tahun 2007 situasi penyakit Malaria di Kabupaten Lampung Selatan, terlihat dari pola min-max sebagai berikut.

GRAFIK 10

POLA MIN-MAX KLINIS MALARIA KAB. LAM-SEL TH 2007

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP

Dari Grafik Pola Min-Max selama lima tahun maka data malaria klinis di tahun 2007 tingkat Kabupaten Lampung Selatan adalah telah terjadi peningkatan kasus di bulan Januari dan Februari 2007 bahkan bila dilihat dari Pola Min-max diatas maka pada Bulan Januari – Februari 2007 telah dikategorikan adanya peningkatan kasus secara signifikan. Tetapi bila dilihat trend bulanan cenderung telah terjadi penurunan kasus ditahun 2007, yaitu mulai bulan maret sampai desember terjadi penurunan secara signifikan, bila kita hubungkan dengan kegiatan penanggulangan yang telah dilakukan di Kabupaten Lampung Selatan maka ini sangat dimungkinkan sekali karena pada bulan februari 2007 telah dilakukan kegiatan intervensi berupa pendistribusian kelambu ke 13 Puskesmas yang didistribusikan secara proporsional berdasarkan prioritas masalah. Adapun trend kasus bulanan tahun 2007 dapat dilihat pada Grafik MoMi dibawah ini :

GRAFIK 11

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP

Dari grafik MoMi tahun 2006 dibandingkan tahun 2007 seperti diatas Cenderung fluktuatif. MoMi tahun 2006 kasus cenderung sama perbulan, tetapi tahun 2007 kasus tertinggi pada bulan Januari dan Februari dan bulan selanjutnya terus menurun seperti tampak pada grafik diatas.

TB Paru

Situasi Penyakit TB Paru di Kabupaten Lampung Selatan sampai tahun 2007, penemuan kasus penderita TB Paru baru ( BTA +) sebesar 780 orang atau sekitar 38%. Angka ini masih dibawah target Nasional yaitu sebesar 70%, walaupun telah ada beberapa puskesmas yang sudah mencapai target bahkan ada yang melebihi (tabel 9).

Perkiraan penderita TB BTA (+) di Propinsi Lampung berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga angka insiden rate meningkat dari 130/100.000 penduduk menjadi 160/100.000 penduduk, sehingga perkiraan penderita TB Paru BTA (+) di Kabupaten Lampung Selatan juga menjadi lebih besar yaitu diperkirakan sebanyak 2.051 orang.

Penemuan kasus penderita BTA (+) di Kabupaten Lampung Selatan secara absolut dari tahun 2003 sampai 2006 terjadi peningkatan yang cukup bermakna, tetapi menurun sedikit pada tahun 2007 sebagai berikut.

GRAFIK 12

Penemuan Penderita TB BTA (+) Kabupaten Lampung Selatan

Tahun 2003 – 2007

Sumber : Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007

DBD

Di Kabupaten Lampung Selatan dalam kurun waktu lima tahun terakhir selalu terjadi kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Tabel 6

KASUS DBD KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2003 – 2007

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP

Tabel diatas menunjukkan terjadi peningkatan kasus DBD yang cukup tajam pada tahun 2007. Kasus DBD yang menyebabkan meninggal dunia dalam tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan sebanyak 3 kasus terjadi diwilayah Puskesmas Kedondong, Merbau Mataram dan Kalianda. Berdasarkan laporan puskesmas kasus meninggal di rumah sakit (RS Wismarini Pringsewu, RSAM dan RS Imanuel). Penderita kasus DBD Lampung Selatan dirawat tersebar di RSUD Kalianda, RSAM, RS Imanuel, RS Advent. Jumlah kasus DBD pada balita tahun 2007 berdasarkan tabel 10 pada lampiran tercatat sejumlah 427 kasus yang kesemuanya ditangani (100%) / atau telah mencapai target 100% penanganan.

Berikut ini grafik rata-rata kasus DBD di Kabupaten Lampung Selatan berdasarkan waktu kejadian tahun 2001-2007.


