Archive for Juni, 2008
PEMBIAYAAN
Pembiayaan bidang kesehatan merupakan sumbangan yang sangat penting untuk dapat berjalannya semua kegiatan. Oleh karena itu hal yang terpenting dalam hal pembiayaan adalah bagaimana memanfaatkan anggaran yang tersedia seoptimal mungkin dan seefesien mungkin.
Pembiayaan bidang kesehatan berasal dari beberapa sumber misalnya APBD (APBD kabupaten dan propinsi), APBN serta Pinjaman atau hibah. Alokasi anggaran dapat melalui sektor kesehatan maupun non kesehatan yang tujuannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayahnya.
DIAGRAM 57
Dengan total APBD tahun 2007 sejumlah Rp 923.784.350.066,- ; bidang kesehatan mendapat porsi 3,96% saja, yaitu sebesar Rp. 51.186.928.650,- yang tersebar di berbagai instansi.
Dari diagram di atas terlihat bahwa pembiayaan kesehatan terbesar bersumber dari APBD Kabupaten yaitu sebesar 47,78 %. Sedangkan prosentase anggaran kesehatan terhadap total APBD Kabupaten Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2007 adalah 3,96%.
Jika dilihat berdasarkan anggaran kesehatan per kapita, maka untuk Kabupaten Lampung Selatan, anggaran kesehatan per kapita sebesar 736, 53.
Proporsi APBD kesehatan terhadap total APBD Kabupaten mengalami fluktuasi persentase sepanjang kurun waktu enam tahun terakhir. Dua tahun terakhir persentase APBD kesehatan sangat menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Data memperlihatkan Tahun 2007 adalah persentase terkecil (3,96%) setelah pernah mencapai 6,75 % di tahun 2005, walaupun secara nominal terjadi kenaikan anggaran.
Diagram 58
Komitmen pemerintah daerah terhadap sektor kesehatan dapat dilihat dari proporsi alokasi anggaran APBD.
Add comment Juni 23, 2008
SARANA DAN PRASARANA
Selanjutnya bagian yang juga tidak bisa dipisahkan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat adalah sarana dan prasarana. Secara rinci di bawah ini diuraikan tentang keberadaan sarana dan prasarana yang ada pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007. Tabel berikut memperlihatkan jumlah sarana kesehatan yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan sebagai berikut.
Tabel 16
KONDISI SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2007
Dengan sarana sedemikian yang dimiliki, Kabupaten Lampung Selatan khususnya Dinas Kesehatan telah melaksanakan penyelenggaraan tugas bidang kesehatan.
TABEL 17
SARANA DAN PRASARANA TAHUN 2006
Dilihat dari tabel diatas, terlihat ada beberapa sarana dan prasarana yang mencukupi dan ada juga tidak mencukupi. Keadaan tersebut secara bertahap akan diusahakan dapat terpenuhi
Dalam penenggulangan strategi DOTS komponen pemeriksaan specimen dahak dengan mokroskopis adalah merupakan kunci utama penengakan diagnosis, akan tetapi di Kabupaten Lampung selatan untuk puskesmas PRM dan PPM semua telah memiliki mikroskop akan tetapi beberapa puskesmas belum memiliki mikroskop yang standar sesuai dengan rekomendasi WHO
Add comment Juni 19, 2008
SUMBER DAYA TENAGA
Sumber daya ketenagaan merupakan bagian penting dalam menjalankan kegiatan atau program pada semua unit pelayanan baik langsung maupun tidak langsung. Peningkatan derajat kesehatan, yang di tandai dengan menurunnya angka kematian ibu dan bayi, menurunnya angka kesakitan pada masyarakat dan tidak ditemukannya masalah gizi buruk dimasyarakat, tentunya sangat dipengaruhi oleh sumber daya ketenagaan, baik secara kuantitas maupun kualitas.