GRAFIK 13

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007

Berikut ini adalah grafik pola max min kasus DBD di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2001 2006 sbb :

GRAFIK 14

Sumber: Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007

Berdasarkan data yang ada adanya beberapa puskesmas yang termasuk daerah endemis penyakit DBD. Hal ini dikarenakan adanya desa yang muncul kasus DBD dalam tiga tahun terakhir seperti Puskesmas Natar, Hajimena, Tanjung Agung, Bandar Agung, Way Urang, Gedung Tataan, dan Bernung. Selain itu ada beberapa Puskemas masuk strata sporadis penyakit DBD seperti Puskesmas Palas, Bakauheni, Karang Anyar, Tanjung Bintang, Bangunrejo.

Sedangkan untuk mengetahui angka bebas jentik (ABJ) di Kabupaten Lampung Selatan tidak ada data yang pasti hal ini dikarenakan tidak semua puskesmas melakukan kegiatan pemeriksaan jentik berkala (PJB). Sebagai gambaran untuk Puskesmas Penengahan yang telah melakukan Pemeriksaan Jentik Berkala mendapatkan rata-rata ABJ pada 5 desa sebagai berikut :Triwulan I 86,2 %, Triwulan II 76,6 %, Triwulan III 90,2 % dan Triwulan IV 96,2 %.


Diare

Terjadi peningkatan tajam kasus diare di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 yaitu 24.480 kasus untuk semua golongan umur.

GRAFIK 15

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP

Untuk kasus Diare ditemukan tahun 2007 per Puskesmas dapat kita lihat pada grafik di bawah ini :

Grafik 16

Kasus Diare per – Puskesmas

Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2007

Sumber : Evaluasi Program P2PLP

Dari grafik di atas terlihat jumlah kasus diare per puskesmas dengan kasus diare tertinggi di Puskesmas Bandar Agung (1.881 kasus) disusul oleh Puskesmas Tanjung Bintang (1.505 kasus) dan Kedondong (1.285 kasus) sedangkan jumlah kasus diare kabupaten sebesar 22.838 kasus.

Berdasarkan golongan umur, kasus diare yang terjadi pada tahun 2007, yaitu : umur <1 tahun sebanyak 3.423 kasus (14 %), golongan umur 1–4 tahun 7.097 kasus (29 %) dan golongan umur >5 tahun 13.960 kasus (57%). Dari kasus diare seluruhnya sebanyak 24.480 kasus, 10.520 kasus (43%) terjadi pada Balita sebesar dari semua kasus yang ditemukan tahun 2007 (table 10).

Untuk penderita yang diberi oralit sebesar 24.104 penderita atau 98,5%, hal ini menunjukan semakin baik penanganan kasus secara benar. Prosentase penderita yang diberi oralit pada tahun 2007 meningkat dibanding tahun 2006 sebesar 54%.

Namun permasalahan yang dihadapi adalah penemuan kasus diare balita masih dibawah target yaitu sebesar 43% sedangkan targetnya 50% dari semua kasus yang ditemukan, penemuan kasus oleh kader masih rendah yaitu 0,45 % dari seluruh kasus yang ditemukan, selain itu permasalahan yang dihadapi antara lain kelengkapan pelaporan program P2 Diare dari Puskesmas ke Kabupaten belum dikirim tepat waktu dan masih terdapat Puskesmas yang tidak mengirim laporan selama setahun seperti Puskesmas Kota Dalam, ada juga yang tidak lengkap sehingga masih ada kasus yang tidak dilaporkan; Pada bulan Januari – Agustus 2007 terjadi peningkatan kasus Diare yang keluar dari pola maksimal minimal 5 tahun terakhir; Kewaspadaan dini untuk program P2 Diare belum dilaksanakan secara optimal; Belum tersedianya dana yang memadai untuk pelaksanaan Program P2 Diare.