Keadaan ketenagaan khususnya tenaga kesehatan di Kabupaten Lampung Selatan perlu diperhatikan baik secara pengadaan maupun pendistribusian. Seperti diketahui Kabupaten ini secara geografi dan topografi merupakan wilayah yang kurang menguntungkan bagi tenaga – tenaga yang notabene memilih daerah perkotaan saja. Hal ini yang menyebabkan terjadinya penumpukan tenaga di beberapa unit pelayanan tertentu dan pada sisi lain masih ada unit-unit pelayanan yang mengalami kekurangan tenaga.
Sumber : Sie Diklat
Selain keberadaan tenaga kesehatan, namun yang tidak kalah penting untuk membantu melaksanakan pelayanan, diperlukan juga tenaga non kesehatan. Perbandingan jumlah tenaga kesehatan dan non kesehatan dapat di lihat pada grafik di bawah ini :
DIAGRAM 55
Berdasarkan rasio atau perbandingan jumlah tenaga kesehatan dengan jumlah penduduk sebanyak 100.000 penduduk , dapat terlihat pada grafik dibawah ini:
DIAGRAM 56
Add comment Juni 19, 2008
Pelayanan Gakin (JAMKESMAS)
Di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 sejumlah 47,67% penduduk Lampung Selatan masuk kriteria gakin (639.432 jiwa). Dengan angka kunjungan mencapai 95,62% (tabel 37), jumlah KK miskin yang telah menjadi peserta JAMKESMAS tahun 2007 adalah 611.043 KK.
Pelayanan JAMKESMAS diselenggarakan berdasarkan UUD 1945 Pasal 28 dan UU Nomor 23/ 1992 tentang Kesehatan bahwa setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya dan negara bertanggung jawab mengatur agar terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.
Penyelenggaraan JAMKESMAS secara bertujuan meningkatkan akses dan mutu yankes terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efesien.
Pelayanan JAMKESMAS yang diberikan antara lain pelayanan kesehatan rawat jalan dan rawat inap, serta rujukan rawat jalan maupun rawat inap tingkat lanjutan dan pelayanan kegawatdaruratan.
Add comment Juni 19, 2008
Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Khusus (Matra)
Kesehatan Matra merupakan salah satu program kesehatan pada Subdin P2PLP Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan, dan ruang lingkup kegiataannya meliputi :
a. Program Kesehatan Haji
Program Kesehatan Haji secara umum bertujuan meningkatkan kondisi kesehatan calon/jemaah haji Indonesia serta terbebasnya masyarakat Indonesia/Internasional dari transmisi penyakit menular yang mungkin terbawa keluar/masuk oleh calon/jemaah haji Indonesia.
Sasaran program kesehatan haji Kabupaten Lampung Selatan adalah calon/jemaah Lampung Selatan sejak terdaftar sampai kembali dari Arab Saudi dan petugas/tenaga kesehatan.
Target program kesehatan Haji yaitu : Puskesmas yang melaksanakan pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji dapat melaksanakan pemeriksaan, rujukan dan pembinaan kesehatan sesuai dengan standar dan prosedur; cakupan pemeriksaan calon jemaah haji 100%; cakupan tes kehamilan calon jemaah haji wanita PUS 100%; cakupan imunisasi meningitis meningokokus tetravalent dengan IP 9 100 %; cakupan pelacakan K3JH 100%.
Hasil cakupan pemeriksaan kesehatan haji Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 mencapai angka 83,7%. Cakupan tes kehamilan terhadap calon jemaah haji wanita (WUS) sebanyak calon jemaah (100%); cakupan imunisasi meningitis meningokokus kepada 516 calon jemaah; cakupan pelacakan K3JH 100%.
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP
Pemeriksaan kesehatan haji I di wilayah Kabupaten Lampung Selatan sepanjang tahun 2007 dilaksanakan di tiga (3) puskesmas yaitu puskesmas Kalianda sebanyak 382 calon jemaah, Gedong tataan sebanyak 15 calon jemaah dan Puskesmas Natar sebanyak 35 calon jemaah.