Pneumonia Balita

Sasaran penemuan penderita pneumonia balita Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 adalah sebanyak 12.822 kasus, sedangkan target penemuan kasus sebesar 66% (8.462 kasus). Penderita pneumonia berat dan pneumonia di Kabupaten Lampung Selatan yang ditemukan tahun 2007 sebanyak 501 kasus dengan realisasi penemuan penderita pneumonia 5,9% ( tabel 9).

Bila dilihat dari penemuan kasus untuk Pneumonia dan ISPA non pneumonia terjadi penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2003 – 2007. Untuk kasus ISPA non pneumonia pada tahun 2006 – 2007 terjadi penurunan yang sangat tajam yaitu sebesar 15.727 kasus atau 41%, puncak kasus tertinggi terjadi pada tahun 2005, yaitu sebesar 28.025 kasus, sedikit meningkat dibandingkan tahun 2004. Hal seperti ini dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, apakah faktor pencatatan dan pelaporan atau adanya kesalahan diagnosa yang mustinya masuk pneumonia tetapi dimasukkan ke non pneumonia. Untuk kasus pneumonia yang ditemukan pada tahun 2007 hanya mencakup 4,6% dari semua kasus yang masuk pada program P2 ISPA, jadi sebagian besar yang ditemukan yaitu kasus non pneumonia sebesar 95,4%. Jumlah populasi balita untuk Program P2 ISPA Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sebanyak 128.218 jiwa.

Berdasarkan Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007 untuk angka penemuan kasus pneumonia masih rendah yaitu 5,9% dari target sebesar 66% (pedoman P2 ISPA tahun 2007). Dari 32 puskesmas yang ada, belum ada puskesmas yang mencapai target penemuan kasus pneumonia dari perkiraan kasus yang ada. Hal ini dapat terjadi mengingat kemampuan tenaga kesehatan menegakkan diagnosis kasus pneumonia masih kurang terutama tenaga yang menangani balita di puskesmas. Ditambah belum adanya kader atau tidak aktifnya kader Program P2 ISPA. Selain itu masih kurangnya penyebarluasan informasi dan penyuluhan kepada masyarakat serta tatalaksana pencatatan dan pelaporan puskesmas ke kabupaten belum optimal (hanya 2 puskesmas lengkap pelaporannya) sehingga masih banyak kasus-kasus yang tidak terlaporkan.

Untuk kerjasama lintas program juga masih sangat kurang khususnya dengan kesga yaitu mengenai Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), selain itu pembinaan kabupaten ke puskesmas mengenai ISPA perlu ditingkatkan lagi dan juga adanya dukungan dana yang memadai.

Rabies / GHTR

Selama lima tahun terakhir di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) hampir terjadi setiap tahun.

Tabel 7

JUMLAH KASUS GHTR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2003 – 2007

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2 Rabies

Evaluasi Program P2PLP menyatakan telah terjadi 187 kasus GHPR dengan kasus meninggal 2 orang pada tahun 2007.

Dalam penanganan kasus yang terjadi selain pengobatan diunit puskesmas juga ada yang mendapat layanan di Rumah Sakit Umum (rujukan puskesmas). Untuk pengobatan kasus GHPR hampir 95% mendapat suntikan vaksin anti rabies (VAR).

Kusta
Bila dilihat dari tren 5 tahun terakhir terjadi peningkatan penemuan kasus dari tahun 2003 (16 kasus) ke tahun 2004 (34 kasus) serta di tahun 2005 (41) dan kembali menurun pada tahun 2006 (34 kasus) serta tahun 2007 (32 kasus).

Persentase RFT (penderita kusta selesai berobat) di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 adalah 45,28%. Angka ini masih jauh dari target 90% (tabel 12).

GRAFIK 17

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007

Pada tahun 2007 ditemukan kasus baru kusta pada 14 Puskesmas sebanyak 32 kasus Tipe MB 22 kasus, dan Tipe PB 10 kasus, tersebar di 16 Puskesmas dengan kasus tertinggi ada di Puskesmas Sidoharjo, Bandar Agung masing-masing 9 kasus disusul Puskesmas Bangunrejo, Tanjung Agung masing-masing 7 kasus selanjutnya Puskesmas Tanjung Bintang 4 kasus.