Pemeriksaan kesehatan haji ke II dilaksanakan di Kabupaten terhadap 432 calon jemaah haji pada saat manasik haji dan 2 calon jemaah meninggal dunia sebelum melakukan manasik haji.
Jumlah calon jemaah haji pria 224 orang dan jumlah wanita sebanyak 292 orang. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap calon jemaah haji diperoleh hasil diagnosis yaitu sebagai berikut, sehat sejumlah 327 orang, Lanjut usia ada 115 orang, yang menderita hypertensi ada 67 orang, gastritis ada 83 orang, Hipotensi ada 8 orang, epilepsi ada 1 orang, yang mengidap rematik ada 59 orang, yang mengidap alergi ada 27 orang, yang asma bronkhitis ada 24 orang, serta Penderita Diabetes Mellitus ada 24 orang. Perlu diketahui bahwa ada beberapa calon jemaah haji yang mengidap lebih dari satu jenis penyakit.
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP
a. Program Kegiatan dalam Situasi Khusus
Program kesehatan dalam situasi khusus pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan dilaksanakan pada even-even sebagai berikut :
1. Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.
2. Festival Krakatau.
3. Musabaqoh Tilawatil Qur’an.
4. Pameran Pembangunan.
5. Hari Besar Nasional.
6. Pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji.
Dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut diatas sangat mungkin mengakibatkan timbulnya masalah kesehatan seperti gangguan fisik, mental dan konflik social bahkan terjadinya gangguan penyakit menular berupa kejadian luar biasa, yang disebabkan perubahan kondisi lingkungan fisik, biologis dan social. Untuk itu diperlukan suatu upaya/program yang dimaksudkan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang mungkin timbul tersebut.
Secara khusus program kegiatan di situasi khusus bertujuan terselenggaranya upaya pelayanan kesehatan dengan baik pada pos P3K yang telah ditentukan; terlayaninya kesehatan masyarakat yang terpajan kondisi kesehatannya; terbinanya kerjasama lintas program dan lintas sector dengan instansi terkait seperti Kepolisian, Dinas Perhubungan, Kantor Kesehatan Pelabuhan, PMI dan lain-lainnya.
Adapun hasil kegiatan tahun 2007 terdapat 9 (sembilan) posko kesehatan yaitu, Posko Pelabuhan Bakauheni, Posko Simpang Ketapang, Posko Merak Belantung, Posko THR Pasir Putih, Posko Pasar Natar, Posko Bundaran Hajimena, Posko Tanjung Bintang, Posko Gedung Tataan, dan Posko Hanura. Dari data yang dihimpun selama penyelenggaraan pelayanan kesehatan P3K hari raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru 2007 diketahui terdapat 9 orang korban kecelakaan lalu lintas dimana 5 korban meninggal dunia, 4 korban dirujuk ke puskesmas/rumah sakit.
b. Program Penanggulangan Bencana
Hasil Pelaksanaan Program Penanggulangan Bencana di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2007 telah terbentuk Tim Sar Kabupaten dalam penanggulangan bencana. Jumlah kejadian bencana alam selama tahun 2007 yaitu 17 kejadian (Kebakaran, Angin Puting Beliung/Angin Topan, Banjir, Hujan Debu, Gelombang Pasang dll) yang menimbulkan 703 rumah rusak dan 12 sarana umum, sedangkan jumlah kejadian bencana yang terjadi selama tahun 2006 yaitu sebanyak 7 kejadian (bencana banjir, angin puting beliung, dan gempa bumi) walaupun dari beberapa kejadian bencana alam tersebut tidak ada korban jiwa tapi menimbulkan kerusakan pada rumah penduduk yaitu sebanyak 495 rumah.
Secara umum penanganan bencana alam tidak mengalami hambatan karena baik sarana, prasarana, dan sumber daya manusia yang ada cukup memadai hanya saja perlu peningkatan keterampilan petugas dalam menghadapi kejadian bencana.