Bila dilihat kasus secara Kabupaten memang kasus kusta masih rendah tetapi ada daerah-daerah yang yang menjadi kantong terjadinya kasus kusta, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini :

GRAFIK 18

Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP Tahun 2007

TN

Di Lampung Selatan Kasus TN sepanjang tahun dari tahun 2000 sd 2007 selalu ada setiap tahunnya. Tetanus Neonatorum (TN) adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Clostridium tetani dengan gejala yang sangat khas adalah kejang dengan keadaan mulut mencucu seperti mulut ikan.

Grafik 19

Selama empat tahun terakhir di wilayah Lampung Selatan, yaitu tahun 2007 terjadi penurunan kasus TN terendah yaitu hanya 1 (satu) kasus di puskesmas Hanura, Kecamatan Padang Cermin. Kasus meninggal ditemukan oleh perawat yaitu pada neonatus berumur 7 hari.

Kasus tersangka TN adalah kematian neonatus umur 3-28 hari yang tidak diketahui penyebabnya, atau kasus kematian TN yang dilaporkan oleh bukan dokter atau bukan petugas kesehatan terlatih.

Campak

Kasus Campak di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sejumlah 199 kasus) tersebar hampir di seluruh wilayah, dengan kasus tertinggi di wilayah kerja puskesmas Titiwangi (33 kasus) dan puskesmas Kalianda (30 kasus).

Polio

Tidak ditemukan kasus polio di wilayah Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 (Tabel 14).

Hepatitis Klinis

Di wilayah Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 ditemukan 249 kasus hepatitis klinis (tabel 14), yang tersebar di 14 wilayah puskesmas. Kasus tertinggi sebanyak 79 kasus terjadi di wilayah puskesmas Way Urang dan 29 kasus di puskesmas Bandar Agung.

HIV

Pada tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan untuk kasus HIV/ AIDS maupun IMS tidak ditemukan kasus. (Tabel 10)

Filaria

Tidak ditemukan kasus penyakit filaria di wilayah kerja Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 (tabel 13).

Juni 12, 2008 at 3:56 am Tinggalkan Komentar

Pola Penyakit

Kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 dapat dicermati dari pola penyakit penderita yang berkunjung ke sarana kesehatan yaitu puskesmas maupun sarana kesehatan swasta.

Berdasarkan Data SP2TP yaitu Laporan Data Kesakitan (LB1), didapat data 10 (sepuluh) besar penyakit yang mendominasi di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007.

Tabel 5

10 (SEPULUH) BESAR PENYAKIT

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007

Sumber : Data SP2TP LB1 Tahun 2007

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa penyakit infeksi masih merupakan penyakit terbanyak yang ditemukan pada pasien yang berkunjung ke puskesmas dan sarana kesehatan yang ada. Walaupun demikian penyakit tidak menular juga mulai masuk dalam 10 besar penyakit seperti gastritis (11,62%) di peringkat lima besar, dan hipertensi sebanyak 7,20%.

ISPA menduduki peringkat pertama pada 10 besar penyakit tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan yaitu 27,75%. Angka ini mencakup kasus ISPA yang terjadi pada semua golongan umur yang bersumber dari data SP2TP kabupaten.

Juni 12, 2008 at 3:17 am Tinggalkan Komentar

Kasus Kematian Bayi dan Balita

Kasus Kematian Bayi

Angka kematian bayi Kabupaten Lampung Selatan berdasarkan hasil Susenas Propinsi Lampung Tahun 2002, untuk laki-laki sebesar 46/1000 kelahiran hidup, dan untuk perempuan sebesar 45/ 1000 kelahiran hidup, total kematian bayi sebesar 40/1.000 kelahiran hidup. Untuk target Indikator IIS 2010 adalah 40 per 1.000 kematian bayi.

Kasus kematian bayi di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2003 meningkat dari 204 bayi per 28.526 kh dan kemudian meningkat menjadi 236 bayi pada tahun 2004. Kemudian pada tahun 2005 menjadi 238 kasus, tahun 2006 turun menjadi 227 kasus, kemudian kembali meningkat menjadi 248 kasus di tahun 2007.