Dari kejadian diatas telah diberikan pelayanan kesehatan melalui puskesmas terdekat terutama untuk diwilayah kecamatan rajabasa telah dilakukan pelayanan kesehatan dan pemberian 2000 masker kepada masyarakat/penduduk yang terkena bencana hujan abu sebagai dampak dari aktifnya anak gunung krakatau.
c. Program Upaya Kesehatan Kerja
Hasil kegiatan Program Upaya Kesehatan Kerja masih terbatas yaitu terbentuknya 1 (satu) pos UKK di Puskesmas Sidoharjo, dilatihnya 5 (lima) orang kader pos UKK; tersedianya data dasar kesehatan kerja yang didapat dari hasil pengumpulan data dasar kesehatan kerja diwilayah puskesmas Sidoharjo.
Sedangkan untuk tabel 38 mengenai persentase pelayanan kesehatan kerja pada pekerja formal untuk wilayah kabupaten, di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, data yang dimaksud tidak tersedia (target 50%).
Add comment Juni 19, 2008
Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Secara ideal angka ketersediaan obat adalah 120% dengan perincian 100% dipergunakan untuk keperluan dan sisanya sebanyak 20% adalah untuk cadangan misalnya di situasi khusus oleh karena adanya bencana atau wabah. Jumlah cadangan biasanya bervariasi berkisar antara 20% – 50%. Jumlah ini tergantung pada situasi tertentu misalnya saat terjadi wabah ataupun bencana alam.
Tabel 44 dan 45 menunjukkan persentase ketersediaan obat baik generic maupun essensial yaitu 298,56% (> 100%). Jumlah yang melebihi ini pada umumnya adalah karena adanya dropping obat bersumber dari pusat yang tidak sesuai permintaan dan kebutuhan. Namun secara umum jika persentase rata- rata ketersediaan obat mendekati ataupun melebihi 100%, maka diartikan keadaan stok obat cukup aman.
Rata- rata persentase penulisan resep obat di sarana kesehatan baik pemerintah ataupun swasta telah mencapai 93,33% (tabel 46). Dengan perincian di sarana kesehatan pemerintah 98,69% dan di sarana kesehatan swasta 54,07%.
Di sarana kesehatan pemerintah memang dianjurkan untuk menggunakan obat generik, sehingga penulisan resep obat generik di sarana kesehatan pemerintah sudah mencapai target 80%, sedangkan untuk sarana kesehatan swasta persentase masih rendah
Add comment Juni 19, 2008
Pelayanan Pra Usila dan Usila
Di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, Dinas Kesehatan khususnya Program Gizi Kesehatan Masyarakat, memberikan data sebanyak 89.215 penduduk adalah termasuk prausila (45-59 tahun), dari jumlah tersebut 39,25% berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan dan mendapatkan pelayanan kesehatan. Untuk kriteria usila (+ 60 tahun) sebanyak 24.011 (27,22%) dari 88.214 orang usila yang ada.
Pelayanan kesehatan yang diberikan antara lain pelayanan pengobatan dan pemberian vitamin-vitamin dan senam lansia.
Add comment Juni 19, 2008
Perbaikan Gizi Masyarakat
a. Persentase Cakupan Balita dapat Vit.A 2 kali / tahun
Di Kabupaten Lampung Selatan tercatat cakupan bayi, balita yang mendapat pelayanan kesehatan yaitu pemberian Vitamin A 2 kali telah mencapai 77,56% (tabel 16). Angka ini belum mencapai target kabupaten tahun 2007 yaitu 85%.
Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada bayi umur 6-11 bulan dan pada anak umur 12-59 bulan sebanyak 2 kali setahun yaitu di bulan februari dan agustus.
Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita merupakan program rutin Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan yang manfaatnya adalah untuk kesehatan mata dan sebagai suplemen gizi untuk daya tahan tubuh bayi dan balita.
Pada kasus kejadian luar biasa misalnya kejadian kasus gizi buruk (marasmus, kwashiorkor dan marasmic kwashiorkor), campak, pneumonia, diare dan infeksi lainnya, kepada seluruh balita di wilayah tersebut diberikan satu kapsul vitamin A dengan dosis sesuai umur.
b. Persentase Cakupan Bumil dapat 90 Tablet Fe dan Imunisasi TT1 dan TT2
Di Kabupaten Lampung Selatan tercatat cakupan bumil yang mendapat pelayanan kesehatan yaitu pemberian 90 butir tablet besi/ Fe telah mencapai 60,65% (tabel 25). Sementara untuk bumil yang telah mendapatkan imunisasi TT1 dan TT2 telah mencapai 81,38%, namun angka ini masing-masing belum memenuhi target kabupaten tahun 2007 yaitu 85% (table 25).
Pemberian 90 butir tablet besi pada bumil bermanfaat untuk menghindari anemia gizi besi yang sering terjadi di masa kehamilan. Dengan kandungan 2 senyawa yaitu 200 mg ferosus (setara dengan 60 mg besi elemental) dan 0,25 Asam folat yang sangat berfungsi memberikan suplai kebutuhan mineral Fe dan juga untuk membantu proses metabolisme tubuh selama masa kehamilan.
c. Persentase Cakupan Pemberian MP-ASI pada BGM dan Gakin
Di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, Dinas Kesehatan khususnya Program Gizi Kesehatan Masyarakat mencatat bahwa terdapat 2.261 bayi yang masuk kategori BGM gakin, dimana seluruhnya telah mendapatkan pelayanan kesehatan MP-ASI 100% (table 24). Angka ini telah mencapai target kabupaten tahun 2007 yaitu 100%.
Intervensi Pemberian Makan Pendamping ASI ini dilakukan selama 90 hari dengan porsi 100 gr/ hari. Program ini juga merupakan program rutin Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan.
d. Persentase Balita Gizi Buruk Dapat Perawatan
Untuk balita berstatus gizi buruk, Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 khususnya Program Gizi Kesehatan Masyarakat mencatat bahwa terdapat 27 bayi yang masuk kategori gizi buruk (table 24) tersebar di 9 kecamatan. Distribusi kasus gizi buruk tertinggi terdapat di kecamatan Natar sebanyak 10 orang, dan kecamatan Ketibung sebanyak 5 orang. Seluruh bayi gizi buruk ini telah 100% mendapatkan perawatan sesuai standar dan prosedur yang ada.
Gizi buruk adalah suatu keadaan kekurangan zat-zat gizi sampai dengan taraf akut yang menyebabkan seseorang menjadi rentan terhadap infeksi dan serangan penyakit. Keadaan yang berlarut- larut akan menyebabkan komplikasi dan dapat menyebabkan kematian.
1 comment Juni 19, 2008
Pembinaan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar
a. Penyehatan Air
Secara umum Program Penyehatan Air bertujuan untuk meningkatkan kualitas air untuk berbagai kebutuhan dan kehidupan manusia untuk seluruh penduduk baik yang berada di pedesaan maupun di perkotaan dan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam memakai air. Secara khusus program penyehatan air bertujuan meningkatkan cakupan air bersih pada masyarakat dan meningkatkan kualitas air yang aman untuk konsumsi masyarakat.
Kegiatan upaya penyehatan air meliputi : Surveilans kualitas air; Inspeksi Sanitasi Sarana Air Bersih; Pemeriksaan kualitas air; Pembinaan kelompok pemakai air. Kegiatan dilaksanakan dengan strategi terpadu pengawasan, perbaikan dan pembinaan pemakai air.