GRAFIK 5

TREND KASUS KEMATIAN BAYI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

TAHUN 2003 - 2007

Sumber: Subdin Yankes Tahun 2007

Dari tabel di atas terlihat kasus kematian bayi di Kabupaten Lampung Selatan selama 5 tahun sangat fluktuatif, namun rata- rata berkisar lebih dari 200 kasus per tahunnya.

Penyebab kematian pada bayi di tahun 2007 terbanyak disebabkan karena lahir mati (90 kasus) pada masa perinatal dan karena asfiksia (84 kasus) pada masa neonatal, dan sisanya sebanyak 74 kasus terjadi pada masa bayi

GRAFIK 6

PENYEBAB KEMATIAN BAYI

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007

Grafik di atas menunjukkan penyebab kematian bayi berdasarkan semua golongan umur, dimana penyebab kematian tertinggi adalah lahir mati sebanyak 36% (90 kasus), asfixia 34% (84 kasus) dan BBLR 15% (37 kasus).

Dalam upaya menghindari terjadinya kasus lahir mati, asfixia dan kelainan maupun gangguan kesehatan pada bayi maka upaya peningkatan pelayanan ANC dari bidan maupun persalinan didampingi tenaga kesehatan perlu lebih mendapatkan perhatian. Juga peran serta kader kesehatan untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya ke petugas kesehatan maupun bidan, penyuluhan kepada masyarakat untuk lebih memperhatikan ibu hamil baik perlakuan, motivasi dan intake gizi yang ideal.

GRAFIK 7

PERSENTASE KASUS KEMATIAN BAYI PER GOLONGAN UMUR

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007:

Berdasarkan golongan umur, kasus kematian terbanyak adalah pada masa perinatal yaitu antara 0-7 hari. Untuk melihat distribusi penyebab kematian bayi per puskesmas terlampir pada tabel 7a.

GRAFIK 8

PENYEBAB KEMATIAN BAYI PER GOLONGAN UMUR

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007

TABEL 4

PENYEBAB KEMATIAN BAYI (1-11 bulan)

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007

Sumber: Laporan Hasil Evaluasi Subdin Yankes Tahun 2007 :

Tabel di atas menunjukkan kematian di luar masa neonatal dan perinatal. Untuk penyebab lain-lain kasus kematian bayi dapat dijelaskan banyak faktor misalnya plasenta previa, ikterus, dan faktor obstetri lainnya.

GRAFIK 9

PERSENTASE PENYEBAB KEMATIAN MASA BAYI

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2007

Kasus Kematian Balita

Target IIS 2010 sebanyak 58/1.000 kelahiran hidup. Data kasus kematian balita di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007 tidak terjadi kematian pada balita (0 kasus). Sementara 2 tahun sebelumnya masing-masing terjadi 1 kasus kematian balita.

Juni 11, 2008 at 4:50 am Tinggalkan Komentar


SELAMAT DATANG

Ass ..... Selamat Datang Web Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan ini merupakan Langkah awal dari Situs Web Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan yang masih dalam proses pembuatan ,terima kasih diucapkan buat Seluruh Pihak yang Telah mendukung sehingga Situs Web Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan dapat Online, Kami persilahkan untuk mempergunakan data yang tersedia, Kami juga mohon dukungan kritik dan saran yang membangun dari rekan - rekan untuk mencapai kesempurnaan dalam penyajian informasi Kesehatan yang bermanfaat bagi Kami, Kita semua dan Masyarakat. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan KAMI-MOHON-MAAF, Semoga dimaklumi Pengelola SIK Lampung Selatan

TANGGALAN

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Image and video hosting by TinyPic

FORUM DISKUSI KESEHATAN

Image and video hosting by TinyPic

GOUP FACEBOOK DINKES LAMSEL

Image and video hosting by TinyPic

Status

  • 200,690 Kunjungan
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Mendapatkan penghasilan Online


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.