Target Program Penyehatan Air yang ingin dicapai yaitu :
1. Cakupan air bersih perkotaan 100% dan pedesaan 85%.
2. Memenuhi syarat kimia dan bakteriologis 70%
Kegiatan surveylance kualitas air terdiri dari observasi SAB dan observasi pendduduk yang menggunakan SAB dan bukan SAB. Dari kegiatan tersebut di dapat cakupan SAB terendah ada di wilayah puskesmas Kota Dalam yaitu 25,4% dan tertinggi ada di wilayah puskesmas Bangun Rejo yaitu 92,3%, Rata- rata adalah 66%. Untuk data cakupan SAB seluruh puskesmas wilayah Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, disajikan dalam tabel di bawah ini.
GRAFIK 49
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP
Kegiatan pengawasan kualitas air secara umum bertujuan mengetahui gambaran keadaan sanitasi sarana dan kualitas air sebagai data dasar dan penyediaan informasi pengamanan kualitas air sehingga tersedia rekomendasi tindak lanjut dalam upaya perlindungan pencemaran dan perbaikan kualitas air.Pengawasan kualitas air dilakukan dengan upaya Inspeksi sanitasi sarana air bersih. Hasil dari Inspeksi SAB menunjukkan tingkat risiko pencemaran sebagai berikut :
Tabel 16
TINGKAT RISIKO PENCEMARAN SARANA AIR BERSIH
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2007
Sumber : Evaluasi Program P2PLP
Persentase hasil pemeriksaan kualitas air bersih tahun 2007 di Kabupaten Lampung Selatan sebagai berikut : yang memenuhi syarat sebesar 88,5% dan tidak memenuhi syarat 11,5%. Kualitas bakteriologis air bersih yang memenuhi syarat hanya 18,4% masih dibawah target kualitas bakteriologis sebesar 70%.
Berdasarkan hasil pemeriksaan kualitas air direkomendasikan untuk melakukan upaya perbaikan kualitas yang meliputi perbaikan pada parameter kekeruhan, besi, mangan, dan koliform.
b. Penyehatan Lingkungan Pemukiman
Penyelenggaraan upaya penyehatan lingkungan permukiman, dilaksanakan dengan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup serasi dengan lingkungan dan dapat mewujudkan kualitas lingkungan permukiman yang bebas dari risiko yang membahayakan kesehatan pada berbagai substansi dan komponen lingkungan, yaitu meliputi jamban keluarga, saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan pengelolaan sampah.
Hasil Evaluasi Program Kesehatan Lingkungan tahun 2007 menyatakan persentase sehat untuk rumah mencapai 62,8% ; Jamban 58,2% ; SPAL 49,8%.
GRAFIK 51
Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP
Pada tabel dan grafik diatas menunjukkan bahwa keluarga yang menempati rumah sehat rerata tingkat Kabupaten sebesar 62,8%, keluarga memiliki jamban sehat rerata 58,2%, dan rumah yang memiliki SPAL sehat rerata 49,8%.
Pada lampiran kegiatan pengawasan perumahan. Persentase rumah sehat tertinggi terdapat di Puskesmas Banjar Agung sebesar 99 % dan terendah di Puskesmas Tanjung Bintang sebesar 25 %. Persentase jamban sehat tertinggi terdapat di Puskesmas Padang Cermin dan terendah di Puskesmas Bakauheni, untuk rerata kabupaten 58,2%. Persentase rumah yang memiliki SPAL baru 15,5%, yang memenuhi syarat 49,5%. SPAL sehat tertinggi terdapat di Puskesmas Talang Jawa dan terendah di Puskesmas Trimulyo.
c. Penyehatan Tempat -Tempat Umum (TTU)
Program Penyehatan Tempat-Tempat Umum bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan tenpat-tempat umum dan sarana kemasyarakatan lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan, sehingga dapat melindungi masyarakat dari penularan penyakit, keracunan, kecelakaan, pencemaran lingkungan serta gangguan kesehatan lainnya.
Penyehatan Tempat-Tempat Umum meliputi hotel dan tempat penginapan lain, pasar, kolam renang dan pemandian umum lain, sarana ibadah, sarana angkutan umum, salon kecantikan, bar dan tempat hiburan lainnya. Selain itu juga dilakukan upaya pembinanan institusi yang meliputi : Rumah Sakit dan sarana kesehatan lain, sarana pendidikan, dan perkantoran.
Target Program Penyehatan Tempat-Tempat Umum yaitu: memenuhi syarat kesehatan 80% dan Institusi terbina 60%
Sarana kesehatan di Lampung Selatan sejumlah 301 buah, terdiri dari rumah sakit, puskesmas, peskesmas pembantu, dan sara kesehatan lainnya. Sarana penddikan meliputi sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menegah umum sejumlah 1.456 telah dilakukan pembinaan sebanyak 798 (50%). Target belum tercapai secara maksimal dikarenakan banyaknya sarana pendidikan, sedangkan petugas sanitasi tidak pernah bertambah yang berakibat pada terlalu berat tugas sanitarian di wilayah puskesmas. sarana institusi perkantoran sebanyak 328 telah dilakukan pembinaan kesehatan lingkungan sebanyak 274 (75%), sarana institusi lainnya yaitu pondok pesantren. Sarana ini sejumlah 29 telah dibina sejumlah 23 (87%). Secara akumulasi sarana institusi sejumlah 2.126 yang telah dibina sejumlah 1.347 sebesar 59% target belum terlampaui.
d. Penyehatan Tempat Pengelola Makanan (TPM)
Secara umum penyehatan TPM bertujuan untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan terhadap tempat penyehatan makanan & minuman, kesiapsiagaan dan penanggulangan KLB keracunan, kewaspadaan dini serta penyakit bawaan makanan.
Target program TPM memenuhi syarat sehat sebesar 75 % dengan upaya kegiatan antara lain melaksanakan pengawasan higiene dan sanitasi TPM pada restoran, rumah makan, jasa boga, industri rumah tangga, dan depot air minum isi ulang.
Rumah makan di Lampung Selatan Tahun 2007 sejumlah 277 diawasi atau dperiksa kesehatan lingkungan meliputi higien dan sanitasi sejumlah 160 unit, dengan hasil rumah makan yang memenuhi sayart sehat dengan indikator skor 70% sejumlah123 atau sekitar 71%. Keterkaitan dengan target sebesar 72,5%.
e. Klinik Sanitasi
Secara umum klinik sanitasi bertujuan untuk meningkatmya derajat kesehatan masyarakat melalui upaya preventif, kuratif dan promotif yang dilakukan secara terpadu, terarah dan terus menerus di puskesmas.
Pelayanan klinik sanitasi dimaksudkan untuk mencegah, memulihkan dan memperbaiki lingkungan guna menurunkan angka penyakit berbasis lingkungan meliputi malaria, DBD, campak, TB paru, ISPA, kecacingan, penyakit kulit/gatal-gatal, diare, keracunan makanan dan keluhan akibat lingkungan buruk/ akibat kerja. Klinik sanitasi perlu diwujudkan dan dikembangkan di puskesmas.
Target
1. Lingkungan sehat
a. KK penghuni rumah sehat 90%
b. Memiliki persadiaan air bersih 94%
c. Memiliki jamban sehat 86%
d. Angka bebas jentik nyamuk 90%
2. Perilaku sehat
a. Olah raga teratur 50%
b. Tidak merokok 90%
c. Perilaku hidup bersih dan sehat 50%
Terjadi peningkatan pelayanan klinik sanitasi di jumlah puskesmas. Kegiatan klinik sanitasi pada tahun 2006 dilaksanakan oleh 10 puskesmas meningkat pada tahun 2007 menjadi 11 puskesmas.
5 comments Juni 19, 2008









































